BOGOR, –
Warga Kota Bogor mengaku masih bingung dengan keberadaan layanan BisKita Trans Pakuan yang sejak 1 Januari 2026 tidak lagi beroperasi. Bus yang selama ini menjadi andalan mobilitas harian warga kini tak terlihat di sejumlah ruas jalan utama.
Pantauan di lokasi, Jumat (2/1/2025) siang, dari Jalan Ir. H. Juanda hingga Jalan Pajajaran, tidak tampak satu armada BisKita melintas. Ruas jalan tersebut justru hanya dilalui bus antarkota antarprovinsi (AKAP), sementara halte dan shelter bus tampak ada warga menunggu BisKita.
Kondisi serupa terlihat di Shelter SLTPN 8, salah satu titik naik-turun penumpang BisKita. Warga tampak bertanya satu sama lain, mencoba mencari informasi mengenai keberadaan bus yang biasa mereka gunakan untuk beraktivitas sehari-hari.
Agung (32), salah satu warga yang ditemui di shelter tersebut, mengaku baru mengetahui BisKita tidak beroperasi setelah bertanya kepada sopir angkot.
“Saya juga baru tahu waktu nanya ke sopir angkot, katanya memang busnya libur, tapi nggak jelas juga sampai kapan,” ujar Agung saat ditemui, Jumat.
Ketiadaan BisKita memaksa Agung beralih ke angkot dengan rute berpindah-pindah. Akibatnya berdampak pada waktu tempuh dan biaya perjalanan.
“Sekarang kalau bus berhenti beroperasi, ya mau nggak mau naik angkot, pindah-pindah, ongkos jadi nambah. Dulu sekali naik bus bisa langsung nyampe, sekarang jadi ribet,” ujarnya.
Agung menilai warga hanya merasakan dampak kebijakan tanpa mendapatkan penjelasan yang memadai. Ia berharap ada komunikasi yang jelas kepada masyarakat apabila layanan memang dihentikan, baik sementara maupun permanen.
“Harusnya ada penjelasan ke masyarakat. Jangan tiba-tiba hilang, kita yang tiap hari pakai ini (Biskita) jadi bingung. Kalau dibilang transportasi umum mau dibenahin, angkot dihapus tapi layanan bus malah hilang ya aneh,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Adel (30), warga lainnya. Ia mengaku sempat mengira BisKita hanya terlambat, sebelum akhirnya menyadari layanan tersebut memang tidak beroperasi.
“Saya sempat kaget juga sih, soalnya dari tadi bus yang biasa saya naik kok nggak ada. Awalnya mikir mungkin cuma telat, tapi kok lama-lama nggak nongol juga,” ungkapnya.
Adel mengaku sempat mencari informasi melalui media sosial dan aplikasi transportasi, namun justru menemukan keterangan yang membingungkan.
“Saya juga tadi lihat di Instagram katanya beroperasi tapi pas nunggu nggak lewat, eh ternyata benar di aplikasinya lagi nggak beroperasi sampai tanggal yang tidak ditentukan,” ujar Adel.
Dengan tidak beroperasinya BisKita, Adel terpaksa kembali menggunakan angkot atau ojek daring, meski dinilai tidak seefisien bus. Ia berharap pengelola memberikan kejelasan mengenai status layanan BisKita agar warga tidak terus berada dalam ketidakpastian.
“Kita kan cuma pengguna. Saya sih berharap ada kejelasan, ini berhenti sementara atau gimana dan sampai kapan. Jangan setengah-setengah, karena yang kena pertama ya warga,” kata Adel.
Bagi Adel, ketergantungan pada BisKita sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Ketiadaan layanan tersebut dinilai berdampak langsung pada kenyamanan dan pengeluaran warga.
“Saya sudah terbiasa buat naik BisKita. Kalau naik angkot itu ngetemnya lama, terus sopirnya kadang nggak benar, sementara naik ojol sudah pasti lebih mahal, boros,” katanya.
Penjelasan Dishub Bogor
Sebelumnya diberitakan, layanan transportasi publik BisKita Transpakuan di Kota Bogor berhenti beroperasi mulai 1 Januari 2026.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto, menjelaskan bahwa dengan berakhirnya kontrak pada 31 Desember 2025, otomatis layanan tidak dapat dilanjutkan sebelum proses administrasi baru diselesaikan.
“BisKita itu berkontrak per tahun. Jadi per 31 Desember itu selesai. Satu Januari ini masih proses pengadaan barang dan jasa. Jadi pasti ada kesenjangan angkutan untuk semua koridor,” ujar Sujatmiko, Jumat (2/1/2026).
Ia menuturkan, jeda layanan tidak bisa dihindari lantaran hingga awal tahun belum ada penyedia jasa transportasi yang ditetapkan. Penentuan operator baru harus melalui mekanisme pengadaan barang dan jasa.
“Otomatis per satu Januari tidak ada pengadaan jasa dong. Nah, akhirnya perlu dicari penyedia barang dan jasa,” kata dia.
Sebagai informasi, sebelum dihentikan sementara, BisKita Transpakuan Bogor melayani sejumlah rute utama yang menjadi tulang punggung mobilitas warga. Koridor tersebut meliputi Koridor 1 rute Bubulak–Cidangiang, Koridor 2 Bubulak–Ciawi, Koridor 5 Ciparigi–Stasiun Bogor, serta Koridor 6 Parung Banteng–Stasiun Bogor.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












