Sebaliknya, Raja Charles III mengundang Presiden Israel, Reuven Rivlin, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menghadiri pesta makan malam di Istana Buckingham pada awal 2020.
Kedua pemimpin Israel itu adalah tamu negara pertama yang diundang ke istana oleh Raja Charles III.
Charles juga terlibat dalam berbagai kegiatan pro-Israel, seperti menghadiri acara peringatan Holocaust dan mengunjungi situs-situs bersejarah Yahudi di Israel dan Polandia.
3. Pandangan tentang Konflik Israel-Palestina
Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles memiliki pandangan yang berbeda tentang konflik Israel-Palestina.
Sebagai pemimpin monarki yang netral, Ratu Elizabeth II tidak pernah secara terbuka menyatakan dukungannya kepada salah satu pihak.
Sementara itu, Raja Charles III telah secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada Israel dalam konflik tersebut.
Ia juga telah mengecam serangan roket Hamas ke Israel dan menyatakan dukungannya kepada Israel untuk melindungi diri.
Jakartatalks.com – Raja Charles III diketahui memiliki sikap dan pandangan yang berbeda dengan ibunya, Ratu Elizabeth II terkait agresi Israel ke Palestina. Sikap Kerajaan Inggris terhadap Israel belakangan ini menunjukkan bahwa Pemerintahan Raja Charles III telah menjadi sekutu yang kuat bagi Negeri Yahudi. Bahkan, Inggris telah mengirimkan Kapal Destroyer mereka untuk membantu Israel menghadapi kasus yang disebabkan Houthi di Laut Merah.
Keberpihakan Inggris yang condong ke arah Israel ini menandakan bahwa mereka telah meninggalkan sikap netral yang selama ini dipegang selama masa kepemimpinan Ratu Elizabeth II. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perbedaan yang jelas antara Raja Charles III dan Ratu Elizabeth II terkait agresi Israel.
Pertama, terkait kunjungan ke Israel. Meskipun Ratu Elizabeth II telah mengunjungi lebih dari 120 negara selama 70 tahun berkuasa, ia belum pernah menginjakkan kakinya ke Israel. Pada tahun 2018, sang ratu memilih untuk mengirim cucunya, Pangeran William, untuk menghadiri peringatan 70 tahun kemerdekaan Israel. Hal ini dianggap sebagai bentuk boikot tidak resmi terhadap negara tersebut. Sementara itu, Raja Charles III telah melakukan kunjungan resmi sebagai Pangeran Wales ke Israel dan Tepi Barat yang diduduki pada bulan Januari 2020. Ia juga mengunjungi kota Palestina, Betlehem, dan berdoa untuk perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah.
Kedua, persepsi tentang warga Israel. Ratu Elizabeth II diketahui memiliki hubungan yang dingin dengan Israel dan menolak menerima pejabat Zionis di Istana Buckingham atau mengunjungi negara tersebut. Namun, Raja Charles III justru mengundang Presiden Israel dan Perdana Menteri Israel untuk menghadiri pesta makan malam di Istana Buckingham pada awal 2020. Kedua pemimpin Israel ini adalah tamu negara pertama yang diundang ke istana oleh Raja Charles III.
Ketiga, pandangan tentang konflik Israel-Palestina. Sebagai pemimpin monarki yang netral, Ratu Elizabeth II tidak pernah secara terbuka menyatakan dukungannya kepada salah satu pihak dalam konflik tersebut. Namun, Raja Charles III telah secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada Israel dan mengecam serangan roket Hamas ke negara tersebut. Ia juga menyatakan dukungannya kepada Israel untuk melindungi diri.
Perbedaan sikap dan pandangan ini menunjukkan bahwa Raja Charles III memiliki sikap yang lebih pro-Israel daripada ibunya. Hal ini juga menandakan perubahan sikap yang signifikan dalam kebijakan luar negeri Inggris terhadap Israel. Dengan keberpihakan yang jelas kepada Israel, Pemerintahan Raja Charles III telah menjadi sekutu yang kuat bagi Negeri Yahudi.






