Seorang penumpang kereta api menerima pesan dari seseorang yang duduk di sebelahnya tanpa perlu bertukar nomor. Kejadian ini kini menjadi sorotan masyarakat Indonesia dan dibagikan langsung oleh korban melalui akun media sosial pribadinya. Dalam unggahan tersebut, korban membagikan tangkapan layar chat WhatsApp yang diterimanya dari orang asing.
Bagi korban, pengalaman ini menimbulkan ketidaknyamanan. Kekhawatiran muncul karena data pribadi diduga bisa diakses dan disalahgunakan oleh pihak lain. Hal ini membuat sistem keamanan data pribadi penumpang KAI mendapat pertanyaan besar dari publik.
Respons KAI Services
Manajemen PT Reska Multi Usaha (KAI Services) menyampaikan permohonan maaf atas insiden penyalahgunaan data nomor telepon pribadi milik salah satu penumpang kereta api yang dilakukan oleh oknum karyawan. Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita menekankan bahwa tindakan tersebut termasuk pelanggaran berat dalam standar operasional prosedur (SOP) dan kode etik perusahaan.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini dan sudah menghubungi penumpang untuk meminta maaf,” ujar Suardhita dalam pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa KAI tidak bisa menoleransi tindakan semacam ini dan akan mengusut peristiwa tersebut.
Langkah Tegas KAI dalam Mendisiplinkan Oknum
Setelah kejadian tersebut, KAI Services mengambil beberapa langkah tegas. Berikut respons nyata yang dilakukan:
-
Sanksi Disiplin
Manajemen telah memanggil oknum karyawan untuk melakukan pemeriksaan intensif. KAI juga menyatakan akan memberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku untuk memberikan efek jera. -
Komunikasi dengan Pihak Korban
Manajemen KAI juga menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf secara langsung kepada korban. Mereka berusaha berkomunikasi dengan pihak korban untuk memastikan langkah-langkah penyelesaian yang diperlukan. -
Evaluasi Internal
Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, KAI melakukan evaluasi internal dan menyeluruh terhadap sistem akses data operasional. Selain itu, mereka juga mengedukasi seluruh personil frontliner mengenai Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Komitmen Melindungi Privasi Penumpang
Dari kejadian ini, kekhawatiran masyarakat meningkat, terutama terkait perlindungan data pribadi. Namun, KAI kembali menegaskan bahwa perlindungan data pelanggan adalah prioritas utama. Suardhita menyatakan bahwa KAI memiliki komitmen untuk memperketat pengawasan di lapangan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kami berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan kritik dan masukan demi perbaikan layanan kami,” tambahnya.
Kronologi Kejadian
Untuk mengonfirmasi kasus ini, pihak berwenang telah mencoba menghubungi pengunggah melalui akun X-nya sejak Kamis (8/1/2026), pukul 11.46 WIB. Namun, hingga Jumat (9/1/2026) pukul 19.00 WIB, belum mendapatkan jawaban dari korban. Meski begitu, korban telah menceritakan kejadian lengkapnya melalui akun X miliknya.
Dari postingannya di X (@olivehateem_) pada Selasa (6/1/2026) pukul 19.16, korban membagikan tangkapan layar chat WhatsApp. Dalam gambar tersebut, korban mendapatkan pesan singkat dari orang yang tidak dikenal. Pesan tersebut menjelaskan bahwa pengirim merupakan pria yang duduk di bangku kereta api sebelahnya.
Secara langsung, korban merasa tidak nyaman karena merasa tidak membagikan nomor WhatsApp miliknya. Sebelum mengontak secara pribadi lewat WhatsApp, korban menceritakan bahwa pria tersebut mengajak ngobrol secara nonstop sejak awal perjalanan.
Merasa resah, korban hanya menjawab seadanya. Namun, ada hal lain yang justru membuatnya semakin terkejut dan tidak menyangka. “Yang bikin gong adalah di tengah obrolan dia tiba-tiba nanya, ‘mbaknya namanya (nama depanku) ya?’ padahal dari awal gak sebut nama juga,” tulisnya.
Setelah itu, si pria mengetahui usia korban. “Ga lama nanya lagi, ‘tahun depan berarti 26 ya?’ lah kok bisa tau. Ternyata entah gimana masnya ini bisa akses dataku di KAI. Aku langsung confront dan bilang kenapa buka-buka data pribadi, apalagi sebagai bahan obrolan,” lanjutnya.
Setelah itu, oknum tersebut menghubungi korban secara pribadi lewat WhatsApp. Korban langsung mencari tahu identitas si pria lewat aplikasi pelacak nomor. Ia menemukan banyak tanda yang mengaitkan nomor pria itu dengan PT Reska Multi Usaha atau KAI Services. Lebih lanjut, korban mengaku sudah berkomunikasi dengan KAI untuk mengusut kejadian tersebut.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












