Dampak Penutupan 11 Dapur SPPG di Kota Tarakan
Hingga saat ini, terdapat 11 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Namun, sebanyak 11 unit tersebut kini ditutup sementara akibat masalah terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), karena dinilai tidak memenuhi standar. Penutupan ini menyebabkan dampak signifikan terhadap layanan makan bergizi gratis (MBG) yang diberikan kepada pelajar dan masyarakat lainnya.
Program MBG merupakan salah satu program andalan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang bertujuan memberikan makanan bergizi secara gratis kepada pelajar di seluruh Indonesia. Dengan penutupan 11 SPPG tersebut, banyak sekolah di Tarakan dan siswanya kehilangan akses terhadap layanan MBG.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, menjelaskan bahwa akibat penutupan SPPG ini, cukup banyak sekolah yang tidak bisa mendistribusikan MBG. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, yang diperoleh dari Korwil SPPG Tarakan, total 85 sekolah, 87 posyandu, serta sekitar 28.243 penerima manfaat—termasuk siswa, guru, tenaga kependidikan, ibu hamil, balita, dan PIC—tidak lagi menerima layanan MBG.
Penutupan 11 SPPG ini terjadi setelah adanya surat dari Badan Garansi Nasional (BGN) yang menyampaikan penghentian sementara operasional SPPG di Tarakan. Meski begitu, saat ini dampaknya belum terasa sangat mengganggu, karena hanya kelas 9 SMP dan kelas 6 SD yang sedang aktif melakukan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Nanti di tanggal 17 baru normal pembelajaran. Tapi bagi sekolah-sekolah yang mengadakan TKA itu cuma ada 2 hari atau 3 hari. Nanti anak-anak kembali lagi. Kalau MBG yang jalan tetap ada, kecuali yang memang di setop sementara,” jelas Tamrin Toha.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya sudah mendapatkan informasi sebelumnya terkait penutupan 11 SPPG tersebut. “Saya memang sempat baca itu ya, ada beberapa sekolah. Yang pemberhentian SPBG itu mulai 31 Maret ya. Sebenarnya kalau Kaltara itu kan ada 18 ya, sementara itu Tarakan 11 dapur,” ujarnya.
Sebagai contoh, dapur SPPG Juata Kerikil telah menurunkan jumlah sasaran penerima manfaat. Awalnya, jumlahnya mencapai 3.000 orang, namun sekarang turun menjadi 2.000 atau bahkan 1.000. Orang tua dan siswa mulai mempertanyakan hal ini, sehingga pihak sekolah dan dinas pendidikan memberikan pemahaman bahwa penutupan ini dilakukan sesuai ketentuan BGN.
Tamrin Toha merinci lebih lanjut bahwa dari total 11 SPPG yang ditutup, terdapat:
- Kecamatan Tarakan Barat: 2 SPPG ditutup, 14 sekolah dan 6 posyandu tidak dapat MBG dengan total 3.979 penerima.
- Kecamatan Tarakan Tengah: 6 SPPG ditutup, 45 sekolah dan 50 posyandu tidak dapat MBG dengan total 16.336 penerima.
- Kecamatan Tarakan Utara: 2 SPPG ditutup, 22 sekolah dan 27 posyandu tidak dapat MBG dengan total 5.887 penerima.
- Kecamatan Tarakan Timur: 1 SPPG ditutup, 4 sekolah dan 4 posyandu tidak dapat MBG dengan total 2.041 penerima.
Dengan penutupan ini, pemerintah dan instansi terkait berupaya untuk segera menyelesaikan masalah IPAL agar SPPG dapat kembali beroperasi dan melayani masyarakat secara optimal.












