Kenangan yang Terbang Bersama Pesawat
Jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (17/1/2026), membawaku kembali ke masa lalu. Ke belasan tahun silam, saat saya mendaki di puncak gunung setinggi 1.353 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Dua kali saya mendaki Puncak Gunung Bulusaraung pada tahun 2012. Tepatnya 31 Agustus 2012 dan 13 Oktober 2012. Semula kupikir pendakian pertama pada 2010, namun ternyata tahun 2012. Tanggal pasti kudapatkan usai membuka kembali akun blog pribadi, domain blogspot.com. Saat itu, saya memang rutin menulis dan memposting foto pendakian di blog pribadi.
Ya, kemampuan memori otak nyatanya terbatas. Yang terekam jelas hanya kenangannya, segala jenis angka mudah terlupa. Pendakian dimulai dari basecamp di Desa Tompobulu usai registrasi. Dua kali pendakian dengan orang berbeda. Pendakian pertama bersama empat orang. Masing-masing dua perempuan termasuk saya, dan tiga laki-laki. Yang perempuan, sebut saja Bunga, teman kuliahku. Tiga laki-laki, teman lintas universitas di Makassar. Seorang diantaranya, sebut saja Dev, kenalan di Lembanna.
Saat itu, saya dan Bunga beserta anak klub pencinta alam jurusan bermalam di rumah sesepuh Tata Rasi, (seingatku) setelah dari Lembah Ramma. Dev inilah yang memimpin pendakian. Pendakian kedua, saya bersama tujuh orang. Hanya saya perempuan. Lainnya laki-laki, teman tongkrongan. Yang lucunya, saya memimpin pendakian. Padahal saya baru sekali ke sana. Namun dengan percaya diri saya iyakan.
“Ayomi, gampangji itu. Banyakji tandanya,” kataku kepada mereka. Ya, jalur ke Puncak Gunung Bulusaraung tidak serumit ke Lembah Ramma. Saya sudah dua kali ke Lembah Ramma, namun belum berani memimpin pendakian. Banyak persimpangan yang bikin bingung. Sementara di Gunung Bulusaraung (sejauh ingatan saya), tidak banyak persimpangan. Tanda yang ditinggalkan pendakipun banyak, sehingga memudahkan pendakian.
Namun benarkah semudah itu? Eits, yang mudah itu menemukan tandanya, bukan medannya. Bagi pendaki pemula, jalur Gunung Bulusaraung tidak semudah itu. Meski memiliki ketinggian puncak 1.353 meter di atas permukaan laut (MDPL), medannya cukup ekstrem. Jalur menuju puncak cukup curam, nanjak terus. Hanya sedikit jalur landai. Bahkan di beberapa titik sangat curam, lutut bertemu hidung.
Waktu tempuh? Saya sudah lupa tepatnya. Itu sudah 13 tahun lebih. Namun durasi pendakian pertama tidak selama pendakian kedua. Pasalnya, pada pendakian pertama, hanya satu orang pendaki pemula, tiga lainnya berpengalaman. Sementara pendakian kedua, enam teman saya (seingatku) baru pertama kali mendaki. Banyak istirahatnya. Saya ingat banget, waktu itu kami bergantian memberi tanda ingin istirahat, termasuk saya.
Meskipun saya sudah pernah mendaki sebelumnya, namun pendakian ke Puncak Gunung Bulusaraung cukup melelahkan. Dan ya, prinsip kami, satu teman istirahat, semua harus ikut istirahat. Jika pendaki berpengalaman hanya butuh sekira 2,5 jam untuk mencapai puncak, sepertinya saat itu kami butuh 4-5 jam untuk tiba di Pos 9. Pos 9 lokasi camp atau kemah. Di sini banyak pohon besar dan tinggi. Meski begitu jarak antarpohon cukup lega, ada banyak ruang mendirikan tenda.
Di puncak, sulit mendirikan tenda. Penuh bebatuan, tidak ada pohon, dan anginnya sangat kencang. Yang ada hanya rerumputan. Tidak ada air di Pos 9, apatah lagi di puncak. Untuk menemukan sumber air, kita harus turun lagi sekitar 10 menit. Jalurnya berbeda dengan jalur pendakian. Sumber air dari akar pohon besar. Butuh kesabaran menampung airnya sedikit demi sedikit dalam wadah. Setelah air terkumpul, tentu harus mendaki lagi ke lokasi camp.
Adapun waktu tempuh ke puncak Gunung Bulusaraung sekitar 15 menit dari Pos 9. Jalurnya lebih ekstrem. Curam, full nanjak. Sejauh ingatan saya, di dua pendakian itu, kondisinya gersang. Sepertinya saat itu masih musim kemarau. Rumputnya menguning. Namun pemandangannya sangat epic. Pemandangan 380 derajat semuanya indah. Suasana pagi dan sore harinya berbeda.
Untuk menyaksikan sunrise, kita setidaknya berangkat dari Pos 9 menuju puncak sebelum pukul 6 pagi. Pagi hari, anginnya cukup bersahabat. Kita bisa menyaksikan matahari perlahan terbit, membuat hamparan perbukitan di sekitarnya terlihat jelas. Jelang siang, anginnya kembali kencang. Sunset nggak kalah cantiknya. Matahari perlahan tenggelam.
