Provinsi Paling Makmur dan Miskin di Indonesia 2025, Nomor Satu Menggegerkan

Tingkat Kemiskinan Indonesia Mengalami Penurunan, Tapi Ketimpangan Masih Terasa

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Susenas Maret 2025 mencatat bahwa tingkat kemiskinan nasional turun menjadi 8,47 persen, lebih rendah dibandingkan 8,57 persen pada September 2024. Secara jumlah, penduduk miskin kini berada di angka 23,85 juta orang, turun sebanyak 200 ribu orang dalam enam bulan terakhir.

Meski kabar baik ini patut disyukuri, data lengkap BPS menunjukkan bahwa ada provinsi dengan tingkat kemiskinan sangat rendah, namun juga ada daerah yang hampir sepertiga penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan antarwilayah tetap menjadi tantangan besar bagi pemerintah.

Bali Jadi Provinsi dengan Tingkat Kemiskinan Terendah

Dalam rilis BPS per 25 Juli 2025, Bali muncul sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah nasional, yakni 3,72 persen. Ekonomi Bali yang bergantung pada sektor pariwisata kembali pulih, ditambah pertumbuhan UMKM dan konsumsi rumah tangga yang terus meningkat.

Posisi berikutnya ditempati oleh:

  • Kalimantan Selatan – 3,84%
  • DKI Jakarta – 4,28%
  • Kepulauan Riau – 4,44%
  • Bangka Belitung – 5,00%

Provinsi Kalimantan secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif. Tiga di antaranya masuk 10 teratas dalam provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah, menggambarkan stabilitas ekonomi di kawasan tersebut.

Papua Pegunungan di Posisi Teratas Kemiskinan

Di sisi lain Indonesia, pemandangan berbeda tampak jelas. Papua Pegunungan mencatat tingkat kemiskinan 30,03 persen, tertinggi se-Indonesia. Angka ini berarti hampir satu dari tiga penduduk di provinsi tersebut hidup di bawah garis kemiskinan.

Kondisi ini diikuti oleh:

  • Papua Tengah – 28,90%
  • Papua Barat – 20,66%
  • Papua Selatan – 19,71%
  • Papua – 19,16%

Kawasan Indonesia Timur, terutama Papua, menghadapi tantangan bertahun-tahun: keterbatasan infrastruktur, akses pendidikan, keterjangkauan pangan, dan minimnya pasar kerja formal. Ketimpangan geografis dan biaya logistik yang tinggi semakin memperlambat peningkatan kesejahteraan.

Perdesaan Menurun, Perkotaan Justru Meningkat

Data BPS menunjukkan fenomena menarik:

  • Kemiskinan Perdesaan turun menjadi 11,03 persen
  • Kemiskinan Perkotaan naik menjadi 6,73 persen

Kenaikan kemiskinan kota diduga dipengaruhi oleh meningkatnya harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang semakin tinggi, serta kompetisi kerja yang ketat. Sementara itu, program bantuan desa, pertanian, dan peningkatan produktivitas sektor primer ikut mendorong penurunan kemiskinan di daerah pedesaan.

Garis Kemiskinan: Rumah Tangga Miskin Berpengeluaran di Bawah Rp 2,8 Juta

Deputi Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa garis kemiskinan nasional pada Maret 2025 berada di angka Rp 609.160 per kapita per bulan. Jika dirata-ratakan dengan jumlah anggota rumah tangga di Indonesia yang mencapai 4,72 orang, maka sebuah rumah tangga dikategorikan miskin bila pengeluarannya di bawah Rp 2.875.235 per bulan.

Ateng menambahkan, garis kemiskinan bersifat lokal—artinya setiap daerah memiliki batasan yang berbeda tergantung harga kebutuhan di masing-masing wilayah. Daerah-daerah di timur Indonesia misalnya, memiliki garis kemiskinan yang lebih tinggi karena biaya logistik yang mahal.

Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah: Penduduk Miskin Terbanyak

Persentase kemiskinan rendah bukan berarti jumlah penduduk miskinnya sedikit. Provinsi berpenduduk besar seperti Jawa tetap menyumbang penduduk miskin terbesar secara absolut.

Berikut provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak:

  • Jawa Timur – 3.875.880 orang
  • Jawa Barat – 3.654.740 orang
  • Jawa Tengah – 3.366.690 orang
  • Sumatera Utara – 1.140.250 orang
  • Nusa Tenggara Timur – 1.088.780 orang
  • Sumatera Selatan – 919.600 orang
  • Lampung – 887.020 orang
  • Banten – 772.780 orang
  • Aceh – 704.690 orang
  • Sulawesi Selatan – 698.130 orang

Data ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya terkait persentase, tetapi juga jumlah populasi yang terdampak.

Indonesia Membaik, Tapi Ketimpangan Masih Lebar

Secara nasional, Indonesia terus mencatatkan penurunan kemiskinan. Namun narasi besar yang lebih penting adalah ketimpangan kesejahteraan antarwilayah yang masih ekstrem. Di barat Indonesia, kemiskinan bisa berada di bawah 4 persen. Di Papua, angkanya bisa tembus 30 persen.

Perbaikan ekonomi perlu dibarengi pemetaan masalah yang lebih tajam: dari infrastruktur hingga kualitas layanan dasar. Bila tidak, penurunan kemiskinan akan terus timpang dan tidak merata.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?