Daerah  

Pengungsi Banjir Kudus Tembus 2.178 Jiwa, Paling Banyak di Gedung DPRD

Pengungsi Banjir di Kudus Menghabiskan Malam di Aula DPRD

Di aula DPRD Kudus, banyak orang memenuhi ruangan tersebut. Sebagian dari mereka tampak berbincang-bincang dengan sesama pengungsi sambil duduk atau berbaring. Anak-anak terlihat bermain di halaman aula, sementara para pengungsi lainnya menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas.

Para pengungsi ini adalah korban banjir yang tinggal di aula DPRD selama tiga malam berturut-turut. Di antara ratusan pengungsi, ada seorang perempuan paruh baya yang dikenal sebagai Istianah. Ia biasanya bersosialisasi dengan pengungsi lainnya, namun kondisi saat ini membuatnya harus tinggal di pengungsian.

Istianah dan keluarganya dibawa ke aula DPRD menggunakan truk milik polisi pada Rabu (14/1/2026) sore. Rumahnya terendam banjir setinggi sepaha orang dewasa. Saat ditemui di aula DPRD pada Sabtu (17/1/2026), Istianah menyampaikan bahwa ia tidak punya pilihan selain tinggal di pengungsian.

Pada siang hari, anak dan suami Istianah pulang ke rumah untuk melihat kondisi rumah yang berada di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus. Namun, banjir masih belum surut, sehingga mereka kembali ke aula DPRD pada malam hari.

Banjir ini telah menghentikan pekerjaan Istianah, yang sehari-hari bekerja di sebuah pabrik rokok. Ia memilih tinggal di pengungsian sembari menjaga ibunya yang sudah berusia 65 tahun. Suaminya juga tidak bisa bekerja karena banjir.

Tidak ada pendapatan tambahan untuk keluarga Istianah. Mereka hanya mengandalkan makanan yang disediakan di posko pengungsian. Tinggal di pengungsian bukanlah hal yang diharapkan oleh Istianah. Di sana, privasi hampir tidak ada karena ratusan orang berkumpul dalam satu ruangan besar.

Ini merupakan kali ketiga Istianah mengungsi ke DPRD, setelah beberapa kali sebelumnya rumahnya juga tergenang banjir. Ia berharap banjir segera surut agar dapat kembali ke rumah dan melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Data Pengungsi Banjir di Kudus

Sampai pukul 17.00 pada Sabtu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat total 908 jiwa warga Kudus yang mengungsi di aula DPRD. Posko pengungsian ini menjadi yang terbanyak pengungsinya dibandingkan 12 posko lainnya.

Para pengungsi di DPRD Kudus berasal dari berbagai desa, seperti Desa Jetiskapuan, Ngemplak, Karangrowo, dan Banget. Berdasarkan data BPBD, jumlah total pengungsi banjir di Kabupaten Kudus mencapai 2.178 jiwa, yang tersebar di 13 posko pengungsian.

Untuk suplai makanan, telah didirikan 14 dapur umum. Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, memastikan bahwa kebutuhan logistik bagi para pengungsi masih tercukupi. “Banyak donasi yang diberikan para dermawan melalui komunitas atau organisasi,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, menyatakan bahwa penanganan banjir saat ini fokus pada penambalan sejumlah tanggul sungai yang jebol. Banjir kali ini disebabkan oleh luapan sungai dan kerusakan tanggul.

Menurutnya, ada sekitar 30 titik tanggul sungai yang jebol. Untuk Sungai Piji, ada lima titik tanggul yang jebol, sedangkan untuk Sungai Dawe ada tiga titik. Di Sungai Gelis, terjadi longsoran.

Beberapa tanggul yang jebol sudah diatasi oleh warga sekitar dengan cara menambalnya. Penanganan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Data BPBD mencatat, desa yang terdampak banjir ada 38 desa yang tersebar di 7 kecamatan. Total warga yang terdampak sebanyak 43.479 jiwa, dengan 5.425 rumah terendam banjir.

Pengungsi Banjir di Pati

Di Kabupaten Pati, sekitar 6.800 warga masih bertahan di titik-titik pengungsian. Mereka berasal dari 136 desa yang terdampak banjir dan longsor. Bupati Pati, Sudewo, mengatakan dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di Pati.

Menurut laporan di akun Instagram resmi Pemkab, BPBD, dan Diskominfo Pati, korban meninggal berasal dari Kecamatan Gunungwungkal dan Dukuhseti. Data kemarin sore (Jumat lalu—Red), yang terdampak banjir sejumlah 136 desa dan sekitar 78.000 rumah.

Sudewo menjelaskan bahwa Pemkab Pati terus berupaya memenuhi kebutuhan primer para pengungsi, mulai dari bahan pangan, pakaian, hingga tempat berteduh yang layak. Pendataan kerusakan fisik terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Sudewo menyebut jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan sudah menembus angka 1.000 unit dan diperkirakan masih akan terus bertambah. Saat ini, Pemkab Pati bersama BNPB tengah fokus pada penanganan darurat, termasuk perbaikan tanggul-tanggul vital yang jebol serta pembangunan jembatan darurat untuk menyambung akses transportasi warga yang terputus.




Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?