Kehilangan yang Tak Terlalu Diketahui
Pada Senin, 1 Desember 2025, suasana di SDN 33 Koto Alam, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat tidak seperti biasanya. Mardiah ZN, seorang guru dan kepala sekolah, menghadapi kehancuran yang tak terduga. Gedung sekolah yang dulu penuh dengan tawa siswa kini hanya dihiasi oleh sampah dan pintu terkunci. Suara mesin motor yang biasanya berbaur dengan riuh rendah siswa kini hanya dihiasi oleh kicau burung dan deru air sungai.
Sungai yang dekat dengan sekolah itu telah menyebabkan bencana besar, menewaskan ratusan warga dan menghilangkan nyawa sembilan siswa Mardiah. Kepergian mereka meninggalkan luka yang dalam, terutama bagi Mardiah yang masih belum pulih dari kehilangan anaknya dua tahun lalu.
Duka yang Menghimpit
Duka itu kini menjadi ganda, menggumpal dan menyesakkan dada. Sembilan siswa kesayangannya telah tertelan ganasnya arus banjir bandang. Beberapa dari mereka bahkan masih hilang, terperangkap di balik lumpur dan bebatuan. Mardiah terus berdiri di sekolah, matanya menyapu setiap sudut, mencoba memahami realitas bahwa ini adalah sekolah yang pernah ia jadikan sebagai surga tempat ia menabur ilmu dan cita-cita.
Suara-sapaan hangat yang dulu menghiasi pagi-pagi hari kini hanya tersimpan dalam ingatannya. Ia merasa sendiri, menghadapi duka yang tak bisa dibagi. Namun, sebagai pemimpin, ia harus bangkit. Ia tetap datang ke sekolah, mematut diri dengan gincu, merapikan busana, tampil layaknya seorang guru panutan.
Kehilangan Siswa dan Merenggut Suasana
Di ruang guru yang kini terasa luas dan hampa, Mardiah duduk menjalankan tugasnya sebagai Kepala Sekolah SDN 33 Koto Alam. Tidak banyak kata terucap. Komunikasi antar guru terjadi sebatas menyelesaikan tumpukan data dan laporan. Setelah tugas administrasi selesai, mereka terburu-buru pulang, seolah takut terperangkap dalam keheningan yang menyesakkan.
Duka itu menyeluruh, merata dirasakan oleh seluruh jajaran pengajar. Hanya Mardiah dan beberapa guru yang mampu mengunci emosi mereka, membiarkannya terkubur di bawah tanggung jawab. Sebagian besar guru lain, terhuyung-huyung dalam trauma yang masih basah.
Proses belajar mengajar pun kini bertransformasi menjadi sebuah ikhtiar empati. Para siswa tetap menjalankan tugas dari balik gawai, melalui grup WhatsApp, namun dengan satu syarat mutlak, tidak boleh ada paksaan. Jika suasana duka masih menyelimuti, orang tua diimbau untuk tidak memaksakan anak belajar. Hanya jika sang murid siap secara mental, baru proses pembelajaran boleh dilanjutkan.
Ketakutan yang Menjadi Kenyataan
Jauh sebelum tragedi menampar, Mardiah telah dilanda kecemasan yang akut. Lokasi sekolah, yang persis menempel di lereng bukit, selalu menjadi momok dalam benaknya. Hujan deras yang melanda wilayah itu selama sepekan penuh, ditambah berita-berita kelam tentang longsor, banjir, dan jalan amblas yang berseliweran di media sosial, kian mengikis ketenangannya.
Ia segera mengeluarkan arahan tegas, meminta para guru untuk segera memulangkan siswa begitu seluruh proses belajar mengajar rampung. Guru-guru pun diminta menyelesaikan pekerjaan di sekolah secepatnya, atau membawa sisa pekerjaan ke rumah. Tindakan preventif ini ia resmikan melalui surat kepada pengurus komite sekolah, memastikan tidak ada miss komunikasi yang bisa mengorbankan keselamatan.
Semua upaya itu ia lakukan, digerakkan oleh rasa takut akan kehilangan siswa dan kerusakan sekolah. Mengingat SDN 33 Koto Alam adalah sekolah yang sulit mendapat uluran bantuan. Namun, apa yang ia takuti ternyata terjadi dengan magnitudo yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Pagi yang Membawa Realitas Paling Pilu
Sejak Kamis (27 November 2025), hari naas itu, mata Mardiah sulit sekali terpicing. Bencana banjir bandang yang melanda daerah itu, menyisakan ketaktan tersendiri dalam diri Mardiah. Pikirannya berlabuh tanpa henti pada para siswa yang menurut informasi awal tempat tinggalnya terdampak parah. Mayoritas siswa SDN 33 Koto Alam memang berdomisili di Jorong Subarang Aie, episentrum duka yang tersapu banjir bandang.
