Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, Kehidupan Nyata yang Diangkat ke Layar Lebar
Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel hadir sebagai kisah nyata yang menggambarkan perundungan yang sangat mengerikan. Diperankan oleh Chicco Jerikho, Muzakki Ramdhan, Tika Bravani, hingga Mathias Muchus, film ini menyampaikan pesan penting tentang perjuangan seorang ayah, realitas perundungan, serta penegakan hukum di Indonesia.
Muzakki Ramdhan dan Annisa Kaila berbagi pengalaman mereka saat memerankan karakter dalam film ini. Mereka menjelaskan proses syuting dan pelajaran-pelajaran penting yang mereka dapatkan selama produksi film tersebut. Berikut fakta-fakta menarik di balik layar film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.
1. Bullying yang Sadis, Lebih dari 90 Persen Kisah Nyata
Film ini diangkat dari kisah nyata kasus David Ozora, seorang pemuda yang diserang secara brutal oleh anak seorang pejabat pemerintah tinggi. Kejadian tersebut membuatnya koma. Sutradara Anggy Umbara mengungkapkan bahwa film ini lebih dari 90 persen mirip dengan kisah aslinya. Hanya beberapa nama tokoh saja yang berbeda.
Setiap dialog dan adegan dalam film ini sama persis dengan yang terjadi pada David Ozora dan keluarganya. Muzakki yang memerankan David Ozora sendiri mengaku sulit untuk lepas dari karakternya selama syuting hingga gala premiere. Begitu juga dengan Annisa Kaila yang mengaku kesulitan mendalami karakter karena sangat berbeda jauh dengan dirinya.
“Sampai susah bedain mana realita, mana peran yang aku jalani. Karena benar-benar rasanya sudah gede banget, energinya tuh bold banget. Jadi bingung ini Muzakki apa David gitu,” kata Muzakki Ramdhan.
Untuk pendalaman karakter, mereka berbincang langsung dengan Jonathan Latumahina, ayah dari David Ozora, serta para keluarga dan teman David lainnya. Muzakki bahkan harus sering melihat video kejam tersebut untuk bisa menghasilkan adegan yang sama persis seperti yang dialami oleh David.
“Banyak tantangan yang bertolak belakang sama sifat aku sendiri. Jadi aku harus banyak konsultasi ke Om Jo, ke Tante Melisa, lawyer-nya. Bagaimana sih untuk memerankan, bisa masuk pas ke karakter Astrid ini biar nggak terlalu overacting. Tapi nggak dikurang-kurangin gitu. Aku harus bisa jaga emosional itu sih,” ujar Annisa.
2. Kisah Cinta Ironis David Ozora dan Astrid

Selain mengungkap perundungan dan penganiayaan sadis, film ini juga menceritakan kisah cinta David Ozora (Muzakki Ramdhan) dan Astrid (Annisa Kaila) yang ironis. Keduanya berpacaran dan sangat mesra bersama. Tak jarang mereka menghabiskan waktu di rumah David bersama dengan orang tuanya. Pasangan muda ini bahkan tak malu-malu untuk unjuk kemesraan di depan keluarga.
Sayangnya, semua berubah setelah mereka putus dan Astrid berpacaran dengan Dennis. Astrid mengaku pada Dennis kalau ia mendapatkan perlakuan kurang baik dari David. Lalu, mereka menyusun rencana untuk memberi ‘pelajaran’ pada David. Astrid kemudian mengirim pesan pada David yang sedang bermain di rumah temannya dengan alasan untuk mengembalikan kartu pelajar. Di situlah perundungan, penganiayaan, dan pengeroyokan terjadi.
3. Muzakki dan Annisa Merasa Related dengan David

Berbicara tentang bullying, Muzakki Ramdhan dan Annisa Kaila mengaku merasa related. Keduanya sama-sama pernah dirundung di sekolah yang akhirnya membuat mereka memilih untuk homeschooling. Annisa juga bercerita kalau ia pernah mendapat hate comment yang termasuk dengan perundungan cyber. Namun, keluarganya yang menguatkan dia untuk tak terlalu memusingkan komentar kebencian tersebut.
“Aku pernah jadi korban bully dan kayaknya itu alasan kenapa aku homeschooling sampai saat ini sih. Karena dulu aku dibully kelas 1 sampai kelas 2 SD. Terus kayak nggak kuat, sudah homeschooling aja,” ungkap aktor kelahiran lahir 11 Agustus 2009 ini.
“Kalau aku dulu juga sempat, ini termasuk bullying sih. Dijauhi sama teman-teman sekolah. Karena kan memang aku syuting dari dulu. Awalnya aku tetap mau sekolah biasa, nggak mau homeschooling. Tapi itu sama kayak Muzakki, salah satu alasan aku homeschooling juga karena nggak kuat. Dari gurunya juga sempat mendukung teman-teman aku gitu lho. Jadi, kayak setiap ke sekolah aku tuh kayak selalu datang terus langsung diomongin. Aku doang yang nggak punya teman,” cerita Annisa.
Menanggapi soal bully, Muzakki dan Annisa berpesan bagi mereka yang sedang menjadi korban kalau mereka nggak sendiri. Cobalah berani untuk speak up kepada orang-orang terdekat.
4. Hubungan Ayah dan Anak yang Haru

Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel berfokus pada cerita ayah korban, Jonathan (diperankan oleh Chicco Jerikho), dan perjuangannya mencari keadilan melawan sistem yang tercemar oleh kekuasaan dan pengaruh. Hubungan antara ayah dan anak pun menjadi suatu pesan tersendiri bagi para penonton.
Bahkan kejadian tersebut di dunia nyata juga menjadi pelajaran dan lembaran baru bagi hubungan David Ozora dan ayahnya. Jonathan Latumahina disebut semakin dekat dengan anaknya dan lebih banyak waktu untuk keluarga seperti yang diungkap oleh para pemeran dan sutradara film ini. Termasuk Muzakki sendiri, ia jadi ingin lebih dekat dengan ayahnya setelah film ini karena melihat hubungan Jonathan dan David yang begitu hangat.
“Aku mau jadi lebih deket sama ayahku sih. Karena ngelihat Om Jo dan David sangat hangat gitu. Kayak pengen bisa gitu juga,” kata Muzakki.
5. Bagikan Pesan Bermakna

Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel sendiri memberikan banyak pesan mulai dari hubungan keluarga, persahabatan, hubungan, hingga tentang perundungan dan melawan sistem. Film ini menggambarkan bagaimana orang tua akan memperjuangkan keadilan untuk anaknya sampai titik penghabisan.
Nggak hanya itu, persahabatan antara Jonathan dengan Melissa (Tika Bravani) dan Rustam (Rizky Hanggono) juga memperlihatkan persahabatan hangat yang saling mendukung. Lebih lagi, film ini menyajikan gambaran perlawanan atas sistem tak sehat di hukum Indonesia sekaligus menjadi ajakan untuk berani menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan.
“Ceritanya sih amazing sih, memang layak untuk diangkat ke dalam cerita dan inspirational banget sih. Karena perjuangannya dia bukan cuma dari sosial, perjuangan untuk medical, tapi juga untuk fight the system. Melawan sistem yang korup. Pertama dan perjuangannya juga ada sisi spiritual journey-nya mereka yang akhirnya menjadi turning point di film ini,” ujar Anggy Umbara.
Itulah beberapa fakta menarik di balik layar film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.












