Penemuan Kotak Hitam Pesawat ATR 42-500 di Lereng Gunung Bulusaraung
Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi kotak hitam dan alat pencatat suara kokpit (Voice Cockpit Recorder atau VCR) dari pesawat ATR 42-500 yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Desa Tompu Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Rabu (31/1/2026). Pesawat ATR 42-500 PK-THT hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026).
Penemuan serpihan pesawat pertama kali ditemukan pada hari yang sama, beberapa saat setelah pesawat menghilang. Setelah lima hari pencarian, black box dan VCR berhasil dievakuasi ke Posko Advance Jungle Unit (AJU), di halaman Kantor Desa Tompu Bulu.
Fungsi dan Desain Black Box serta VCR
Black box atau kotak hitam pesawat adalah perangkat vital yang berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). FDR merekam data teknis penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, dan bahan bakar, sementara CVR merekam semua suara di kokpit, termasuk percakapan pilot, komunikasi radio, dan suara lingkungan seperti alarm atau mesin.
Meskipun disebut kotak hitam, warnanya sebenarnya oranye terang agar mudah ditemukan. Perangkat ini dirancang tahan terhadap benturan keras, suhu ekstrem, dan tekanan air laut. CVR biasanya merekam selama 2 jam terakhir penerbangan secara berulang (looping) untuk memastikan data tidak hilang.
Evakuasi black box dan VCR dilakukan dalam konferensi pers di Pos AJU, Rabu (21/1/2026) sore. Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko terlihat memegang langsung perangkat tersebut di hadapan personel TNI, Basarnas, dan unsur SAR gabungan lainnya. Kedua perangkat tampak dalam kondisi utuh.
Keterlibatan Tim SAR dalam Operasi Besar
Di sekelilingnya, puluhan personel berseragam loreng dan oranye tampak berdiri rapat, menunjukkan soliditas tim dalam operasi besar ini. Mayjen Bangun menyampaikan bahwa peran strategis Pos AJU dalam operasi SAR adalah sebagai kendali operasi untuk mengambil keputusan atas dasar perintah dari posko utama.
Ia menegaskan bahwa fokus utama tim sejak awal operasi adalah menemukan dan mengevakuasi objek sesuai kesepakatan bersama. “Setelah disepakati, kita akan memberikan mungkin ke Kabasarnas dan mungkin diserahkan ke KNKT karena mereka yang paling berhak,” ujarnya.
Keberhasilan evakuasi, menurut Mayjen Bangun, merupakan hasil kerja tim yang terencana dan dievaluasi secara berkala. “Kami bekali mereka dengan ransum tempur agar bisa bertahan 2–4 hari di atas Gunung Bulusaraung, sehingga efisien. Karena naik ke Pos 9 saja itu sudah sehari,” tambahnya.
Strategi Pencarian dan Medan yang Menantang
Dalam pelaksanaannya, strategi pencarian dibagi ke dalam beberapa tim dengan metode penyisiran tertentu, meski medan menjadi tantangan utama. “Strategi kita dibagi per tim dan masing-masing melaksanakan teknik obat nyamuk, namun ternyata tidak semudah yang kita bayangkan karena medannya cukup terjal,” jelasnya.
Mayjen Bangun juga mengungkapkan bahwa black box ditemukan oleh tim gabungan. “Yang menemukan itu adalah Tim 700 gabungan dari Basarnas dan TRC. Ini bukan semata kerja mereka, ini adalah dorongan dari seluruh tim,” katanya.
Pada hari penemuan, kekuatan personel turut ditingkatkan secara signifikan. “Hari ini kita mengeluarkan dua kali lipat yaitu 16 tim. Delapan tim tidak bermalam, kemudian kita dorong lagi delapan tim,” ungkapnya.
Harapan untuk Hasil Positif Berikutnya
Dengan ditemukannya black box dan VCR, Mayjen Bangun berharap operasi SAR dapat terus membuahkan hasil positif, khususnya terkait pencarian korban. “Mudah-mudahan kita bisa mendapat kabar baik untuk korban selanjutnya, karena itu tujuan kita selanjutnya setelah black box kita temukan,” jelasnya.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 PK-THT hilang kontak di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026). Serpihan pesawat pertama kali ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur, pada hari yang sama.
Gunung Bulusaraung berjarak sekitar 29–30 km dari pusat kota Kabupaten Pangkep. Waktu tempuh dari Kecamatan Pangkajene sekitar 57 menit hingga 1 jam berkendara menggunakan kendaraan bermotor, tergantung kondisi lalu lintas.
Perjalanan umumnya melewati jalan poros Maros-Pangkep menuju arah Kecamatan Balocci, tempat jalur pendakian resmi berada. Lokasi pendakian utama dimulai dari Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, yang merupakan desa terakhir sebelum menuju puncak gunung berketinggian 1.353 mdpl tersebut.
Pesawat tersebut ditumpangi 10 orang, tujuh di antaranya adalah kru dan tiga penumpang. Hingga hari keempat pencarian, baru dua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












