Persebaya Surabaya Tumbang: Trio Striker Asing Rp 12,61 Miliar Tak Berdaya

Performa Trio Striker Asing Persebaya Surabaya Belum Memenuhi Harapan

Persebaya Surabaya, yang telah melakukan investasi besar dengan mendatangkan tiga pemain asing di lini depan, yaitu Mihailo Perovic, Dejan Tumbas, dan Diego Mauricio, belum berhasil menunjukkan dampak signifikan dalam pertandingan. Total nilai pasar ketiga pemain ini mencapai Rp 12,61 miliar, namun hingga saat ini, performa mereka belum memenuhi ekspektasi.

Pada pekan ke-14 Super League 2025/2026, Persebaya hanya mampu meraih satu poin setelah bermain imbang melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Tim yang kini dilatih oleh pelatih interim Uston Nawawi masih kesulitan dalam menciptakan peluang gol yang efektif.

Lini Serang yang Kehilangan Arah

Kondisi ini semakin memperburuk situasi karena Persebaya Surabaya tidak lagi mencetak gol sejak pekan ke-11, saat menghadapi Persis Solo di Gelora Bung Tomo. Gol terakhir dari striker Green Force terjadi tiga pekan lalu, ketika Mihailo Perovic mencatatkan namanya di papan skor bersama Francisco Rivera. Setelah itu, trio pemain depan tampak kehilangan tajinya dan kesulitan memecah kebuntuan.

Mihailo Perovic, yang memiliki potensi besar sebagai ujung tombak, datang dengan nilai pasar Rp 4,35 miliar. Namun, catatan dua gol dari 12 laga jelas belum sesuai harapan. xG-nya mencapai 3,43, tetapi total percobaan sebanyak 13 kali masih menunjukkan efektivitas yang rendah. Meski telah bermain selama 929 menit, kontribusinya terhadap produktivitas tim masih minim.

Dejan Tumbas yang Kesulitan Menemukan Posisi Ideal

Situasi serupa juga dialami Dejan Tumbas, yang memiliki nilai pasar Rp 3,48 miliar. Pemain asal Serbia ini beberapa kali berubah posisi, baik sebagai gelandang bertahan era Paul Munster maupun sebagai fullback era Eduardo Perez. Perubahan posisi ini membuat ritme permainan ikut terganggu.

Dejan telah bermain selama 827 menit dalam sepuluh pertandingan, tetapi belum mencetak satu gol pun meskipun memiliki xG 2,59. Dari sembilan percobaan yang ia lakukan, tidak ada ancaman berarti yang muncul. Keputusan kartu merah yang pernah diterimanya juga turut memperburuk situasi.

Suporter Persebaya, Bonek, mulai mempertanyakan keputusan rotasi posisi yang membuat Dejan kehilangan perannya sebagai penyerang tengah. Banyak yang meyakini bahwa ia bisa lebih tajam jika dikembalikan ke posisi naturalnya sebagai striker dan diberi kesempatan penuh di kotak penalti.

Diego Mauricio yang Minim Kontribusi

Sementara itu, Diego Mauricio, yang memiliki nilai pasar tertinggi sebesar Rp 4,78 miliar, juga belum memberikan kontribusi yang signifikan. Ia baru tampil dua kali dengan total 33 menit dan hanya melepaskan satu percobaan tanpa gol. Mantan penyerang asal Brasil ini memiliki xG 0,05 dan belum memberikan assist atau peluang berarti.

Minimnya kontribusi dari tiga pemain yang seharusnya menjadi mesin gol menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan suporter. Bonek bahkan mengungkapkan rasa frustrasi di media sosial karena sudah terlalu sering kecewa dengan performa striker asing yang tak kunjung gacor.

Rasa Frustrasi Suporter

Beberapa komentar suporter mencerminkan rasa lelah dan kecewa, seperti sindiran mengenai “setelan pasar” atau keluhan pemain asing yang tak lebih baik dari pemain lokal. Nada pesimistis mulai muncul karena lini depan Persebaya Surabaya seperti kehilangan identitas permainan menyerang yang dulu menjadi ciri khas.

Di tengah tekanan performa, Persebaya Surabaya harus bergerak cepat untuk memperbaiki efektivitas lini depan agar tidak semakin tertinggal di papan klasemen. Dengan 17 poin di posisi kedelapan, peluang bersaing di papan atas masih terbuka jika trio striker ini mampu bangkit.

Pertanyaan besar kini adalah apakah Perovic, Dejan, dan Diego bisa menemukan ketajaman di pekan-pekan berikutnya. Atau justru mereka akan menambah daftar panjang striker asing yang gagal bersinar di Persebaya Surabaya dan membuat investasi Rp 12,61 miliar terasa sia-sia.

Harapan tetap ada karena kompetisi masih panjang dan setiap pemain memiliki kesempatan membalikkan keadaan. Namun waktu terus berjalan dan Persebaya Surabaya butuh gol sesegera mungkin agar tidak terus terpuruk dalam krisis yang berlarut-larut.

Fitri Rafifah

Seorang Jurnalis yang rutin meliput dunia kecantikan, lifestyle, dan keseharian. Ia suka mencoba skincare, menonton ulasan produk, dan memotret detail kecil. Hobinya membantu meningkatkan sensitivitasnya pada tren. Motto: “Kecantikan adalah cerita yang terus berubah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?