Masa Depan Kiper PSIM Yogyakarta Terang
Masa depan kiper PSIM Yogyakarta tampaknya sangat cerah, dengan adanya tiga pemain tangguh yang siap menjadi andalan tim. Ketiganya adalah Cahya Supriadi, Harlan Suardi, dan Khairul Fikri. Performa masing-masing dari mereka menunjukkan potensi besar dalam menjaga gawang PSIM di berbagai pertandingan.
Khairul Fikri, yang merupakan kiper ketiga PSIM, mendapatkan apresiasi tinggi setelah menjalani debutnya melawan Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Meskipun tidak berhasil mempersembahkan kemenangan atau cleen sheet, penampilannya dianggap cukup mengesankan.
Di stadion kebanggaan rakyat Indonesia itu, Jumat (28/11/2025) lalu, 56 ribu pasang mata tertuju ke lapangan menyaksikan debut Khairul Fikri di BRI Super League 2025/2026. Ia merasakan menit resmi pertamanya musim ini meski gagal mempersembahkan kemenangan atau setidaknya meraih cleen sheet. PSIM harus mengakui keunggulan tuan rumah Persija Jakarta 2-0 dalam pertandingan yang cukup menarik.
Kiper ketiga PSIM Yogyakarta, Khairul Fikri, mengaku memiliki pengalaman luar biasa selepas menjalani laga tersebut. Ia tampil tenang di babak pertama, menahan gempuran Macan Kemayoran dan membantu PSIM mengakhiri 45 menit pembuka dengan skor 0-0. Bahkan sejumlah penyelamatan krusialnya membuktikan bahwa label “kiper ketiga” tidak sepenuhnya berlaku baginya.
Meskipun dua gol dari pemain Persija bersarang ke gawangnya di babak kedua, performanya dianggap tidak mengecewakan. Pasalnya, untuk seorang pemain yang selama ini lebih banyak duduk di bangku cadangan, kematangannya mencuri perhatian.
Momentum Debut Berkat Cedera Pemain Utama
Momentumnya turun sebagai starter hadir karena kiper utama PSIM, Cahya Supriadi, sedang bertugas bersama Timnas U-23 di SEA Games 2025 Thailand. Sedangkan kiper kedua, Harlan Suardi, harus menepi akibat cedera di sesi latihan. Situasi darurat itu justru membuka pintu bagi Fikri dan ia memanfaatkannya dengan baik.
Di balik ketenangannya sepanjang pertandingan, Fikri mengaku malam itu penuh campuran rasa gugup, lega, dan syukur. “Alhamdulillah bersyukur kepada Tuhan, tim diberikan kesehatan dan saya diberikan kesempatan untuk bermain,” ujar Fikri. “Terima kasih kepada pelatih yang sudah memberikan kepercayaan kepada saya sehingga menjadikan motivasi saya bermain di malam itu.”
Tak lupa, ia menyampaikan apresiasi untuk Brajamusti dan The Maident yang tetap hadir mendukung PSIM di Jakarta. “Ndredek, setelah saya sekian lama nggak bermain akhirnya di kesempatan ini jujur ndredek sekali,” ucapnya.
Penilaian Pelatih PSIM Yogyakarta
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, memberi penilaian positif terhadap penampilan anak asuhnya tersebut. “Saya cukup puas dengan penampilan Fikri karena itu sangat sulit. Dia kiper ketiga, dan harus bermain di laga debutnya lawan Persija dengan atmosfer seperti itu,” kata Van Gastel. “Dia bisa melihat dan meningkatkan performanya. Saya berharap dia menikmati momen ini karena dia tidak selalu bermain di pertandingan dengan atmosfer seperti ini.”
Debut ini mungkin bukan yang sempurna dari sisi hasil, tetapi bagi Khairul Fikri Maarif, malam di GBK menjadi tonggak penting perjalanan kariernya. Dari kiper ketiga yang jarang tersorot, ia mulai menuliskan babak baru dengan keyakinan bahwa kesempatan, sekecil apa pun, pantas diperjuangkan.
Kiper Utama PSIM, Cahya Supriadi
Kelompok suporter sejati PSIM, Brajamusti dan The Maident, tidak perlu risau dengan masa depan kiper PSIM Yogyakarta, karena memiliki Cahya Supriadi, Harlan Suardi, dan Khairul Fikri. Sebelumnya, satu pemain menjadi pembeda di pertandingan PSIM Yogyakarta vs Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (22/11/2025).
