Peristiwa Banjir Bandang yang Mengguncang Pulau Siau
Pada tanggal 5 Januari 2026, sekitar pukul 02.30 Wita, warga Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut) terkejut dengan datangnya banjir bandang yang tiba-tiba. Saat itu, banyak warga sedang tidur nyenyak. Suara batu dari gunung menjadi tanda bahaya yang memicu kepanikan.
Warga panik dan hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa harta bendanya. Korban lari sambil memeluk cucu, tanpa sempat menyelamatkan barang. Dalam peristiwa ini, sebanyak 693 warga terdampak, dan 206 bangunan rusak. Dari jumlah tersebut, 30 rumah hilang terseret banjir, 52 rumah rusak berat, 29 rusak sedang, dan 89 rusak ringan. Satu kantor pemerintahan, yakni Mapolres Sitaro, ikut rusak. Selain itu, satu bengkel, satu kios, dan tiga sekolah juga terdampak.
Korban jiwa mencapai 37 orang:
– 17 meninggal dunia
– 18 luka-luka
– 2 orang masih hilang
Dan 693 jiwa mengungsi. Dalam rekonstruksi peristiwa bersama narasumber utama, Efraim Derek, korban banjir bandang Siau yang selamat, menceritakan pengalamannya.
Pengalaman Efraim Derek Saat Banjir Bandang
Efraim Derek mengatakan bahwa banjir terjadi sekitar jam setengah tiga dini hari. Ia tidak keluar dari rumah pada awalnya karena merasa cuaca tidak terlalu buruk. Namun, beberapa menit kemudian, saudara perempuannya memberinya informasi bahwa banjir sedang terjadi.
Ia kemudian terbangun karena hujan yang semakin deras dan air yang masuk ke dalam kamar. Ia langsung keluar dan mencoba mencari baju hujan. Setelah menemukan baju hujan, ia dan keluarganya langsung melarikan diri ke bawah. Di tengah kepanikan, suara batu dari gunung membuat mereka semakin takut.
Efraim Derek mengatakan bahwa mereka hanya fokus pada keselamatan. Tidak ada pikiran untuk menyelamatkan barang berharga. Mereka hanya ingin lari dan selamat. Anak kecil yang baru berusia satu tahun juga ikut di pelukannya saat mereka lari ke pantai.
Kondisi Saat Banjir Bandang
Banjir bandang terlihat sangat besar, air tumpah di jalan dan membuat gelap. Efraim Derek mengaku sangat takut, tetapi ia hanya fokus pada keselamatan. Ia mengatakan bahwa tidak ada orang yang meminta tolong, hanya perintah untuk lari ke atas.
Setelah sampai di tempat aman, ia mengatakan bahwa pihak pemerintah belum datang. Pagi harinya, baru pihak pemerintah kampung datang. Mereka belum mendapatkan makan sama sekali, hanya minum.
Pulau Siau dan Keberadaan Gunung Api Karangetang
Pulau Siau berada di bagian utara Provinsi Sulawesi Utara. Dari Pelabuhan Manado ke Siau bisa ditempuh kurang lebih 5 jam naik kapal cepat. Siau adalah satu dari 47 pulau yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro). Dari 47 pulau itu, hanya 10 pulau di antaranya berpenghuni.
Total penduduk Kabupaten Sitaro sebanyak 70.528 jiwa. Terbanyak menghuni Pulau Siau. Disusul Pulau Tagulandang dan Biaro. Ibu kota kabupaten berada di Siau. Gunung Api Karangetang dengan ketinggian 1.797 mdpl dan sangat aktif berada di pulau ini.
Pulau Siau juga dikenal dengan komoditi unggulannya berupa Pala.
Harapan Efraim Derek
Di akhir perbincangan, Efraim Derek berharap ada bantuan dari pemerintah untuknya dan para korban terdampak banjir bandang Siau. Ia mengungkapkan rasa trauma terhadap tempat tinggalnya sekarang. Meskipun ingin kembali, ia masih merasa tidak aman.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












