Dari Kolam ke Laut, Dwi Suci Jadi Berlian Muda

Kisah Dwi Suci Ramadhani, Bintang Renang Kalimantan Selatan

Di halaman rumah sederhana di Gang Mufakat, Kelurahan Angsau, Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut, suara percikan air menjadi musik keseharian keluarga Panji Suaka. Di kolam buatan sang ayah itulah, seorang gadis kecil dulu menapaki jejak mimpi. Kini, gadis itu tumbuh menjadi bintang baru olahraga renang Kalimantan Selatan, namanya Dwi Suci Ramadhani.

Gadis kelahiran 22 Oktober 2006 itu baru saja menuntaskan masa SMA di SMAN 1 Pelaihari tahun ini. Namun prestasinya di arena renang sudah jauh melampaui usianya. Pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan 2025 yang digelar di Tanahlaut, Dwi Suci menjadi sorotan dengan torehan enam medali emas sekaligus.

Emas pertama ia rebut di nomor Open Water Swimming (OWS) 2000 meter putri yang digelar di Waduk Gunungmakmur, Kecamatan Takisung, pada 24 Oktober lalu. Lima emas lainnya datang dari nomor renang kolam: 400 meter gaya bebas, 200 meter gaya bebas, 200 meter gaya punggung, dan 100 meter gaya punggung.

“Saya sangat senang sekaligus bangga bisa mengharumkan nama Tanah Laut di bidang olahraga, khususnya renang,” tutur Dwi kepada bpost, Kamis (13/11/2025). Namun kebanggaan itu tak membuatnya cepat puas. “Saya akan tetap konsisten berlatih. Tidak boleh cepat puas, karena masih banyak yang bisa saya capai,” ujarnya.

Anak kedua dari lima bersaudara ini bukan sembarang atlet. Ia adalah buah dari disiplin, cinta, dan pengorbanan. Sejak kecil, ia diasuh langsung oleh ayahnya, Panji Suaka, seorang anggota Polsek Panyipatan yang juga mantan atlet renang berprestasi Tanahlaut. Panji tidak sekadar melatih, tetapi membangun sarana latihan di rumah mereka sendiri. Di halaman depan, berdiri kolam renang sederhana, tempat Dwi dan saudara-saudaranya menghabiskan masa kecil dengan berlatih pagi dan sore.

“Latihan teknik itu paling utama. Tapi tanpa disiplin, semuanya percuma. Dwi biasa tidur paling lambat jam 10 malam dan harus cukup tidur tujuh sampai delapan jam,” ucap Dwi. Menu latihan pun ketat. Tidak boleh minum es, tidak makan gorengan, pedas, atau soft drink. Semua dilakukan demi menjaga performa di air.

Dwi sebenarnya bukan satu-satunya perenang di rumah itu. Dua saudaranya juga turun di Porprov 2025. Sang kakak Diandra Paramitha, kini seorang polwan, masih sempat turun dan menyumbang dua perunggu. Skill renangnya turun karena sibuk dengan tugasnya sehingga tak banyak waktu untuk latihan. Namun dulu, pada berbagai event lomba renang, Diandra juga kerap memborong medali emas.

Adik Dwi yaitu Nabila Aatifa Ramadhani, siswa SMP Swasta Waladun Sholeh, juga seorang atlet belia berprestasi. Pada Porprov XII Kalsel, mampu meraih lima emas dan tiga perunggu. Mereka bertiga seolah meneruskan tradisi keluarga renang Tanahlaut, keluarga yang hidup dari air dalam arti sebenarnya.

“Kami ingin terus membangun, menciptakan atlet Tanahlaut yang bisa bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional,” tutur Panji. Prestasi Dwi tak hanya bersinar di level daerah. Ia pernah mencatat sejarah di Jimbaran, Bali, pada 30 Juni 2024 lalu ketika sukses meraih juara 3 pada nomor OWS 1Km putri pada ajang nasional yang diikuti juga oleh atlet luar negeri.

Performa itu menjadi bukti, mentalnya telah terbentuk kuat, tak gentar dengan ombak, tak gentar dengan lawan. Raihan prestasi tentu berbuah manis. Pemerintah Kabupaten Tala dikenal royal memberi bonus besar kepada atlet berprestasi. Dari hasil jerih payahnya, Dwi sudah mampu membangun kamar besar bergaya perumahan tipe 45 di samping kolam renang rumahnya, hasil dari tabungan bonus yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

“Itu investasi buat masa depan. Sekaligus motivasi bagi Dwi agar tetap rendah hati dan terus berusaha,” kata Panji bangga. Setelah Porprov XII usai, Dwi memilih menunda kuliah. Ia ingin fokus dulu di jalur renang, mungkin juga menjadi pelatih seperti sang ayah.

Soal mimpi ke depan, Panji tak menutup kemungkinan anaknya bisa berlaga di ajang lebih tinggi seperti Sea Games. “Itu impian semua atlet. Kami terus berproses ke arah sana,” katanya. Dari kolam kecil di rumahnya, Dwi Suci Ramadhani membuktikan bahwa besar kecilnya tempat bukanlah batas. Dengan kerja keras, disiplin, dan cinta dari keluarga, mimpi anak daerah pun bisa melesat jauh, menembus batas air dan waktu.

Dwi adalah simbol dedikasi olahraga Tanahlaut. Dari rumah sederhana di Pelaihari, ia mengukir kisah inspiratif tentang kerja keras, keluarga, dan keyakinan bahwa kemauan kuat bisa membuat siapa pun melesat seperti ikan di air.




Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?