Pengalaman Penyiraman Air Keras yang Mengguncang Novel Baswedan
Seorang mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, kembali mengungkap pengalamannya saat menjadi korban penyiraman air keras pada 11 April 2017. Peristiwa ini kembali menarik perhatian publik setelah munculnya kasus serupa yang menimpa aktivis Andrie Yunus dalam beberapa waktu terakhir.
Novel mengingat kembali detik-detik saat ia menunaikan salat subuh di dekat rumahnya. Ia menyebut bahwa insiden tersebut tidak terjadi secara spontan, melainkan didahului oleh proses pengamatan dan pembuntutan oleh pelaku. Menurutnya, serangan itu merupakan bagian dari rencana yang matang, bukan tindakan sembarangan.
Beberapa kali sebelum kejadian, Novel mengalami ancaman, termasuk percobaan penabrakan saat berkendara menuju kantor. Ia menjelaskan bahwa penyerangan tidak terjadi begitu saja, melainkan disertai dengan pengamatan dan pembuntutan sebelumnya. Hal ini dibeberkannya dalam sebuah podcast di YouTube yang dikutip pada 11 April 2026.
Menurut Novel, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan pola serangan yang terencana. Ia mengaitkannya dengan aktivitasnya sebagai penyidik KPK yang menangani berbagai kasus besar. Serangan tersebut, menurut dia, tidak dapat dipisahkan dari konteks pemberantasan korupsi yang sedang ia jalankan saat itu.
Saat insiden terjadi, dua orang tak dikenal mendekati dirinya dari belakang ketika ia berjalan pelan sepulang salat subuh. Salah satu pelaku kemudian menyiramkan cairan ke arah wajahnya dari jarak dekat sebelum melarikan diri dengan sepeda motor. Dalam kondisi mata yang tidak dapat melihat, Novel mengaku tidak mengejar pelaku meski sempat memiliki kesempatan. Ia memilih segera mencari sumber air untuk menetralisir cairan kimia yang mengenai wajahnya.
Ia kemudian berteriak meminta bantuan warga sekitar sebelum diarahkan ke tempat wudu di masjid terdekat untuk membilas wajahnya dengan air bersih. “Saya tahu harus segera ditolong. Saya langsung mencari air untuk membilas,” ujar dia.
Setelah itu, ia segera dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading sebelum dirujuk ke Jakarta Eye Center dan menjalani perawatan lanjutan di Singapura. Novel mengatakan, tindakan pertama berupa pembilasan dengan air bersih menjadi langkah paling krusial untuk mengurangi dampak kerusakan akibat cairan korosif.
Ia juga menyinggung respons penanganan kasus yang menurut dia tidak berjalan optimal. Wacana pembentukan tim pencari fakta saat itu, kata dia, tidak menghasilkan pengungkapan yang memadai sehingga proses hukum berlangsung lama.
Novel turut menyoroti munculnya berbagai narasi yang menyudutkan korban, termasuk dugaan bahwa peristiwa tersebut direkayasa. Ia menyebut fenomena itu sebagai bagian dari upaya penggiringan opini yang kerap muncul dalam kasus-kasus besar yang melibatkan kepentingan tertentu.
Di tengah mencuatnya kasus serupa yang menimpa Andrie Yunus, Novel menilai pentingnya pengungkapan menyeluruh terhadap auktor intelektualis di balik serangan terhadap aktivis maupun aparat penegak hukum. Ia menekankan perlunya mekanisme independen untuk memastikan proses hukum berjalan transparan.
“Kalau tidak ada kemauan, akan sulit terungkap. Tapi kalau ada kemauan, tidak ada yang mustahil,” kata dia.
Kasus penyiraman air keras terhadap Novel pada 2017 sendiri telah berujung pada vonis terhadap dua pelaku lapangan dengan hukuman ringan. Namun hingga kini, publik masih mempertanyakan siapa auktor intelektualis di balik serangan tersebut, yang kembali menjadi perbincangan seiring munculnya kasus-kasus serupa terhadap aktivis antikorupsi.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”