Pertandingan kandang BRI Super League 2025/2026 yang berlangsung sengit tersebut akhirnya dimenangkan oleh PSIM dengan skor tipis 1-0. Perhatian utama justru banyak orang termasuk para suporter Brajamusti dan Maident tertuju pada performa gemilang sang kiper di bawah mistar gawang. Adalah Cahya Supriadi, yang tampil menakjubkan di sepanjang 90 menit dengan aksinya yang sukses mematahkan sejumlah peluang emas lawan.
Lewat aksi heroiknya, penjaga gawang kelahiran 11 Februari 2003 ini bahkan dinobatkan sebagai Man of The Match (MOTM) alias pemain terbaik dalam pertandingan. Sebagai informasi, trofi MOTM itu merupakan gelar ketiga bagi Cahya bersama PSIM Yogyakarta musim ini. Sebelumnya, sang penghenti tembakan itu juga berhasil meraihnya pada laga:
- PSIM vs Persib (24/8/2025).
- dan PSIM vs PSM (27/9/2025).
Pengakuan Besar untuk Cahya
Tidak heran, kemampuan Cahya dalam menjaga gawang tidak hanya mengundang decak kagum para pendukung fanatik PSIM. Ia bahkan juga mendapat pengakuan besar dari dua pelatih asing, yakni Jean-Paul Van Gastel (PSIM) dan Paul Munster (Bhayangkara). Pada konferensi pers pascapertandingan, kedua juru taktik tersebut sepakat menunjuk Cahya sebagai sosok pembeda di lapangan.
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel, tidak mampu menyembunyikan kekagumannya terhadap kiper mudanya tersebut. “Para pemain lawan (Bhayarngkara) tampil bagus, namun kiper kami, Cahya Supriadi, bermain sangat luar biasa dengan banyak penyelamatan krusial,” kata Van Gastel. Menurutnya, kontribusi Cahya di bawah mistar gawang PSIM sangat penting terlebih dalam menjaga keunggulan tim.
“Saya sangat puas dengan penampilannya. Dia mampu menggagalkan banyak peluang emas Bhayangkara,” tuturnya menambahkan.
Pujian dari Pelatih Lawan
Hal yang sama disampaikan pelatih Bhayangkara, Paul Munster tentang penampilan gemilang Cahya Supriadi. Walaupun timnya kalah, Munster dengan fairplay mengakui kecemerlangan Cahya dalam menjaga gawang PSIM menjadi penghalang utama bagi Bhayangkara. “Di babak kedua, kami terus menekan dan punya banyak peluang untuk mencetak gol. Menurut saya, pemain terbaik di laga ini adalah kiper mereka (Cahya Supriadi, Red),” tuturnya.
Lebih lanjut Paul Munster menyebut bahwa timnya sudah bermain baik dan berjuang hingga akhir, tetapi Cahya Supriadi jugalah yang menjadi penentu kegagalan penyelesaian akhir mereka. “Saya tidak bisa menyalahkan usaha para pemain, semua berjuang sampai akhir. Kami punya banyak peluang, hanya saja eksekusinya terkendala karena kiper mereka (PSIM) melakukan penyelamatan yang hebat,” imbuhnya.
Tidak tanggung-tanggun, Paul Munster bahkan menyatakan kekagumannya terhadap Cahya Supriadi pada akhir sesi jumpa pers. “Sekali lagi, bagi saya, kiper mereka adalah pemain terbaik,” katanya menegaskan.
Meroket di Era STY
Sebagai informasi, Cahya Supriadi, merupakan kiper yang namanya sempat melambung saat bergabung bersama timnas Indonesia U-20 di bawah asuhan Shin Tae-yong. Penampilannya yang tenang, reflek yang cepat, dan kemampuannya membaca permainan lawan menjadikannya salah satu aset berharga kala Timnas kelompok umur itu.
Selain itu, kiper berusia 22 tahun tersebut sebelumnya bergabung dengan Bekasi City FC dan pernah berseragam Persija Jakarta. Setelah tiga musim menjadi kiper cadangan di tim Macan Kemayoran, pemain kelahiran 11 Februari 2003 silam ini mendapatkan menit bermain secara reguler di klub Bekasi City FC dan menjadi pemain andalan.
