Perpustakakaan 24 Jam di Tengah Kota Ambon
Di tengah gang sempit di kawasan Perumnas Tihu, Poka, atau dekat Universitas Pattimura Ambon, Provinsi Maluku, terdapat sebuah lapak sederhana yang menarik perhatian. Lapak dengan warna hijau menyala ini berada di pojok teras yang hanya lebarnya sekitar satu meter. Di sana, terdapat tumpukan buku yang menjadi pusat aktivitas masyarakat setempat.
Pada siang hari hingga sore, banyak pengunjung datang dan pergi dari tempat ini. Mahasiswa dan warga lokal sering duduk nongkrong sambil meneguk kopi “kejujuran” yang disediakan, sambil membaca buku. Aktivitas ini juga terjadi pada malam hari hingga menjelang subuh. Ada saja pengunjung atau rombongan yang datang untuk membaca buku atau mencari referensi tugas kuliah.
Tempat sederhana ini ternyata adalah Perpustakaan Menaina, yang didirikan oleh Dinda Hijrah di kosnya. Perpustakaan ini beroperasi 24 jam dan menyediakan buku-buku koleksi pribadi yang telah menemani Dinda selama bertahun-tahun, mulai dari masa sekolah hingga masa kuliah.
Gerakan Protes Melalui Buku
Dinda menyebutkan bahwa Perpustakaan Menaina adalah bentuk perlawanan terhadap sistem distribusi pengetahuan yang tidak merata di wilayah Indonesia timur. Ia mengkritik harga buku yang mahal serta layanan perpustakaan kampus yang terbatas baik dalam waktu maupun kualitas.
Menurut Dinda, kebijakan subsidi harga pengiriman buku ke daerah seperti Maluku sangat penting agar harga buku bisa lebih terjangkau bagi pelajar dan mahasiswa. Ia berharap dengan harga buku yang murah, ilmu tidak lagi menjadi barang mewah, melainkan hak semua rakyat.
Perpustakaan Menaina juga memiliki makna khusus. Kata “Menaina” berasal dari bahasa Seram, di mana “Mena” berarti di depan dan “Ina” berarti ibu atau perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan ini bukan hanya ruang baca, tetapi juga gerakan yang menekankan kesetaraan akses terhadap pengetahuan.
Tagline “Rakyat Cerdaskan Rakyat”
Tagline “Rakyat Cerdaskan Rakyat” menjadi ciri khas dari Perpustakaan Menaina. Dinda memilih tagline ini karena ia percaya bahwa kecerdasan tidak datang dari pemerintah, tetapi dari kesadaran diri sendiri. Dengan membuka akses seluas-luasnya terhadap buku, ia ingin memastikan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada institusi formal.
Meskipun begitu, saat ini buku-buku di Perpustakaan Menaina belum bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Setiap judul hanya tersedia satu eksemplar. Namun, Dinda dan relawannya seperti Sukma Patty dan beberapa teman lainnya terus berupaya menambah jumlah buku dan jenis buku yang tersedia.
Kopi “Kejujuran” dan Kehadiran Masyarakat
Selain buku, Perpustakaan Menaina juga menyediakan kopi “kejujuran”. Pengunjung dapat menyeduh kopi sendiri dan meletakan uang di kotak yang tersedia tanpa ada patokan harga. Ini menjadi salah satu cara unik untuk mendukung keberlanjutan perpustakaan.
Haspa, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan, bersama dua temannya sering datang ke perpustakaan ini usai kuliah. Mereka memilih buku-buku populer seperti “Madilog Tan Malaka” dan novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” karya Brian Khrisna sebagai referensi.
Menurut Haspa, kehadiran Perpustakaan Menaina memberikan sarana nongkrong baru yang berkualitas. Selain ngobrol dan minum kopi, mereka juga bisa menambah wawasan dengan membaca buku yang membuka cakrawala berpikir.
Keberlanjutan dan Tujuan Jangka Panjang
Perpustakaan Menaina masih dikelola secara mandiri oleh Dinda dan rekan-rekannya. Meski saat ini jumlah buku masih terbatas, mereka berkomitmen untuk terus menambah koleksi dan memperluas akses kepada masyarakat.
Salah satu buku yang menarik perhatian adalah “Confessions of an Economic Hit Man” karya John Perkins. Buku ini mengungkap sisi gelap politik dan ekonomi global, termasuk peran lembaga keuangan internasional dan korporasi besar dalam menguasai negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












