JAKARTA,
Upaya menurunkan panas kota tidak selalu harus dimulai dari pembangunan taman besar atau penambahan ruang terbuka hijau berskala luas. Di Jakarta Timur, solusi tersebut justru tumbuh dari ruang yang selama ini dianggap sisa: kolong jalan layang. Kolong flyover yang identik dengan area gelap, kumuh, dan tak terurus perlahan diubah menjadi kebun kota yang berkontribusi pada kualitas lingkungan perkotaan. Inisiatif ini menghadirkan pendekatan baru dalam mengelola keterbatasan ruang di tengah kepadatan Jakarta.
Pendekatan Ekologi Perkotaan
Dalam perspektif ekologi perkotaan, pemanfaatan ruang sisa seperti kolong flyover dinilai memiliki potensi besar untuk membantu menurunkan suhu kawasan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Pengamat lingkungan Mahawan Karuniasa menjelaskan bahwa kota-kota besar seperti Jakarta menghadapi persoalan panas berlebih akibat dominasi bangunan beton serta minimnya ruang hijau. Kondisi tersebut memicu terbentuknya kantong-kantong panas di berbagai titik, terutama di sekitar jalan arteri dan jalan layang. Di tengah keterbatasan ruang terbuka hijau, ruang sisa di kolong flyover menjadi aset lingkungan yang selama ini kerap terabaikan.
Menjawab Tantangan Panas Kota
Menurut Mahawan, pemanfaatan kolong flyover sebagai kebun kota relevan untuk menjawab tantangan panas perkotaan. Dalam kajian ekologi, ruang sisa perkotaan atau residual urban space memiliki potensi untuk meningkatkan layanan ekosistem kota jika dikelola dengan tepat. Kehadiran tumbuhan di kolong flyover dapat membantu menurunkan suhu, terutama di kawasan yang terpapar panas akibat dominasi beton. Selain berkontribusi terhadap penurunan suhu, vegetasi juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara dengan menghasilkan oksigen serta menyerap karbon dioksida dan sebagian polutan. Namun, Mahawan menekankan bahwa fungsi tersebut harus dipahami secara proporsional dan berbasis kajian ilmiah.
Pemilihan Tanaman yang Sesuai
Pemilihan tanaman menjadi faktor krusial dalam keberhasilan kebun kota di kolong flyover. Menurut Mahawan, berbagai aspek harus diperhitungkan, mulai dari ketahanan terhadap panas, keterbatasan sinar matahari, hingga ketersediaan air. Jika tanaman tidak tahan panas, kurang air, atau tidak cocok dengan kondisi cahaya, justru akan mati dan menjadi masalah baru.
Pangan atau Ruang Hijau?
Mahawan juga mengingatkan perlunya kehati-hatian jika kebun kota di kolong flyover diarahkan untuk menghasilkan pangan. Tingginya tingkat polusi di bawah jalan layang berpotensi memengaruhi keamanan hasil panen. Menanam cabai di kolong tol, misalnya, harus dikaji secara serius karena risiko pencemaran. Fungsi utama kebun kolong flyover sebaiknya ditempatkan sebagai ruang hijau dan penyedia layanan ekosistem perkotaan. Sementara itu, pemanfaatan sebagai sumber pangan harus melalui kajian kesehatan dan lingkungan yang ketat.
Oase Hijau di Bawah Beton
Di kolong flyover Jalan Haji Darip, RW 08, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, hiruk-pikuk kota tetap terasa kuat. Deru kendaraan roda dua dan roda empat bersahut-sahutan melintas di atas jalan layang, sesekali diselingi bunyi klakson dari jalan arteri di sekitarnya. Getaran halus kendaraan berat yang melintas di atas flyover terasa hingga ke bawah, menjadi latar konstan aktivitas warga dan petugas. Namun, kontras mencolok terlihat tepat di bawah struktur beton tersebut. Area yang sebelumnya kumuh dan gersang kini berubah menjadi kebun kota yang tertata rapi.
Beragam Tanaman Tumbuh
Bedeng-bedeng tanaman berjajar mengikuti kontur lahan, dipisahkan oleh jalur paving yang bersih. Tanah terlihat gembur dan lembap, menandakan perawatan rutin. Papan penanda jenis tanaman tertancap di sejumlah bedeng, memberi kesan kebun edukatif. Sejumlah petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) tampak merapikan daun dan mencabut gulma, dengan seragam oranye yang kontras dengan hijau dedaunan. Di sudut lain, warga terlihat duduk sejenak mengamati tanaman. Aktivitas berlangsung tanpa menghilangkan hiruk-pikuk lalu lintas di sekitarnya. Kebun kota ini dikenal dengan nama Trasa Balong, singkatan dari Sentra Sayur Bawah Kolong.
Dari Inisiatif Bersama
Ajul (50), petugas PPSU yang terlibat sejak awal pengelolaan kebun, menjadi saksi perubahan kawasan ini sejak 2016. Ia menyebut inisiatif awal datang dari lurah, organisasi masyarakat, dan warga setempat. Warga dilibatkan sejak proses penanaman hingga panen. Bibit tanaman diperoleh dari berbagai sumber, baik inisiatif mandiri, bantuan kelurahan, maupun partisipasi warga. Hasil panennya dibagikan ke warga sekitar, tidak dijual. Panen dilakukan sekitar sebulan sekali, tergantung jenis tanaman dan musim. Sayuran dibagikan dalam bentuk ikatan, bukan ditimbang. Setelah panen, proses tanam ulang kembali dilakukan.
Dampak yang Dirasakan Warga
Perubahan wajah kolong flyover juga dirasakan langsung warga sekitar. Darma (40), warga RW 08 Cipinang Melayu, menilai kawasan menjadi lebih nyaman. Dulu di sini gelap, kotor, orang juga jarang lewat. Sekarang sudah beda, lebih terang, bersih, dan enak dilihat. Jika lewat juga rasanya lebih adem karena banyak tanaman. Keberadaan kebun kota mendorong kepedulian warga terhadap lingkungan. Warga kerap ikut menyiram tanaman atau membersihkan area kebun. Soalnya ini kan buat kita juga. Hasil panennya juga dibagi ke warga, jadi semua merasa ikut punya.
Inovasi Tata Kota
Pengamat perkotaan Universitas Indonesia, Muh Aziz Muslim, menilai pemanfaatan kolong flyover sebagai ruang publik dan urban farming patut diapresiasi di tengah keterbatasan ruang terbuka hijau di Jakarta. Ini menjadi model inovasi yang menarik untuk menyiasati keterbatasan ruang terbuka, sekaligus membuat Jakarta lebih hijau dan ramah. Namun, ia menekankan pentingnya perencanaan yang holistik serta koordinasi lintas pihak, termasuk pengelola jalan dan infrastruktur, agar pemanfaatan kolong flyover tidak mengganggu fungsi utama jalan. Tantangan utama terletak pada aspek pemeliharaan. Di sinilah pentingnya partisipasi masyarakat dan rasa memiliki. Membangun bisa, merawat sering kali menjadi masalah.
Kebun kolong flyover di Jakarta Timur menunjukkan bahwa ruang sisa perkotaan dapat diubah menjadi ruang hijau yang produktif. Namun, seperti diingatkan para pengamat, keberlanjutan menjadi kunci utama agar inisiatif semacam ini tidak berhenti sebagai proyek sesaat.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












