Kekacauan pasar kerja: serapan rendah, pengangguran tinggi, PHK rekor

Masalah Pengangguran dan PHK yang Menjadi Tantangan Besar

Pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi isu krusial yang dihadapi pemeraitah. Angka pengangguran yang tinggi dan jumlah pekerja yang mengalami PHK yang meningkat setiap tahunnya menunjukkan bahwa investasi yang diharapkan mampu mengurangi masalah ini justru tidak memberikan dampak yang signifikan.

Data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi menunjukkan bahwa selama 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun. Namun, dari angka tersebut, hanya 2.710.532 orang yang berhasil terserap sebagai tenaga kerja. Artinya, setiap satu orang tenaga kerja membutuhkan investasi sekitar Rp712,48 juta. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 2024, realisasi investasi mencapai Rp1.714,2 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.456.130 orang. Dengan demikian, setiap satu orang tenaga kerja membutuhkan investasi sekitar Rp698,1 juta.

Angka ini menunjukkan bahwa rasio penyerapan tenaga kerja terhadap realisasi investasi semakin menurun. Meskipun nilai investasi tumbuh positif, kapasitas untuk menyerap tenaga kerja justru memburuk. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja adalah tujuan utama dari investasi. Namun, nyatanya, investasi yang terealisasi justru semakin ‘tidak berkualitas’.

Pemandangan Kontras: Peningkatan PHK

Selain itu, tren pemutusan hubungan kerja (PHK) juga meningkat. Pada tahun 2025, jumlah PHK mencapai rekor tertinggi sejak pandemi. Data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 88.519 orang mengalami PHK pada periode Januari–Desember 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 25.114 orang pada 2022 dan 64.855 orang pada 2023.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus PHK terbanyak. Sebanyak 18.815 orang di Jabar mengalami PHK selama tahun 2025. Diikuti oleh Jawa Tengah dengan 14.700 orang, Banten dengan 10.376 pekerja, DKI Jakarta dengan 6.311 orang, dan Jawa Timur dengan 5.949 orang. Beberapa provinsi lain seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Riau juga memiliki angka PHK yang cukup tinggi.

Risiko Terbesar Ekonomi Indonesia

Laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) menempatkan ketiadaan peluang ekonomi atau pengangguran sebagai risiko terbesar bagi ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan (2026—2028). Dalam dokumen bertajuk Global Risks Report 2026, WEF menjelaskan bahwa kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran menjadi ancaman utama.

Temuan ini didasarkan pada Executive Opinion Survey 2025 yang menjaring persepsi para pimpinan bisnis di dalam maupun luar negeri. Indonesia menjadi salah satu dari 27 negara yang menganggap kurangnya peluang ekonomi sebagai ancaman utama.

WEF memperingatkan bahwa masalah pengangguran dapat memicu berbagai isu lain, seperti ekstremisme, ketidakpercayaan terhadap institusi, serta pengawasan berlebihan. Selain itu, kemerosotan prospek pekerjaan secara struktural juga terlihat dari stagnasi upah, meningkatnya pengangguran, dan perpindahan tenaga kerja akibat otomatisasi atau transisi hijau.

Ancaman Lain yang Mengancam Ekonomi

Risiko pengangguran juga berkelindan erat dengan ancaman layanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai. Lemahnya bantalan sosial bagi masyarakat rentan dinilai dapat memperparah ketimpangan, terutama saat guncangan ekonomi terjadi.

Di peringkat ketiga, ancaman dampak buruk teknologi akal imitasi (adverse outcomes of AI technologies) juga dikhawatirkan akan memengaruhi perekonomian Indonesia. WEF menilai bahwa adopsi teknologi tinggi tanpa kesiapan sumber daya manusia justru akan memperparah krisis pengangguran struktural.

Sementara itu, risiko makroekonomi klasik seperti penurunan perekonomian dan inflasi juga menjadi ancaman yang perlu diperhatikan. Survei Executive Opinion Survey 2025 dari WEF bertujuan mengidentifikasi risiko-risiko yang menjadi ancaman paling serius bagi setiap negara dalam dua tahun ke depan.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?