Berita  

“Perdebatan Sengit tentang Etika: Lanjutan Kisah Ngeceng yang Menghebohkan”

"Kisah Ngeceng yang Menghebohkan: Perdebatan Sengit tentang Etika Berlanjut"

Jakartatalks.com – Ahmad Sihabudin

Menurut penelitian Darmani, ngeceng merupakan sebuah aktivitas komunikasi yang membutuhkan pertimbangan dan perhatian akan etika yang berlaku di masyarakat. Dari segi tata bahasa, ngeceng dapat diartikan sebagai sebuah kata kerja yang jika dilakukan secara berbalas-balasan, disebut sebagai ceng-cengan. Secara umum, ceng-cengan adalah sebuah kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh individu dalam satu kelompok (Darmani, 1990). Biasanya, kegiatan ini menggunakan kata-kata yang lucu dan dianggap sesuai oleh para peserta yang terlibat. Namun, ngeceng juga merupakan sebuah aktivitas komunikasi yang memperhatikan etika, seperti tempat, waktu, dan posisi seseorang.

Intensitas penggunaan kata-kata dalam kegiatan ceng-cengan tidak memiliki aturan yang baku, namun bukan berarti dapat diungkapkan secara sembarangan tanpa memperhatikan tempat, waktu, dan orang yang dihadapi. Oleh karena itu, dalam ceng-cengan dikenal istilah “kebangetan” yang menandakan sebuah tindakan yang terlalu berlebihan. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ngeceng yang dianggap kebangetan? Ngeceng yang dikategorikan sebagai kebangetan antara lain adalah: 1) ngeceng yang menyinggung orang tua, 2) ngeceng dalam situasi yang dianggap tidak pantas. Contohnya adalah ketika seseorang mengatakan “Babenya ganteng kaya ikan harwana” kepada teman yang memiliki ayah yang tinggi dan kurus.

Dari kedua bentuk ngeceng yang dianggap kebangetan, ngeceng dalam situasi yang dianggap tidak pantas dianggap sebagai yang paling “rawan” oleh anak muda. Pada situasi tersebut, objek yang dituju cenderung lebih sensitif dan terlalu dimanja. Situasi yang paling rawan tersebut adalah: 1) ketika sedang berjalan bersama pacar, terutama jika pacar tersebut bukan berasal dari kampung yang sama, 2) ketika sedang bersama mertua atau calon mertua. Dalam situasi yang paling rawan ini, teman-teman biasanya sudah tahu batas-batas yang dapat mereka lakukan.

Namun, jika terjadi ngeceng, biasanya hanya dalam bentuk yang sederhana dan bernada positif, seperti “mesra nih yee”, “pegangan dong yang kenceng entar kepeleset”, atau “Eeee, kita jadi kepengen ngiri”. Awalnya, perasaan yang diceng sudah mulai panas dingin karena khawatir akan kata-kata yang dapat menyakiti. Namun, setelah mendengar nadanya yang hanya seperti sapaan, perasaan tersebut berubah menjadi bangga karena dapat menggandeng pacar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tetap memperhatikan adat kepatutan dan etika yang berlaku.

Tentang etika ngeceng, anak muda cenderung enggan untuk ngeceng dengan bentuk yang terlalu berat di situasi yang dianggap rawan, bukan karena tidak enak dengan teman yang menjadi pacar, namun karena mereka memperhitungkan konsekuensi jangka panjang jika terjadi situasi yang sama di kemudian hari. Seperti yang dikatakan oleh salah satu informan, “Ngeceng temen lagi pacaran lebih baik jangan deh, soalnya kalo die kagak terime bisa jadi gawat, di samping bisa merusak tali persahabatan ngebalesnya yang kagak kire-kire, bukan matakan babak belur (boleh jadi amat rusak)”. Hal ini menunjukkan bahwa ceng-cengan memang harus memperhatikan waktu, tempat, dan kepada siapa ditujukan, serta memperhatikan etika dan adabnya.

Untuk mengetahui seberapa jauh perasaan anak muda jika diceng, digunakanlah variabel tingkat perasaan sebagai tolok ukur yang terdiri dari marah, tersinggung, biasa-biasa saja, dan berusaha akan membalas jika diceng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan mengatakan bahwa mereka hanya merasa biasa-biasa saja ketika diceng. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa mereka merasa tersinggung jika diceng secara berlebihan di depan teman.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?