Malaysia Bersikeras Lawan FIFA, Ingin Hancurkan Harapan Vietnam?

Perjuangan Hukum Malaysia dalam Kualifikasi Piala Asia 2027



Para pengacara sepak bola mengakui bahwa peluang Malaysia untuk menang banding terhadap keputusan FIFA sangat rendah, tetapi mereka juga menyadari bahwa tidak ada pilihan lain selain melanjutkan perjuangan hukum ini. Keputusan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) untuk membawa kasusnya ke tingkat arbitrase dan pengadilan internasional menciptakan situasi yang unik dan kompleks.

Langkah FAM tersebut memicu kebuntuan dalam penyelesaian sanksi yang diberikan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). AFC sebelumnya ingin menjatuhkan sanksi atas kekalahan Malaysia 0-3 dalam pertandingan melawan Vietnam dan Nepal pada Juni 2025 di Kualifikasi Piala Asia 2027. Namun, karena FAM sedang melakukan banding, tindakan tersebut harus ditunda sampai proses hukum selesai.

Ini bukan lagi sekadar masalah performa tim, tetapi telah berubah menjadi isu hukum yang panjang dan luas jangkauannya. Menurut Etienne Rizk, seorang pengacara olahraga dengan pengalaman di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), peluang FAM untuk membatalkan keputusan FIFA sangat kecil. Namun, ia menekankan bahwa upaya banding tetap penting sebagai bentuk pembelaan diri organisasi.

“Keputusan Komite Banding FIFA secara jelas menegaskan hukuman bagi FAM dan pemain yang terlibat,” ujarnya. “Namun, dari perspektif organisasi, FAM tidak punya pilihan selain melanjutkan banding.”

Sebelumnya, FAM pernah mengajukan banding terhadap sanksi FIFA, tetapi permohonan tersebut ditolak. Akibatnya, FAM menerima denda sebesar 350.000 franc Swiss atau sekitar Rp7,3 miliar. Tujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia yang terlibat juga dikenai denda sebesar 2.000 franc Swiss atau sekitar Rp42 juta. Selain denda, mereka juga mendapat larangan bermain selama 12 bulan.

Setelah bandingnya ditolak, FAM kemudian membawa kasusnya ke CAS. Hal ini memaksa AFC untuk sementara tidak mengambil tindakan lanjutan. AFC akan mengambil keputusan paling lambat akhir Maret mendatang, yaitu tepat sebelum pertandingan terakhir Kualifikasi Piala Asia 2027. Jika banding ke CAS gagal, FAM kemungkinan akan kembali menerima sanksi dari AFC.

Etienne Rizk menyoroti beberapa kelemahan FAM, termasuk pengakuan dari Sekretaris Jenderal FAM bahwa beberapa departemen terlibat dalam memproses dan mengubah salinan akta kelahiran. Dengan pengakuan ini, sulit bagi FAM untuk sepenuhnya menghindari hukuman. Namun, ia menekankan bahwa proses banding tetap penting agar FAM dapat membela diri dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai sebuah organisasi.

Di sisi lain, pengacara Nik Erman Nik Roseli mengungkapkan bahwa FAM mungkin mempertimbangkan untuk mengajukan banding ke Pengadilan Federal Swiss (SFT) jika gagal di CAS. Meskipun peluang membalikkan situasi hampir tidak ada, proses ini akan memperpanjang waktu dan memberi tekanan pada AFC.

Faktanya, hanya sekitar 6 persen kasus CAS yang pernah dibawa ke SFT, tetapi ini tetap merupakan opsi yang bisa dipilih FAM untuk menunda putusan akhir.

Dari sudut pandang media Vietnam, Malaysia terlihat berjuang hingga akhir agar Timnas Vietnam kecewa. Sebelumnya, beberapa media Vietnam berharap Malaysia mendapat sanksi dari AFC dengan membatalkan hasil pertandingan di Kualifikasi Piala Asia 2027. Jika kemenangan Malaysia dibatalkan, maka Vietnam akan menjadi tim yang melaju ke putaran final Piala Asia 2027 di Arab Saudi.

“Apakah Malaysia akan melawan FIFA sampai titik darah terakhir, membuat tim nasional Vietnam patah hati?” tulis laporan media tersebut. Penundaan yang berkepanjangan ini telah mencegah AFC untuk mengambil keputusan terkait kekalahan 0-3 dari Timnas Malaysia dalam dua pertandingan yang menggunakan pemain naturalisasi ilegal.

Sekretaris Jenderal AFC Windsor Paul John menyatakan bahwa tindakan disipliner hanya akan diambil setelah CAS menyelesaikan kasus tersebut. Ini berarti bahwa sampai proses hukum selesai, Grup F Kualifikasi Piala Asia 2027 tetap tidak pasti, dan pertempuran antara FAM dan FIFA terus menjadi alasan langsung mengapa AFC belum menjatuhkan sanksi.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?