Pagi hari, saat ia mencoba memastikan situasi dengan mata kepala sendiri, kengerian itu menggerus hatinya. Ia melihat langsung dampak kejam banjir bandang itu, rumah-rumah para siswanya sudah tidak terlihat lagi. Aliran air yang disusul hujan telah membawa serta rasa pilu yang tak terperi. Di hadapannya, hanya tersisa tanah lapang yang rata dan arus cokelat pekat yang mengalir di sungai.
Tiada lagi tanda-tanda kehidupan, tiada lagi bekas pernah berdiri dinding dan atap di sana. “Setelah saya cek, ternyata ada yang berdua, berlima, bahkan satu keluarga bertujuh. Diantaranya ada siswa saya meninggal, hanyut dihantam banjir bandang,” ujarnya, air matanya kini tidak lagi tertahan, mengalir deras membasahi pipi.
Mardiah sempat terbakar kebingungan menghadapi realitas ini. Namun, ia harus cepat. Akhirnya, ia mengambil keputusan krusial, siswa tidak perlu datang ke sekolah, melainkan belajar di rumah. Kesimpulan ini, untungnya, selaras dengan keputusan Pemerintah Kabupaten Agam.
Meskipun banyak orang tua yang bertanya mendesak mengenai jadwal sekolah dan ujian semester yang seharusnya jatuh pada pertengahan Desember, Mardiah memberikan ketenangan. “Ujiannya sudah, tinggal menerima rapor. Nanti menerima rapor kami berkabar,” ujarnya, merujuk pada rencana memberikan nilai rapor dari akumulasi hasil belajar siswa dan nilai mid-semester.
Ia mengakui, dirinya sempat merasa gamang dan ragu atas keputusan yang diambil. Namun, sebagai kepala sekolah, ia harus bijak dan tanggap dalam mengambil keputusan. Tujuannya hanya satu, agar para siswa, guru, dan orang tua dapat menghadapi permasalahan yang monumental ini dengan ketenangan yang tersisa.
Sembilan Bangku Kosong, Mereka Absen Abadi
Jika gedung sekolah hanyalah monumen sunyi, maka daftar absen di ruang guru adalah prasasti duka yang akan selalu menusuk batin Mardiah. Tercatat manis, namun kini tergores pilu dalam data Dinas Pendidikan Kabupaten Agam, nama-nama yang tak akan pernah lagi menyahut panggilan: Navian Aulia Putri, Kanza Rizkia, Ahmad Zulfadli, Anissa Aulya, M Abdul Hamid, Azam Syofyan, Sthevani Amykha, Ahmad Habiby, dan Wahyu Ariadi.
Ini kali pertama ia kehilangan murid sejak menjadi guru 34 tahun silam, tidak satu orang, tapi sembilan orang. Sembilan jiwa mungil yang kini absen untuk selamanya. Bukan karena keperluan keluarga yang mendesak, atau sakit demam yang biasa melanda anak-anak. Mereka ditelan alam, hanyut dihantam amukan banjir bandang yang datang tiba-tiba.
Bersama mereka, terkubur pula mimpi-mimpi yang baru saja mereka rajut, buku-buku yang baru saja mereka sentuh, dan seluruh perlengkapan sekolah yang menjadi jembatan menuju masa depan. “Kalau yang di rumah, mereka sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah hanyut, bersama rumahnya yang rata dengan tanah,” suara Mardiah kembali tercekat, menggambarkan duka yang dialami keluarga-keluarga muridnya.
Tragedi dalam Satu Garis Keturunan
Duka ini kian mendalam dan kompleks. Di antara nama-nama korban tersebut, beberapa jasad masih menjadi misteri. Novian Aulia Putri, siswi kelas 1, dan kakaknya, Annisa Aulya, siswa kelas 3, adalah dua nama yang kini menjadi fokus pencarian tim gabungan. Kedua gadis cilik itu tersapu banjir bersama kakak mereka yang duduk di bangku SMP, dan kedua orang tua mereka yang berusaha melindungi.
Lima anggota keluarga, hilang dalam satu peristiwa tragis. Satu-satunya yang tersisa dari garis keturunan itu hanyalah nenek mereka, yang secara kebetulan selamat karena sedang pergi memasak di rumah saudaranya untuk membantu menyiapkan acara syukuran. Hingga hari ini, jasad Novia dan Annisa masih belum ditemukan. Pencarian terus berlangsung, di bawah guyuran hujan dan tekanan waktu, sebuah pergulatan heroik melawan kehendak alam yang bengis.
