TNI Angkatan Darat Mengungkap Kematian Prajurit di Papua
Jakarta, Jumat (5/1/2026) – TNI Angkatan Darat memberikan pernyataan resmi terkait kematian seorang prajurit bernama Pratu Farkhan Syauqi Marpaung yang diduga tewas akibat dianiaya oleh seniornya saat bertugas di Papua. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran dan perhatian serius dari pihak komando.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI (Inf) Donny Pramono, menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas kematian almarhum. Menurutnya, Pratu Farkhan adalah prajurit muda yang sedang menjalankan tugas negara di wilayah penugasan. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi perhatian utama bagi pimpinan TNI AD.
Sejak awal kejadian, TNI Angkatan Darat telah mengambil langkah cepat dan tegas. Donny menjelaskan bahwa dugaan keterlibatan oknum prajurit senior telah ditindaklanjuti dengan mengamankan yang bersangkutan dan melakukan proses investigasi secara menyeluruh oleh unsur komando terkait. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan fakta secara objektif dan transparan.
Donny menegaskan bahwa TNI Angkatan Darat tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan di luar aturan. Terlebih jika kekerasan tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa prajurit. Jika dari hasil penyelidikan terbukti adanya pelanggaran hukum maupun disiplin militer, maka proses hukum akan ditegakkan secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
Setelah peristiwa ini, TNI Angkatan Darat melakukan pembinaan terhadap prajurit di satuan agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Pimpinan TNI AD berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini secara profesional, adil, dan bertanggung jawab, demi menjaga keadilan bagi almarhum, keluarganya, serta kehormatan institusi TNI Angkatan Darat.
Latar Belakang Kematian Pratu Farkhan
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, seorang prajurit TNI, diduga tewas akibat dianiaya oleh seniornya saat bertugas di Papua. Pria asal Kabupaten Asahan, Sumatera Utara itu diketahui meninggal pada 31 Desember 2025.
Zakaria Marpaung, ayah dari Farkhan, mengatakan bahwa awalnya anaknya itu bertugas di Yonif 113/Jaya Sakti Aceh. Seiring berjalannya waktu, Pratu Farkhan ditugaskan untuk masuk ke Papua. Zakaria tidak menyangka hal buruk menimpa anaknya.
“Kabar itu disampaikan sepupunya. Awalnya dia sakit, lalu menghangatkan badan di perapian, di Papua,” kata Zakaria saat diwawancarai di Desa Hassan Air Genting pada Sabtu (3/1/2026).
Menurut Zakaria, seorang prajurit berpangkat Sersan menghampiri Pratu Farkhan untuk menanyakan kondisi. Saat itu, Pratu Farkhan mengaku sakit. “Terus si Sersan ini memijiti. Lalu, datang yang berpangkat Kopral dan memanggil anak saya. Diajaknya ke samping, lalu disuruh tunduk, dipukul pakai ranting punggungnya,” ungkap Zakaria.
“Disuruh, kalau istilah di tentara itu, peluk tobat, ditendang. Dia tersungkur, jatuh. Lalu, dia bangkit terjadi pembelaan,” katanya lagi.
Zakaria menyayangkan insiden tersebut. Meskipun begitu, ia bangga anaknya berani melawan senior untuk membela nyawanya. “Yang kukecewakan anakku mati bukan di ujung senjata GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Anakku mati sesama TNI dan di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI,” ujar Zakaria.
“Mereka menyambung nyawa di sana. Yang harusnya saling menguatkan, saling melindungi, kenapa saling membunuh. Belum kering makam Prada Lucky sekarang datang lagi makam Pratu Farkhan,” katanya lagi.
Jenazah Pratu Farkhan telah dimakamkan di Desa Hessa Air Genting, Kabupaten Asahan pada Sabtu siang.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."










