JAKARTATALKS.COM – Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk mewujudkan Program Food Estate demi mencapai swasembada pangan. Program ini menjadi salah satu kunci dalam cita-citanya untuk mencapai kedaulatan pangan dengan pengembangan pertanian skala besar di berbagai daerah.
Namun, penggunaan lahan pertanian untuk mendukung Program Food Estate belum optimal. Pemerintah masih lebih memilih membuka lahan baru dari hutan daripada mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada.
Sebelumnya, pemerintah berencana membuka lahan seluas 3 juta hektare (Ha) di Merauke. Dalam visi misi Presiden Prabowo, targetnya adalah menambah 4 juta Ha lahan pertanian untuk padi, jagung, singkong, dan tebu hingga tahun 2029.
Pengamat Ekonomi dan Pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Khudori menyatakan bahwa lahan untuk Program Food Estate yang sudah dibuka sebelumnya belum dioptimalkan dengan baik. Program Food Estate sendiri bukanlah hal baru bagi Indonesia, sudah ada sejak era kolonial Belanda dan berlanjut di era Orde Baru, SBY, dan Jokowi. Namun, tingkat keberhasilannya masih rendah dan banyak lahan eks food estate yang belum dimanfaatkan.
Salah satu contohnya adalah bekas pembukaan lahan gambut pada tahun 1995-1996 dengan luas 1,4 juta Ha. Meskipun sebagian sudah ditempati oleh transmigran, namun masih banyak lahan yang tidak dimanfaatkan dan tidak diketahui oleh publik.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”






