Perdebatan Anak dan Gawai: Fokus yang Salah
Perdebatan tentang anak dan gawai sering kali terjebak pada topik durasi penggunaan. Namun, data dari UNICEF menunjukkan bahwa masalah utama bukanlah seberapa lama anak menggunakan gadget, melainkan ketimpangan akses, rendahnya literasi digital, serta lemahnya perlindungan anak di ruang daring.
Anak membutuhkan internet yang aman dan mendidik, dukungan keluarga yang komunikatif, serta kebijakan negara yang berpihak pada keselamatan, bukan sekadar larangan. Dalam dunia digital yang semakin berkembang, penting untuk memastikan bahwa ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga tempat belajar dan berkembang.
Membangun Ruang Digital yang Aman
Laporan terbaru UNICEF, Childhood in a Digital World (Juni 2025), memberikan gambaran yang jelas mengenai tantangan yang dihadapi anak-anak di dunia digital. Dua pertiga anak usia sekolah di dunia, sekitar 1,3 miliar anak, tidak memiliki akses internet di rumah. Ketimpangan ini paling terasa di Afrika dan Asia. Anak-anak yang lahir di keluarga miskin tumbuh tanpa kesempatan yang sama untuk belajar, bermain, dan membangun keterampilan digital sejak dini.
Dalam dunia yang makin bergantung pada teknologi, ketertinggalan ini bukan soal gaya hidup, melainkan penentu masa depan. Akses internet kini bukan lagi kemewahan, tetapi menjadi prasyarat dasar untuk pendidikan dan pekerjaan. Di Eropa, lebih dari 90 persen pekerjaan sudah menuntut keterampilan digital dasar. Di Afrika Sub-Sahara, diperkirakan lebih dari 230 juta pekerjaan akan membutuhkan keterampilan digital pada 2030. Anak yang hari ini tidak terhubung akan memasuki pasar kerja dengan tangan terikat.
Keterampilan digital tumbuh dari penggunaan sehari-hari. Data UNICEF menunjukkan bahwa anak yang lebih sering dan lebih beragam beraktivitas daring justru memiliki keterampilan digital yang lebih baik. Yang terbukti merusak adalah paparan terhadap perundungan daring dan kekerasan seksual online, yang memiliki dampak kuat dan konsisten terhadap kesehatan mental anak.
Tanggung Jawab Negara dan Industri Teknologi
Pola ini muncul secara konsisten di lebih dari 20 negara (UNICEF, Juni 2025, Childhood in a Digital World). Tanggung jawab utama ada pada negara dan industri teknologi. Negara wajib memastikan konektivitas yang adil. Investasi pada infrastruktur digital, listrik, dan perangkat terjangkau harus menjadi prioritas kebijakan publik.
Kebijakan Indonesia dalam Arus Global
Indonesia mulai menata responsnya terhadap risiko dunia digital bagi anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, ST., MA., menekankan prinsip “Tunggu Anak Siap” sebelum anak masuk ke ruang digital, dengan syarat kesiapan usia, kematangan mental, dan pendampingan orang tua. Pesan ini disampaikan dalam konteks penerapan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital atau PP Tunas, yang ditegaskan pemerintah sebagai bentuk perlindungan, bukan pengekangan kemajuan teknologi.
Dengan PP Tunas, Indonesia menjadi salah satu pionir global dalam perlindungan anak di ruang digital. Namun regulasi tidak akan cukup jika berdiri sendiri. Perlindungan anak menuntut keterlibatan orang tua, sekolah, komunitas, dan terutama platform digital. Tanpa akuntabilitas bersama, ruang digital akan tetap lebih cepat melayani kepentingan bisnis daripada keselamatan anak.
Menata Ulang Peran Keluarga di Era Digital
Komunikasi keluarga merupakan proses relasional yang melibatkan emosi, nilai, dan pemahaman antarpersonal, bukan sekadar pertukaran pesan. Keluarga adalah institusi sosial pertama tempat individu belajar berkomunikasi, membangun identitas diri, memahami peran sosial, serta mengembangkan keterampilan komunikasi dasar yang akan melekat sepanjang hidup.
Penulis memahami bahwa konsep family communication relevan untuk membaca krisis digital hari ini. Ketahanan keluarga tumbuh dari kemampuan orang tua membangun komunikasi dua arah, menyepakati aturan yang dipahami bersama, serta memberi teladan dalam penggunaan teknologi. Mulailah bertanya, “Apa yang kamu buat di internet hari ini?” atau “Apa ada yang membuatmu tidak nyaman saat online tadi?”
Penulis juga menyadari bahwa kontrol tanpa dialog hanya melahirkan perlawanan. Sementara kebebasan tanpa pendampingan justru menjerumuskan anak ke dalam kebingungan. Syahdan, anak-anak membutuhkan internet yang aman, bukan internet tertutup. Mereka membutuhkan keterampilan, bukan ketakutan. Dan mereka membutuhkan negara berani memindahkan fokus kebijakan dari sekadar membatasi interaksi gadget menuju memperbaiki sistem.












