Budaya  

Natal di Palangka Raya: Dari Elit Global hingga Misteri Kolor Hilang

Pengalaman Unik di Palangka Raya

Malam Natal 2011 menjadi momen yang tak terlupakan bagi penulis. Di tengah perayaan Natal, penulis dan rombongan mengunjungi rumah Bang Anchu untuk menikmati “Ayam Bersyahadat”. Namun, kejadian ini tidak hanya menjadi akhir dari malam, melainkan awal dari sebuah petualangan yang membawa mereka ke dimensi lain.

Pada masa itu, teknologi masih dalam tahap perkembangan. BlackBerry Messenger (BBM) adalah alat komunikasi utama, sementara WhatsApp belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, penulis dan rekan-rekannya menerima instruksi untuk datang ke markas besar Bos Top (Almarhum Topan Nanyan). Mereka bukan datang sebagai tamu biasa, tetapi untuk menyerahkan diri agar bisa memahami isi pikiran Bos Top.

Diskusi Malam yang Penuh Makna

Saat tiba di markas besar Bos Top, suasana ruangan dipenuhi oleh lampu pohon Natal yang berkedip dan toples nastar yang tersedia. Di meja, asbak penuh puntung rokok siap menemani perdebatan yang akan berlangsung hingga pagi. Di tengah suasana tersebut, penulis merasa bahwa ia telah menemukan keluarga dan rumah kedua di Palangka Raya.

Diskusi malam itu bergerak liar, mencakup berbagai topik mulai dari konspirasi Elit Global hingga kasus pencurian celana kolor. Bagi Bos Top, semua isu memiliki bobot yang sama, baik itu tentang hilangnya kedaulatan negara maupun hilangnya kolor tetangga. Ia menjelaskan bahwa setiap isu harus ditangani dengan serius, bahkan jika terdengar receh.

Pelajaran Penting dari Bos Top

Bos Top memberikan pelajaran penting kepada penulis tentang dunia jurnalistik. Ia menekankan bahwa wartawan bukan hanya juru ketik, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis. Jika otak kosong, tulisan akan menjadi kopong dan dinamakan Malpraktik Jurnalistik.

Penulis juga diajarkan bahwa kualitas berita tidak ditentukan oleh jawaban narasumber, tetapi oleh pertanyaan yang diajukan. Tanpa riset, wartawan hanya menjadi corong yang membantu menyebar kebohongan. Bos Top menyampaikan nasihat dari Dahlan Iskan, yaitu bahwa wartawan yang hebat datang dengan tangan kosong, artinya mereka harus menggunakan otak sendiri dalam melakukan wawancara.

Kepala yang Berat dan Hati yang Penuh

Di akhir diskusi, saat waktu seolah berhenti di pukul 3 pagi, penulis merasa kepala terasa lebih berat karena ilmu yang diperoleh. Namun, hati terasa lebih penuh karena diterima sebagai bagian dari keluarga besar di tanah Dayak ini.

Malam itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Penulis belajar bahwa setiap isu, baik itu tentang hilangnya kolor atau isu negara, harus ditulis dengan akal sehat, riset yang kuat, dan hati yang teguh pada kebenaran. Di Palangka Raya-lah, jurnalis asal Pati ini akhirnya benar-benar pulang.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?