Era 80-an dalam Serial Horor yang Mengundang Rasa Nostalgia
Serial Stranger Things telah menjadi salah satu tontonan paling populer di era saat ini, terutama karena kemampuannya dalam menangkap nuansa nostalgia dari dekade 80-an. Dari estetika retro hingga kultur pop klasik, serial ini berhasil menciptakan atmosfer yang sangat ikonis. Namun, tidak hanya Stranger Things saja yang mampu membawa penonton kembali ke masa lalu dengan pengalaman seru dan menegangkan. Ada beberapa serial horor lain yang juga menghadirkan pesona era 80-an dengan berbagai elemen seperti slasher, misteri, dan supranatural.
Berikut adalah empat rekomendasi serial horor yang layak kamu tonton sambil menunggu episode terbaru dari petualangan Eleven dkk.
1. American Horror Story: 1984 (2019)
American Horror Story adalah serial antologi horor yang selalu mampu menyajikan cerita-cerita unik dan menarik. Di musim kesembilannya, 1984 mengajak penonton untuk bernostalgia dengan dekade tersebut melalui alur cerita yang memadukan unsur slasher klasik. Musim ini dibuat oleh Ryan Murphy sebagai bentuk penghormatan terhadap film-film legendaris seperti Friday the 13th dan Halloween.
Ceritanya berlatar musim panas tahun 1984, di mana lima sahabat bekerja sebagai konselor di Camp Redwood yang baru dibuka kembali. Tanpa mereka sadari, kamp ini memiliki sejarah kelam karena pernah menjadi lokasi pembantaian brutal oleh pembunuh berantai bernama Mr. Jingles. Di tengah situasi tersebut, Mr. Jingles juga kabur dari rumah sakit jiwa!
2. American Horror Story: NYC (2022)

Masih dengan karya Ryan Murphy, NYC adalah musim kesebelas dari American Horror Story yang mengambil setting New York pada awal dekade 1980-an. Berbeda dengan musim-musim sebelumnya, NYC lebih fokus pada alegori tentang awal munculnya epidemi HIV/AIDS di era tersebut.
Serial ini memiliki dua alur utama yang saling beririsan. Pertama, mengikuti detektif gay bernama Patrick (Russell Tovey) dan pacarnya yang menyelidiki serangkaian pembunuhan terhadap komunitas LGBTQ+. Sementara itu, alur kedua berfokus pada epidemi, di mana Helen (Billie Lourd), seorang dokter, menemukan virus misterius yang mulai menular ke pasien-pasiennya.
3. Dead of Summer (2016)

Dead of Summer adalah serial horor Freeform yang rilis di tahun yang sama dengan musim pertama Stranger Things. Meskipun kurang populer, serial ini menawarkan banyak elemen yang seru dan menarik. Dengan nuansa nostalgia era 80-an, misteri yang terjalin rapi, dan sentuhan supranatural, Dead of Summer bisa jadi pilihan yang tepat untuk para penggemar genre ini.
Ceritanya berlatar tahun 1989 di Camp Stillwater, di mana para konselor remaja datang lebih awal untuk membuka kembali sebuah perkemahan yang sudah lama tutup. Namun, musim panas yang mereka bayangkan bakal penuh momen manis justru berubah menjadi rentetan teror yang tak mereka duga. Ada kekuatan kuno yang terbangun, dan rahasia kelam para penghuni kamp mulai terbuka.
4. Hysteria! (2024)

Pernah mendengar kasus Satanic Panic yang sempat heboh di Amerika pada era 80-an? Fenomena ini menjadi inspirasi bagi banyak karya fiksi, termasuk Hysteria! yang mengemas isu tersebut menjadi tontonan penuh tensi, ironi, dan cita rasa rock metal.
Ceritanya mengikuti Dylan (Emjay Anthony), Jordy (Chiara Aurelia), dan Spud (Kezii Curtis), tiga remaja yang tergabung dalam band heavy metal bernama Dethkrunch yang sedang naik daun. Konflik muncul ketika serangkaian pembunuhan, penculikan, dan kejadian gak masuk akal mulai terjadi di kota kecil mereka, dan Dethkrunch dituding sebagai biang kerok. Apakah ini cuma paranoia massal atau memang ada sesuatu yang jauh lebih gelap?
Era 80-an selalu punya cara unik untuk membuat horor terasa lebih merinding, dan keempat serial ini menjadi bukti bahwa pesonanya masih tetap nendang hingga sekarang. Sambil menunggu Stranger Things Season 5 Volume 2, tidak ada salahnya kamu menjelajahi kengerian lain yang tak kalah seru dari dekade penuh nostalgia ini.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."