Kisah pilu serupa menimpa Ahmad Habiby. Ia bersama dua saudaranya dan kedua orang tuanya turut tersapu ganasnya arus. Jasad Habiby, sama seperti Novian dan Annisa, masih bersembunyi di balik sisa-sisa bencana. Sementara itu, M Abdul Hamid hanya meninggalkan seorang kakak perempuan yang kini harus menanggung beban hidup sebatang kara akibat bencana sore itu.
Mardiah, dengan hati penuh empati, harus bertindak sebagai wali bagi mereka yang tersisa. “Para murid yang sudah kehilangan seluruh keluarganya ini, nanti rapornya akan kami berikan ke ahli waris perempuan,” tuturnya, berkaca-kaca.
Trauma dan Kerentanan yang Meluas
Kepergian sembilan murid tersebut membuat koridor SDN 33 Koto Alam semakin lengang dan tertekan. Dari total 96 siswa, angka itu kini terkikis drastis. Situasi semakin rumit dengan adanya satu murid yang berhasil selamat namun kini terbaring lemah di rumah sakit. Syifa Nurani namanya, korban yang harus menjalani dua kali operasi akibat patah tulang parah. Ia kini harus menjalani hidup baru tanpa kedua orang tuanya, dan akan diasuh oleh kakaknya yang saat kejadian tengah menempuh pendidikan di Padang Panjang.
Syifa selamat secara fisik, namun terluka parah secara batin. Dan bukan berarti sisa murid yang 86 orang lainnya aman sentosa. Mereka adalah korban yang tak terlihat. Gelombang trauma menghantam psikis mereka. Beberapa di antaranya juga mengalami kerusakan fisik pada rumah mereka. Ketidakamanan ini juga merembet ke jajaran guru. Status mereka sebagai pendidik tidak menjadikan mereka kebal dari tragedi.
Ada guru yang hingga saat ini masih bergumul dalam membersihkan puing-puing rumah mereka sendiri, mencoba menyelamatkan sisa-sisa kehidupan dari gempuran lumpur. Kehilangan sembilan siswa ini sangat dirasakan oleh guru kelas akibat mereka setiap hari berinteraksi dengan para murid. Para guru ini yang amat hafal tingkah laku para murid tersebut, teman sebangkunya, posisi duduknya bahkan kebiasaannya. “Tapi saya bilang pada para guru, agar mengiklaskan para murid karena semua mereka yang meninggal dalam keadaan sahid, mudah-mudahan di tempatkan di surga,” ujarnya, meski secara pribadi Mardiah belum mampu menerapkannya.
Senyum Terakhir Novian Aulia Putri
Jika duka kehilangan sembilan murid adalah palu yang menghantam, maka kisah Novian Aulia Putri adalah serpihan tajam yang menusuk relung hati Kepala Sekolah Mardiah. Ia adalah siswi kelas 1 yang wajahnya tercatat sebagai salah satu dari empat murid yang jasadnya hingga kini belum ditemukan, tertutup rapat oleh tanah dan air yang ganas.
Kisah Novian, atau yang akrab disapa Novi, bukan kisah seorang siswi biasa. Sejak hari pertama sekolah di bulan Juli hingga menjelang akhir November, Novi menunjukkan penolakan halus terhadap rutinitas belajar. Ia tidak pernah mau memasuki ruang kelasnya, kecuali jika dirangkul erat dan ditemani bundanya. Ia adalah simbol dari kerentanan jiwa anak-anak di tengah ketidakpastian.
Setiap pagi, guru-guru dan Mardiah melihat pemandangan yang sama, Novi berdiri kokoh mematung di tonggak depan kelas. Jika bundanya berhalangan karena urusan pekerjaan, Novi akan berdiam diri di sana. Suara mesin motor ibunya yang pergi seolah menjadi gerbang mental yang ia kunci rapat-rapat. Para guru, dengan kesabaran tanpa batas, mencoba mendekati hati mungilnya. Mereka tidak mendesak, tetapi memperhatikan dengan seksama.
Pertanyaan diajukan dengan hati-hati, berusaha menyesuaikan proses belajar dengan kemauan Novi yang unik. Dalam sebuah ikhtiar penuh kasih, mereka membawa meja keluar, menjadikan teras sekolah sebagai ruang belajar darurat pribadi bagi Novi. Responsnya selalu terbatas pada anggukan pelan dan gelengan kepala yang nyaris tak terlihat.
