Bulan Terus Berjauhan dari Bumi
Bulan semakin menjauh dari Bumi sekitar 1,5 inci (3,8 sentimeter) setiap tahun. Jarak antara Bumi dan Bulan tidak selalu tetap karena orbitnya yang berbentuk elips. Pada rata-ratanya, jarak ini mencapai sekitar 239.000 mil (385.000 km), namun dapat berubah hingga sekitar 12.400 mil (20.000 km) saat Bulan mengorbit Bumi.
Perubahan jarak ini menyebabkan fenomena seperti supermoon, di mana Bulan terlihat sedikit lebih besar daripada biasanya. Para ilmuwan menggunakan teknik pengukuran canggih untuk memantau perubahan jarak ini. Mereka memanfaatkan cermin yang ditempatkan di permukaan Bulan oleh misi luar angkasa dan astronot. Dengan memancarkan laser ke cermin tersebut, mereka bisa mengukur waktu yang dibutuhkan cahaya untuk kembali ke Bumi. Dari data ini, para ilmuwan dapat mengetahui seberapa jauh Bulan dari Bumi dengan akurasi tinggi.
Mengapa Bulan Semakin Jauh?
Penyebab utama jarak Bulan yang semakin bertambah adalah pasang surut. Pasang surut terjadi karena perbedaan gaya gravitasi yang diberikan oleh Bulan pada berbagai bagian Bumi. Gaya gravitasi Bulan lebih kuat di sisi Bumi yang menghadap ke Bulan dibandingkan sisi yang berlawanan. Perbedaan ini menciptakan dua tonjolan air di lautan, satu yang mengarah ke Bulan dan satu yang menjauh dari Bulan.
Saat Bumi berputar, tonjolan-tonjolan ini bergerak dan terus mengarah ke arah Bulan karena tarikan gravitasinya. Di tempat-tempat seperti New York City atau Los Angeles, ketinggian air bisa berubah hingga sekitar 5 kaki akibat efek ini. Namun, tonjolan-air ini tidak sepenuhnya sejajar dengan posisi Bulan. Mereka sedikit “menuntun” Bulan karena Bumi berputar dan menariknya ke depan.
Tonjolan-air ini juga memberikan gaya tarik balik ke arah Bulan. Tonjolan yang lebih dekat ke Bulan tidak hanya menarik Bulan ke pusat Bumi, tetapi juga sedikit ke depan dalam orbitnya. Hal ini mirip dengan dorongan yang diberikan mobil sport saat melewati tikungan. Tarikan ke depan ini menyebabkan Bulan bergerak lebih cepat, sehingga ukuran orbitnya meningkat.
Dampak pada Bumi
Efek peningkatan jarak Bulan terhadap Bumi adalah bahwa rotasi Bumi melambat. Momentum yang diberikan ke Bulan membuat Bumi kehilangan sebagian momentum rotasinya. Akibatnya, durasi satu hari menjadi sedikit lebih panjang. Namun, efek ini sangat kecil: hanya sebesar 0,00000001% per tahun.
Dalam jutaan tahun ke depan, kita masih akan melihat gerhana, pasang surut, dan hari-hari yang berlangsung selama 24 jam. Bulan kemungkinan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, ketika Bumi muda ditabrak oleh protoplanet seukuran Mars. Material yang terlempar membentuk Bulan, dan awalnya lebih dekat ke Bumi.
Apakah Bulan Akan Lepas dari Gravitasi Bumi?
Jika kita mempercepat waktu hingga puluhan miliar tahun ke depan, Bumi dan Bulan mungkin akan terkunci secara pasang surut. Artinya, Bumi akan membutuhkan waktu yang sama untuk berotasi dan Bulan untuk mengorbit. Pada titik ini, Bulan akan berhenti menjauh, dan hanya akan terlihat dari satu sisi Bumi.
Namun, ada dua hal yang akan mencegah ini terjadi. Pertama, dalam sekitar satu miliar tahun, Matahari akan semakin terang dan menguapkan lautan. Tanpa pasang surut, Bulan tidak akan terus menjauh. Kedua, beberapa miliar tahun kemudian, Matahari akan mengembang menjadi raksasa merah, yang kemungkinan akan menghancurkan Bumi dan Bulan.
Meskipun peristiwa-peristiwa ini masih jauh di masa depan, kita tidak perlu khawatir. Saat ini, kita masih bisa menikmati pasang surut di pantai, gerhana matahari, dan bulan yang indah.












