Berbeda dari Emotikon, Ini Sejarah Emoji yang Mengubah Dunia Digital

Sejarah Awal Emoji yang Menarik

Sejarah emoji dimulai pada akhir 1990-an, ketika inovator di Jepang mulai bereksperimen dengan sistem ekspresi elektronik yang baru. Pada masa itu, mereka mencoba mengembangkan cara untuk menyampaikan emosi dan informasi melalui simbol-simbol sederhana yang dapat digunakan dalam komunikasi digital.

Sebelum emoji muncul, emotikon menjadi alat utama untuk mengekspresikan perasaan. Emotikon adalah representasi wajah menggunakan karakter keyboard, seperti :), :(, atau ;). Meskipun terlihat sederhana, emotikon memainkan peran penting dalam membantu pengguna memahami nada dan maksud pesan teks.

Pada akhir 1960-an, Vladimir Nabokov, penulis terkenal dari Rusia, pernah berpikir bahwa diperlukan tanda tipografi khusus untuk senyuman. Ide ini kemudian berkembang menjadi emotikon yang lebih modern. Pada tahun 1982, Scott Fahlman, seorang ilmuwan komputer Amerika, menciptakan emotikon pertama yang kita kenal saat ini. Ia menyarankan penggunaan emotikon sebagai penanda lelucon agar tidak ada kesalahpahaman dalam komunikasi online.

Meskipun emotikon dan emoji sama-sama digunakan untuk menyampaikan emosi, keduanya memiliki asal-usul yang berbeda. Emotikon lahir dari kalangan ilmuwan komputer di Amerika Serikat, sedangkan emoji berasal dari Jepang. Selain itu, istilah “emoji” tidak terkait dengan kata “emosi” dalam bahasa Inggris. Kata “emoji” berasal dari bahasa Jepang yang berarti “gambar” dan “karakter”.

Perkembangan Awal Emoji

Pada tahun 1997, perusahaan Jepang J-Phone merilis ponsel pertama yang dilengkapi dengan 90 emoji. Ponsel tersebut bernama SkyWalker DP-211SW. Namun, karena tidak laku secara luas, ponsel ini bukanlah awal dari era emoji yang sebenarnya.

Pusat perhatian sejarah emoji justru jatuh pada Shigetaka Kurita, seorang desainer yang bekerja di NTT Docomo, sebuah perusahaan telekomunikasi Jepang. Pada akhir 1990-an, ia terlibat dalam peluncuran layanan i-mode, platform internet seluler yang memungkinkan pengguna mengakses email, berita, dan game melalui ponsel.

Kurita berpikir bahwa pengguna akan membutuhkan serangkaian gambar kecil yang bisa dikirim sebagai bentuk singkatan. Ia menciptakan 176 gambar, yang dianggap sebagai emoji pertama yang benar-benar “lepas landas”. Karya ini kemudian disimpan di Museum Seni Modern New York.

Menurut Jesse Reed, penerbit buku, Kurita melakukan prestasi luar biasa dengan menciptakan 176 ide dalam waktu lima minggu. Beberapa emoji yang dibuatnya menggambarkan ekspresi wajah, tetapi sebagian besar berupa simbol olahraga, cuaca, dan lainnya. Tujuannya adalah memberikan cara cepat bagi pengguna untuk menyampaikan informasi nyata, bukan hanya untuk menambahkan penanda suasana hati.

Emoji Menyebar ke Dunia

Setelah i-mode diluncurkan dan emoji populer di Jepang, perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Google mulai memasukkan emoji ke dalam sistem operasi mereka. Pada tahun 2010, Unicode Consortium, badan pengatur standarisasi teks digital, secara resmi mengakui karakter emoji. Ini menandai peningkatan penggunaan emoji secara global.

Emoji tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga menjadi objek kontroversi dan diskusi. Contohnya, banyak perusahaan teknologi memutuskan untuk mengganti emoji pistol realistis dengan emoji pistol air sebagai respons terhadap kecemasan tentang kekerasan senjata.

Selain itu, ada banyak pembicaraan tentang bagaimana meningkatkan keragaman dan inklusivitas dalam dunia emoji. Hal ini mencakup representasi latar belakang etnis yang beragam serta penyebaran penanda budaya yang adil, seperti makanan dari berbagai negara.

Masa Depan Emoji

Kisah emoji masih jauh dari selesai. Di masa depan, lebih banyak simbol akan ditambahkan, dan kompleksitas emoji akan meningkat. Penemuan-penemuan ini menunjukkan betapa pentingnya semangat kreativitas dan inovasi dalam sejarah Jepang, yang terus membuat jejaknya di dunia digital.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?