Dan hamparan bukit pun perlahan tertutup awan. Dalam sekejap, kita hanya bisa menyaksikan lautan awan putih. Jika angin semakin kencang dan hari makin gelap, pertanda waktunya kembali ke Pos 9.
Ceritanya Kini Takkan Lagi Sama
Kini cerita tentang puncak Gunung Bulusaraung takkan lagi sama. Puncaknya tidak ke mana-mana, keindahannya tetap memesona. Namun kini, Gunung Bulusaraung akan dikenang sebagai lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500.
Pesawat milik Indonesia Air Transport bernomor registrasi PK-THT hilang kontak, Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Jogjakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Sulsel, pukul 13.17 Wita. Informasi diterima Basarnas dari Kantor Pelayanan Navigasi, AirNav Indonesia Cabang MATSC, di Makassar, pesawat tersebut hilang kontak di titik koordinat 0457’08” S 11942’54”E.
Penemuan Serpihan Pesawat
Beberapa saat setelahnya, viral video penemuan serpihan pesawat ATR 42-500. Serpihan pesawat pertama kali ditemukan dua pendaki, Reski (20) dan Muslimin (18), yang saat itu berada di Puncak Gunung Bulusaraung, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur. Saat itu, Reski maupun Muslimin tidak tahu ada pesawat hilang. Mereka baru mengetahuinya setelah turun dari puncak.
Keduanya mendaki sekitar pukul 10.00 dari Desa Tompobulu. Motor disimpan di basecamp, Pos 1 sekitar 810 MDPL. Lama mendaki sekitar 2.5 jam. Mereka melalui jalur pendakian resmi. Dia tiba di Pos 9 sekitar pukul 12.00 wita. Di puncak dia sempat melihat ada pendaki lain. Jumlahnya sekitar 6 orang. Ada warga Pangkep dan Makassar. Anak muda seusia mereka. Pukul 14.00 wita dia kembali tiba ke desa Tompobulu sekitar pukul 16.30 wita. Dia baru tahu saat ada kabar kenjadian dari Info kejadian Pangkep.
Dia lalu kirim dan upload video penemuannya. Lalu dia naik motor bersama Muslimin, rekannya ke Labakkang, sekitar 1,5 jam. Jarak antara Balocci ke Labakkang sekitar 32 km, ke arah barat. Video detik-detik penemuan serpihan pesawat ATR 42-500 itupun viral di Instagram. Juga melintas di beranda Instagram saya. Kaget dan syok, reaksi saya saat melihat video tersebut. Setelahnya, saya langsung browsing terkait Pesawat ATR 42-500 PK-THT. Benar saja, pesawat mengangkut 10 orang yang terdiri dari awak dan penumpang, dikabarkan hilang kontak.
Penemuan serpihan pesawat ATR 42-500 oleh Reski dan Muslimin jadi kunci penting pencarian. Semula Pesawat ATR 42-500 diduga jatuh di sekitar Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Tim SAR pun mendirikan Posko di Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (18/11/2026). Setelah video itu viral, tim SAR pun memusatkan pencarian ke Gunung Bulusaraung.
Tim SAR mendirikan posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Posko Desa Tompo Bulu ini, berlokasi di kaki gunung Bulusaraung sekitar 73,3 kilometer poros Pangkep-Barru. Pada Minggu (18/1/2026) pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan menemukan serpihan awal pesawat berdasarkan laporan Posko Pencarian. “Lokasinya berada di koordinat 04°55’48” LS dan 119°44’52” BT,” kata Kepala BPBD Makassar Muh Fadli Tahar, Minggu. Hingga Senin (19/1/2026), sudah dua korban ditemukan. Korban pertama ditemukan meninggal dunia, Minggu (18/1/2026). Korban ditemukan Arman warga Desa Tompobulu sekitar pukul 14.20 Wita. Korban berada di dalam jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari titik serpihan utama pesawat.
“Posisinya tengkurap, laki-laki, masih utuh tapi pakaiannya sudah tidak ada saya lihat,” kata Arman sambil menunjukkan foto korban di Posko AJU Desa Tompobulu, Minggu (18/1/2026). Setelah menemukan posisi korban, Arman pun menginformasikan temuannya itu ke tim SAR. Korban kedua ditemukan di kedalaman 500 meter, Senin (19/1/2026) sekitar pukul 14.10 Wita. “Dari hasil komunikasi kami yang terhubung langsung dengan tim di lapangan, hari ini kembali ditemukan satu korban. Kira-kira 15 menit yang lalu,” kata Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi, saat konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Senin, pukul 14.25 Wita.
Dengan penemuan tersebut, total korban yang telah ditemukan hingga hari ketiga pencarian berjumlah dua orang. Korban kedua diduga berjenis kelamin perempuan. Semoga delapan korban lainnya segera ditemukan. Amin.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