Namun, keajaiban tersimpan di balik kebisuan itu. Novi ternyata adalah anak yang cerdas luar biasa. Nilainya selalu memuaskan, bahkan cenderung sempurna. Kalau mengerjakan tugas, tulisannya rapi dan terstruktur. Ia pandai membaca dan cekatan berhitung. Satu-satunya masalah, penghalang tak kasat mata itu, adalah keengganannya untuk melangkah masuk ke dalam kelas.
Mardiah menduga, ada masalah trauma yang mungkin tak mampu diungkapkan oleh kata-kata lugu seorang anak kelas satu. Ada beban emosional yang membuat Novi merasa aman hanya di ruang terbuka, di mana ia bisa melihat ibunya pergi, atau hanya berjarak sehelai benang dari pintu keluar.
Senyum Terakhir dan Sebuah Kemenangan Kecil
Perjuangan Mardiah memuncak di akhir November, beberapa hari sebelum bencana melanda. Ia melihat adanya celah harapan. Setiap kali berpapasan dengan Mardiah, Novi selalu melemparkan senyum tipis dan berani beradu pandangan dengan Kepala Sekolahnya. Momen itu dimanfaatkan Mardiah. Ia mendekati Novi, dengan kelembutan seorang ibu dan ketegasan seorang pendidik.
“Novi masuk kelas yuk, ibuk temanin. Masuk ke dalam ya anak. Novi kan pintar sekolah, tulisan bagus, Novi pandai berhitung,” ujar Mardiah, sambil mengambil tangan Novi yang sedang berdiri di dekat tiang. Pada hari itu, entah dorongan dari mana, entah karena kehangatan dan ketulusan Mardiah, Novi mengiyakan. Itu pertama kalinya mau belajar di dalam kelas tanpa ditemani bundanya. Sebuah kemenangan kecil yang berkilauan bagi seluruh komunitas sekolah.
Mardiah segera menyampaikan kabar gembira ini kepada guru-guru lain. Mereka menyambutnya dengan semangat membara dan berjanji untuk terus memotivasi Novi. Mereka sepakat bahwa Novi adalah prioritas utama yang harus mendapatkan perhatian khusus. Mereka memilihkan teman sebangku, seorang murid bernama Nada, berharap Novi bisa beradaptasi dan bermain saat jam istirahat.
Bagi para guru, keberhasilan membawa Novi masuk kelas adalah tanda keberhasilan mereka sebagai pendidik. Rasa Sakit yang Mengundang Pilu
Namun, kegembiraan itu berumur sangat singkat. Novi hanya sempat belajar di dalam kelas selama sepuluh hari sebelum bencana mengambilnya. Kenangan ini adalah hal yang paling menyakitkan dan mengundang pilu bagi Mardiah. Ia berhasil menaklukkan trauma Novi, ia berhasil membawa cahaya ke dalam ruang kelas bagi anak itu, hanya untuk melihatnya direnggut tanpa jeda.
“Sekarang gak ada Novi lagi, gak ada Novi lagi,” tangisan Mardiah kembali pecah. “Jenazahnya tidak ditemukan sampai sekarang.” Dulu, Novi sering terlihat seperti anak yang sedang marah, enggan tersenyum di depan orang lain. Tapi senyum tipis yang ia berikan kepada Mardiah, dan keberaniannya untuk masuk kelas di akhir hidupnya, kini terasa seperti harapan terakhir yang ia titipkan kepada para gurunya. Harapan agar ia bisa menjadi anak yang lincah, yang mau bermain bersama temannya, dan mau belajar di kelas.
Novi, dan delapan temannya yang menurut Mardiah, semuanya adalah anak-anak baik yang tidak pernah bermasalah, anak-anak yang agresif dan lincah kini meninggalkan lubang kosong yang besar. Pihak sekolah kini hanya bisa melakukan satu hal mengikhlaskan. Meski hati mereka merasa sepi dan berat, mereka berharap pencarian jenazah Novi dan ketiga temannya yang hilang segera membuahkan hasil, agar keluarga bisa tenang. Jika pun tidak sempat ditemukan, mereka berharap keluarga Ikhlas dan tabah.
“Doa kami, semua siswa bisa diletakkan di Surga Allah,” tutup Mardiah, membiarkan harapan itu menggema sunyi di tengah sembilan bangku kosong yang kini menjadi tanda tanya abadi di SDN 33 Koto Alam.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












