Kehidupan Bahar, Bocah 12 Tahun yang Berjuang Menyelamatkan Ayahnya dari Petir
Di tengah kesakitan dan luka bakar yang menghiasi tubuhnya, Bahar tetap menunjukkan ketegaran. Seorang bocah berusia 12 tahun asal Sungailiat, Bangka, kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Luka bakar di kakinya dan lengan kiri membuatnya harus memakai perban, sementara selang infus terpasang di tangan kanannya. Meski sedang dalam kondisi tidak nyaman, matanya masih menunjukkan kekuatan yang tak tergoyahkan.
Kisah duka yang dialami Bahar tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Akhir pekan lalu, Sabtu (6/12), ia berjuang mati-matian untuk menyelamatkan ayahnya, Hasanudin (45), saat kapal mereka disambar petir di Perairan Laut Karang Langkore. Dalam momen tragis tersebut, Bahar mencoba mempertahankan tubuh ayahnya hingga napas terakhir.
Kejadian Tragis Saat Berlayar
Bahar dan ayahnya pergi melaut pada Minggu (30/11) untuk mencari ikan. Mereka rencananya pulang pada Minggu (7/12). Namun, takdir berkata lain. Hanya Bahar yang kembali dalam keadaan selamat, sedangkan ayahnya telah berpulang dan dikebumikan pada sore hari tanggal yang sama.
Menurut pengakuan Bahar, peristiwa memilukan itu terjadi pagi tadi sekira pukul 08.00 WIB. Ia baru saja selesai masak dan hendak makan bersama ayahnya di atas kapal. “Makan sama-sama dengan bapak. Habis tuh aku duduk sebentar ngeliat pancing. Terus bapak mau bakar rokok, tapi enggak jadi, katanya mau tidur aja,” jelas Bahar.
Seketika, kilatan cahaya muncul dan membuat kapal yang mereka naiki berapi. Kata dia, kilatan petir tersebut menyambar tiang tengah kapal dan kemudian merembet ke bagian rumah kapal dan ke tempat bensin. Terkejut, Bahar dan ayahnya pun langsung terjun ke laut karena api sudah membakar tubuh mereka.
Perjuangan Menyelamatkan Ayah
Dalam perjuangan menyelamatkan diri, Bahar dan ayahnya masing-masing sempat berenang menjauhi kapal sekitar 10 meter. Di tengah-tengah perjuangan itu, Bahar mengaku bahwa dirinya masih sempat berbincang dengan sang ayah.
“Kubilang apa sakitnya pak, katanya enggak ada lah, baik-baik aja,” jelasnya. “Terus bapak udah lemes. Ku ambilin kayu supaya bapak naik ke situ, sempatlah naik ke kayu tuh. Terus dilepas kayu tuh gara-gara enggak kuat lagi, kayu tuh kan kecil,” sambungnya.
Setelah itu, dengan tubuh kecilnya, Bahar berjuang berenang dan menggendong tubuh ayahnya yang sudah banyak luka bakar tersebut. Didekapnya dan dipeluknya erat tubuh sang ayah sembari sekuat tenaga berenang kembali menjauhi lokasi kapal sekitar 10 meter.
“Ku pegang punggungnya, ku nyelam, baru ku berenang 10 meter (menjauhi kapal yang terbakar),” jelasnya. Bahar juga berinisiatif memasukkan kaki ayahnya ke dalam celana pendek miliknya agar tidak hanyut akibat arus.
Bantuan Datang dari Nelayan Sekitar
Setelah sekitar 10 menit berjibaku berjuang untuk keselamatan dirinya dan ayahnya, barulah bantuan datang dari nelayan sekitar yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian. “Kami dibawa nelayan Pangkalarang, dibawa pakai kapal dia lah. Terus sempat dijampi, ada kurangnya, bapak ditutup plastik, udah sampai itu aja ku ngelihatnya,” ungkapnya.
Disebutkannya, dari peristiwa itu, baju-baju yang dikenakan sang ayah terbakar dalam kondisi bolong-bolong. “Bajuku utuh. Ku kan cuma luka di kaki aja, sama di sini dikit (menunjuk lengan kiri-red). Yang bapak habis semua baju celana kebakar,” kata Bahar.
Penyelamatan oleh Tim Gabungan
Menurut informasi dari Kasat Polairud Polres Bangka, AKP Arief Fabillah, Hasanudin dan anaknya Bahar pergi melaut untuk memancing ikan menggunakan KM Kirana milik Hasanudin. Sekira pukul 08.00 WIB pagi Sabtu (6/12), petir menyambar KM Kirana.
“Hasanudin dan Bahar sempat terjun ke laut untuk menyelamatkan diri dan Hasanudin masih sempat berteriak meminta tolong,” kata AKP Arief kepada Bangkapos.com. Mendengar teriakan sang ayah, Bahar sempat menolong ayahnya supaya tidak tenggelam. Sementara itu, nelayan lain dari kapal KM Rafa Nelayan berada tak jauh dari lokasi kejadian langsung membantu ayah dan anak tersebut.
Selanjutnya, nelayan tersebut menghubungi temannya agar segera meminta bantuan Sat Polairud Polres Bangka dan Pos Sandar Direktorat Polairud Polda Babel guna meminta bantuan pertolongan. Sekira pukul 09.30 WIB, Tim Gabungan berangkat menuju perairan Karang Langkore untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan. Mereka menggunakan satu unit speed lidah dan satu rubber boat.
Sekira pukul 11.15 WIB, Hasanudin diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia karena luka bakar di sekujur tubuh. Sementara itu, anaknya Bahar juga mengalami luka bakar dan langsung dievakuasi serta kemudian dibawa ke Rumah Sakit Depati Bahrin untuk dilakukan penanganan.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."










