Daerah  

Pasar Cipadu Kehilangan Pelanggannya



Kota Tangerang,

Pasar Cipadu, Larangan, pernah menjadi pusat perdagangan kain dan pakaian yang sangat dinamis di Kota Tangerang. Dulu, setiap lorong dipenuhi oleh langkah kaki pembeli, suara tawar-menawar, serta deretan kios yang selalu ramai. Pada masa lalu, mencari kain untuk seragam, konveksi, hingga busana Lebaran rasanya tidak lengkap tanpa singgah ke Pasar Cipadu.

Namun, kini kejayaan tersebut tinggal kenangan. Perlahan, aktivitas jual beli di Pasar Cipadu mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pelanggan yang dulu datang berbondong-bondong seolah hilang entah ke mana, meninggalkan pasar yang kini semakin lengang.

Dari pantauan di lokasi, Selasa (21/1/2026), suasana Pasar Cipadu terlihat sunyi, terutama di los-los bagian dalam. Sejumlah kios tutup permanen dengan kondisi rolling door besi yang berkarat. Lorong pasar yang dahulu sesak kini bisa dilalui dengan mudah, tanpa harus berdesakan dengan pembeli lain. Namun, kemudahan ini bukan pertanda baik. Kondisi tersebut justru mencerminkan keterpurukan yang dialami para pedagang.

Beberapa pedagang yang masih bertahan tampak duduk di depan kios, menanti pembeli datang. Sesekali mereka berdiri saat ada pengunjung melintas, meski sering kali hanya berujung pada tanya harga tanpa transaksi.

Mukhlis (50), pedagang kain di Toko Sabana Textile, mengenang masa ketika Pasar Cipadu berada di puncak kejayaannya. Ia mengatakan, lebih dari dua dekade lalu, pasar ini menjadi tujuan utama pedagang dan pembeli kain dari berbagai daerah. “Dulu itu ramai sekali. Mobil sampai parkir penuh di depan pasar. Pembeli datang terus, enggak putus,” ujar Mukhlis saat menceritakan dengan semangat masa jayanya dulu.

Menurut dia, titik balik kemerosotan terjadi sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Sejak saat itu, jumlah pembeli menurun drastis dan tak pernah benar-benar pulih hingga kini. Hal itu berimbas dengan pendapatannya yang menurun sangat jauh. Bahkan, untuk membayar uang sewa satu kios sebesar Rp 45 juta per tahun, ia harus memutar otak. “Sejak corona, langsung turun. Sekarang penjualan tinggal separuh, bahkan lebih. Kalau dulu bisa dapat Rp 20 juta sampai Rp 30 juta, sekarang cari Rp 10 juta saja susah,” kata Mukhlis.

Langganan yang dulu datang hingga dari luar kota kini tak lagi menghubunginya. Saat ini, ia hanya bertahan dengan pelanggan dari Jakarta dan Tangerang, meski jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.

Kondisi serupa juga dirasakan Annisa (50), pedagang pakaian yang telah berjualan di Pasar Cipadu sejak 2000. Ia menyebutkan, sebelum pandemi, tokonya mampu mempekerjakan hingga sembilan karyawan. Jumlah tersebut sangat membantunya, terutama saat musim Lebaran. Pada masa itu, Annisa bahkan memiliki 12 kios di Pasar Cipadu. “Dulu saya tinggal mantau. Sekarang saya turun tangan semua. Lari ke sana, lari ke sini,” kata Annisa.

Kini, separuh kiosnya telah ia jual. Ia hanya menyisakan enam kios dan tiga karyawan untuk bertahan di tengah sepinya pembeli. “Waktu Lebaran dulu tuh luar biasa ramainya. Sekarang beda jauh. Pelanggan sudah jarang yang datang ke sini, sekalinya datang belinya satuan, bukan borongan lagi,” jelas dia.

Ia menilai, selain dampak pandemi, perubahan pola belanja masyarakat ikut mempercepat kemunduran pasar tradisional. Pasalnya, kehadiran toko modern dan penjualan online membuat pembeli tak lagi bergantung pada pasar tradisional.

Meski demikian, Annisa memilih untuk bertahan. Ia mengaku tetap membuka kios setiap hari meski keuntungan kian menipis, dengan harapan pelanggan lama masih sesekali datang. “Sekarang bertahan saja sudah ngos-ngosan. Kalau bukan karena tanggung jawab biaya sekolah untuk anak, saya pasti sudah balik ke kampung,” kata dia yang memiliki kampung di Sumatera Barat.

Di tengah kios-kios kosong dan lorong yang kian sunyi, Pasar Cipadu masih menyimpan denyut kehidupan. Para pedagang yang tersisa terus membuka lapak, dengan harapan pasar ini kembali ramai seperti masa jayanya.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?