Di gelaran Liga 2 musim 2024/2025, Cahya Supriadi berhasil mengemas 16 laga atau 1.386 menit dengan torehan delapan cleansheet dan kemasukan 10 gol. Dipanggil timnas U-23.
Cahya Supriadi Sukses Menunjukkan Performa Impresif
Cahya Supriadi sukses menunjukkan penampilan impresif di bawah mistar gawang PSIM Yogyakarta dalam tiga laga terakhir di BRI Super League 2025/2026. Kiper berusia 22 tahun ini dipanggil bergabung dengan skuad Timnas U-23 Indonesia guna menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 di Sidoarjo, pada 3-9 September 2025 lalu.
Selain Cahya, ada juga M Ardiansyah dan Daffa Fasya yang dipanggil untuk posisi penjaga gawang. Cahya Supriadi berhasil menunjukkan performa luar biasa dalam tiga pertandingan awal BRI Super League 2025/2026. Salah satu momen paling memukau adalah saat menghadapi Persib Bandung, Minggu (24/8/2025). Ia sukses menggagalkan penalti Marc Klok dan melakukan tiga penyelamatan krusial lainnya di menit-menit akhir pertandingan.
Manajer PSIM Yogyakarta, Dyaradzi Aufa Taruna, menyambut gembira kabar pemanggilan tersebut. “Pastinya senang, dari PSIM ada yang menyumbangkan nama untuk tim nasional untuk memperjuangkan bisa lolos ke Piala Asia,” ujarnya, Rabu (27/8/2025). Razzi menilai Cahya layak mendapat kepercayaan karena konsistensi penampilannya dan bisa bersaing untuk merebut first team meski usia masih muda.
“Cahya sudah dari lama kan memang langganan Timnas. Dengan apa yang sudah dia tunjukkan di tiga pertandingan PSIM ini, itu menunjukkan memang dia betul-betul layak,” tambahnya. Sejak bergabung dengan Laskar Mataram, kiper asal Karawang ini menjadi pilihan utama pelatih Jean-Paul van Gastel. Dia menggeser Harlan Suardi ke bangku cadangan.
Dalam tiga laga Super League, Cahya hanya kebobolan dua gol, yaitu satu saat melawan Persib Bandung dan satu lagi saat melawan Arema FC. Manajemen PSIM memberikan dukungan penuh kepada Cahya Supriadi. Razzi Taruna mengungkapkan bahwa klub merasa bangga memiliki pemain yang dapat berkontribusi untuk negara.
“Harapan dari saya, dan saya juga sudah bilang ke Cahya, doa terbaik dari kita PSIM. Kita mendukung Cahya dan tim nasional,” katanya. Pemain yang sebelumnya membela Persija Jakarta dan Bekasi City FC ini memang tidak asing dengan panggilan timnas. Cahya tercatat pernah tampil di berbagai level, antara lain lima kali untuk Timnas U19, enam kali untuk Timnas U20, sekali di Timnas U23, dan tiga kali untuk Timnas Senior.
Pengalaman internasionalnya juga mencakup partisipasi di Toulon Tournament 2022 di Prancis. Cahya menjadi kiper utama Timnas Indonesia saat berhadapan dengan tim-tim kuat seperti Aljazair, Venezuela, Meksiko, dan Ghana. Razzi Taruna juga berharap pemanggilan Cahya dapat menjadi awal bagi pemain-pemain PSIM lainnya untuk berkontribusi di level timnas.
“Jadi ketika ada pemain-pemain PSIM yang bisa membantu Timnas, itu menjadi sebuah kehormatan untuk kita,” ungkapnya. Sementara itu, Cahya sendiri mengaku senang bisa mendapatkan kesempatan bergabung untuk membela Timnas lagi. “Alhamdulillah saya diberi kesempatan lagi untuk bergabung dengan Timnas U23, semoga ini menjadi acuan saya untuk lebih baik lagi kedepannya. Saya berharap bisa memaksimalkan apa yang saya bisa di Timnas, dan akan membawa pelajarannya untuk diterapkan ke klub,” terangnya.












