Bantuan Darurat, Korban Banjir Tapteng Sumut Rampok Minimarket dan Bulog Karena Kelaparan

Penjarahan di Minimarket dan Gudang Bulog Akibat Kekurangan Bantuan Pangan

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), telah menyebabkan warga terdampak mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan makanan. Akibatnya, beberapa warga mulai melakukan penjarahan terhadap minimarket hingga gudang Bulog di wilayah tersebut.

Penjarahan terjadi pada Sabtu (29/11/2025) karena bahan sembako di rumah warga sudah habis. Syakila, seorang warga setempat, menjelaskan bahwa kebutuhan pokok seperti telur dan cabai sangat mahal setelah bencana terjadi. Harga telur mencapai 15 ribu per butir, sedangkan cabai bisa mencapai 200 ribu per kilogram. Hal ini membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain menjarah.

Menurut Syakila, meskipun bantuan logistik sudah disalurkan, distribusi bantuan belum merata. Banyak warga harus antre di Kantor Bupati untuk mendapatkan sembako, namun antrean terlalu panjang dan bantuan tidak cukup. Ini memicu tindakan ekstrem dari warga yang akhirnya memilih untuk menjarah minimarket dan gudang Bulog.

Penjarahan Terjadi di Berbagai Titik

Minimarket yang dijarah termasuk Indomaret dan Alfamart di Kecamatan Tukka, Hajoran, dan Sarudik. Di Sibolga, penjarahan juga terjadi di konter HP. Bahkan, gudang Bulog yang menyimpan beras, minyak goreng, dan gula juga dijarah. Warga berlarian untuk mengambil bahan sembako yang tersisa di minimarket, sementara barang di toko-toko tersebut sudah kosong.

Gudang Bulog Sarudik Sibolga, yang berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan distribusi pangan untuk wilayah setempat, juga menjadi target penjarahan. Ratusan warga berkumpul di depan gudang dan merobohkan pagar gerbang untuk masuk. Mereka kemudian mengambil beras dan minyak goreng dari dalam gudang. Aparat Polsek, Koramil, dan personel keamanan BULOG hadir di lokasi, tetapi tidak mampu menghalangi massa yang panik dan kelaparan.

Kondisi Darurat di Sibolga

Sibolga masih lumpuh total akibat bencana banjir dan longsor. Selama lima hari, warga tidak memiliki listrik, jaringan komunikasi, atau akses logistik. Akibatnya, kondisi semakin memburuk dan memicu gelombang kepanikan. Harga pangan di pasar-pasar kecil melonjak tajam, dengan cabai mencapai 300 ribu per kilogram. Bahan pangan lain sulit ditemukan, sehingga warga semakin nekat untuk mencari makanan dengan cara apa pun.

Perum BULOG Kanwil Sumatra Utara menyatakan bahwa kondisi sosial di Sibolga memburuk setelah infrastruktur vital rusak parah. Jalan-jalan penghubung tertimbun longsor, jembatan putus, dan seluruh wilayah gelap gulita akibat listrik padam. Jaringan komunikasi masih mati total, sehingga warga tidak mengetahui perkembangan evakuasi atau jadwal kedatangan bantuan.

Bantuan Logistik Masih Tertunda

Meskipun Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution telah tiba di Bandara Pinang Sori sejak Jumat (28/11/2025) dan membawa bahan logistik sebanyak dua truk, bantuan logistik sebanyak 5,5 ton tahap kedua baru saja tiba di Tapteng. Namun, hingga malam ketika penjarahan terjadi di berbagai titik, bantuan tersebut belum sampai ke tangan masyarakat.

Keterlambatan ini memperburuk kondisi warga yang sudah lima hari bertahan tanpa suplai pangan. Situasi darurat ini memicu aksi penjarahan yang semakin masif.

Korban Jiwa Bertambah

Tim SAR Gabungan berhasil menemukan dua korban tanah longsor di area Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Kecamatan Aek Sibundong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara (Sumut). Pencarian masih dilakukan terhadap tiga korban lainnya yang belum ditemukan.

Longsor terjadi pada Rabu (26/11/2025) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Material tanah dan bebatuan menimpa area kerja proyek dan membuat sejumlah pekerja tertimbun. Operasi pencarian melibatkan Basarnas Medan, TNI-Polri, BPBD, pemerintah daerah, pihak PLTM, serta unsur potensi SAR.

Data Bencana yang Menyedihkan

Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra Utara, Sumatara Barat, dan Aceh sejak 26 November 2025 menimbulkan dampak besar. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 29 November 2025, tercatat 174 orang meninggal dunia, 79 orang masih hilang, dan 12 orang luka-luka. Sebanyak 12.546 kepala keluarga mengungsi, sementara kerusakan rumah dan jembatan masih dalam proses verifikasi.

BNPB menegaskan bahwa kerusakan infrastruktur cukup parah sehingga menghambat evakuasi dan distribusi bantuan. Peristiwa ini menyoroti pentingnya mitigasi bencana di proyek energi terbarukan yang berada di wilayah rawan longsor.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?