Daerah  

Pelda Anang Wahyudi, Tentara Bangkalan yang Jual Rumput, Ternak Kambing, dan Jangkrik

Kehidupan Seorang Anggota Militer yang Berbisnis di Tengah Waktu Sempit

Pada pagi hari, ketika sebagian besar warga masih terlelap, Pelda Anang Wahyudi, anggota Staf Intel Kodim 0829 Bangkalan, sudah memulai rutinitasnya. Ia memanfaatkan waktu subuh untuk mengurus usaha budidaya kambing dan jangkrik yang ia jalani secara mandiri.

Waktu yang ia miliki sangat sempit, karena harus menyeimbangkan antara tugas dinas dan kegiatan usaha sampingannya. Dengan jam dinding di rumahnya menunjukkan pukul 04.45 WIB, Anang mulai menyabit rumput, mengumpulkan dedaunan, hingga memastikan 11 ekor kambing dan ribuan jangkrik mendapat pakan yang cukup. Ia hanya memiliki waktu selama satu jam sebelum berangkat dinas.

Konsisten Sejak Tiga Tahun

Anang memulai usaha budidaya kambing dan jangkrik jenis madu kunyit sejak tiga tahun lalu. Bagi dirinya, usaha ini bukan semata-mata soal tambahan penghasilan, melainkan tentang nilai keberkahan dari kerja keras.

“Saya lebih menekankan aspek keberkahan, Alhamdulillah bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Sekitar 1 jam sebelum ke kantor, atau pukul 05.00 WIB, saya mulai ngarit rumput, dedaunan, serta beraktifitas di kandang kambing dan jangkrik,” ujarnya.

Dari Telur Jangkrik Online hingga Untung Jutaan Rupiah

Untuk budidaya jangkrik, Anang masih mengelola empat kotak utama. Dua kotak berukuran 120 x 240 sentimeter dengan kapasitas maksimal 5 ons bibit telur ditempatkan di sisi kanan rumah. Ribuan jangkrik di dalamnya kini berusia sekitar 10 hari. Sementara dua kotak lainnya berukuran 120 x 120 sentimeter, masing-masing berkapasitas 3 ons bibit telur, berada di sisi kiri rumah dengan usia jangkrik sekitar 5 hari.

Bibit telur jangkrik diperoleh secara daring. “Bibit telur jangkrik dibeli secara online dengan pembelian minimal 1 ons seharga sekitar Rp 20.000.” Dari satu ons telur jangkrik, hasil panen bisa mencapai 3 hingga 5 kilogram. Harga jualnya pun cukup menjanjikan.

“Dari 1 ons bibit telur itu akan menghasilkan jangkrik seberat 3 KG hingga 5 KG dengan harga jual ke tengkulak senilai Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per KG.” Panen ideal dilakukan saat usia jangkrik mencapai sekitar satu bulan lima hari. Jika lewat dari batas itu, nilai jual menurun drastis.

Tak Ke Pasar Hewan, Kambing Dijual Saat Momen Sakral

Di belakang rumah, berdiri kandang sederhana berisi 11 ekor kambing. Di depannya, sebuah gubuk bambu menjadi tempat Anang bersantai sembari memantau pertumbuhan ternaknya. Menariknya, Anang memilih tidak menjual kambing ke pasar hewan. Ia lebih menyasar kebutuhan warga sekitar, terutama untuk momen-momen keagamaan.

“Biasanya saya merawat kambing-kambing itu hingga bulan keenam, keuntungan dua kali lipat dari harga kulakan. Terpenting kebersihan kandang dan asupan makan benar-benar dijaga sehingga kambing tumbuh sehat.”

Kisah Inspiratif dari Seorang Polisi yang Juga Menjadi Badut

Selain Pelda Anang, ada juga kisah inspiratif dari Bripka Fardriansyah, anggota polisi di Polda Bangka Belitung. Di tengah kesibukan sebagai polisi, Bripka Rian-sapaan akrab Fardriansyah, ternyata punya pekerjaan sampingan. Yakni, menjadi badut dan pesulap sepulang dinas.

Polisi yang bertugas di bagian Pengamanan Objek Vital (Pam Obvit) ini kerap menerima panggilan sebagai badut di acara panti asuhan. “Saya merasa senang menghibur anak-anak. Melihat mereka tertawa, kita merasa puas, bahagia,” kata Rian.

Bripka Rian menjelaskan, sebenarnya sudah menekuni pekerjaan sebagai badut sejak sebelum menjadi polisi pada 2008. Ia sempat bergabung dengan event organizer sebagai MC, badut, dan pemain sulap. Kini, ia kembali menekuni pekerjaan sebagai badut untuk menambah pemasukan dan menabung haji.



Penampilannya disiapkan sendiri, kostum dan riasan dibawa dalam kotak plastik di motor pribadinya. Di lokasi, ia hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk berganti kostum dan merias wajah. Ia sempat vakum dari dunia badut pada 2019 karena sibuk sebagai Bhabinkamtibmas. Namun, sejak awal 2025 ia kembali aktif, dengan misi sosial yang lebih kuat.

Tak sekadar menghibur, ia juga menyelipkan pesan literasi dan gaya hidup sehat kepada anak-anak dan orangtua yang hadir. “Acara anak itu kan ada orangtua juga yang mendampingi, jadi pesan-pesan literasi tentang berkendara, efek merokok dan lainnya juga disampaikan,” ujarnya.

Dukungan dari keluarga, termasuk istri dan anak sulungnya yang berusia 10 tahun, jadi penyemangat utama. Mereka bahkan ikut hadir di beberapa acara sosial yang ia isi. “Alhamdulillah semua memberi dukungan, termasuk orangtua juga. Kadang dari anggota polisi sendiri ada yang minta saya mengisi acara ulang tahun anaknya,” ungkap Rian.

Ia dan istri telah mendaftar haji dengan masa tunggu hingga 2051. Dari hasil menjadi badut, ia berharap ada tambahan rezeki yang bisa mempercepat keberangkatan. “Masa tunggu haji sampai 2051, mudah-mudahan lancar, kalau ada tambahan dari badut Alhamdulillah, kalau tidak tetap disyukuri,” ujarnya.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?