Kisah Perjuangan Keluarga Polisi di Aceh Akibat Bencana Banjir dan Tanah Longsor
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, khususnya Aceh, telah meninggalkan kesan mendalam bagi banyak keluarga. Salah satunya adalah keluarga dari Bripka Taufik Ismail, PS. Panit 2 Binmas Air di Dit Polairud Polda Kalimantan Timur. Ia ikut serta dalam misi bantuan kemanusiaan awal pekan ini, namun perjalanan ke Aceh bukanlah hal yang mudah.
Awal Kekhawatiran
Taufik mengingat bagaimana awalnya menerima telepon dari keluarganya sebelum bencana terjadi. Mereka memberitahu bahwa air mulai naik di sekitar rumah. Namun, karena hujan deras sering terjadi, mereka tidak merasa khawatir.
Namun, beberapa jam kemudian, sinyal tiba-tiba hilang dan semua nomor telepon keluarga di Aceh tidak bisa dihubungi. Ini menjadi awal kepanikan. Selama empat hari, Taufik dan rekan-rekannya di Balikpapan tidak mendapatkan kabar apapun dari keluarga mereka.
Perjalanan Berisiko
Setelah hari keempat, Taufik akhirnya menerima telepon dari adik iparnya, seorang polisi di Pidie Jaya. Adik ipar itu nekat melakukan perjalanan selama tiga hari dengan berjalan kaki untuk mencari anak dan istrinya. Jika ada kendaraan lewat, dia akan ikut, tetapi jika tidak, ia tetap melanjutkan perjalanan kaki. Tujuan utamanya hanya satu: sampai ke rumah.
Kondisi Darurat
Dalam kondisi darurat, keluarga besar yang terdiri lebih dari 50 orang bertahan di titik-titik tinggi, termasuk di loteng rumah yang terendam lumpur setinggi pinggang. Lantai bawah penuh lumpur dan tidak bisa ditempati. Beberapa kerabat tinggal di loteng, sementara yang lain mengungsi ke dekat Lhokseumawe dan Banda Aceh karena hanya dua daerah tersebut yang lebih cepat mendapat akses komunikasi.
Keluarga Taufik akhirnya bertemu mertua dan tujuh cucunya di pengungsian dekat sebuah masjid di kawasan Panton Labu. Meskipun sempat melakukan video call, suasana yang terlihat membuat mereka menangis.
Tantangan dalam Penyelamatan
Taufik menyebut bahwa bantuan uang sempat dikirim, namun percuma. ATM tidak berfungsi dan semua terendam. Bahkan, orang celengan pun tidak terpakai. Yang mereka butuhkan saat ini hanya makanan dan obat-obatan.
Ia juga bercerita tentang pamannya, Suleman, 60 tahun, yang memiliki riwayat sakit jantung. Paman itu sempat menyelamatkan barang dan memindahkan mobil ke SPBU sebelum akhirnya duduk di samping istrinya. Dikira kecapekan, ternyata sudah meninggal.
Upacara Pemakaman yang Unik
Jenazah sang paman baru bisa dimakamkan setelah hampir 2,5 hari kemudian. Namun, pemakaman tidak dilakukan di makam umum karena banyak makam yang tenggelam. Akhirnya, keluarga sepakat memakamkan beliau di depan rumah yang lebih tinggi, di tanah yang tidak tersapu banjir.
Masih Ada yang Belum Terhubung
Meski sebagian besar keluarga sudah berhasil dihubungi, masih ada satu orang kerabat yang belum tersambung hingga kini: Sofian, mantan pimpinan di perkebunan wilayah Aceh Timur, yang terakhir berada di Langsa. Taufik terus memanggil lewat sambungan, tapi belum bisa terhubung. Ia hanya bisa berdoa, semoga Sofian selamat.
Dukungan Moril dan Harapan
Di tengah kesibukan sebagai anggota Polri dan relawan kemanusiaan, Taufik mengaku hanya bisa memberi dukungan moril bagi keluarganya yang masih tersendat akses di Aceh. Ia menyadari bahwa mengirim uang pun sulit. Untuk sekarang, yang penting adalah mereka dikirimi bantuan makanan dan obat dulu.
Kesimpulan
Kisah ini menjadi pengingat pilu bahwa bencana tidak hanya memutus jembatan dan jalan, tapi juga lini komunikasi keluarga. Namun, di dalamnya ada solidaritas dan keberanian, dari Balikpapan hingga Aceh, demi orang-orang yang mereka cintai.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.










