Kejadian Banjir Bandang di Lereng Gunung Slamet
Pantai Larangan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kini dipenuhi oleh gelondongan kayu yang diduga berasal dari banjir bandang yang terjadi di kawasan Guci. Kejadian ini berlangsung pada Minggu (25/1/2025), setelah banjir bandang melanda lereng Gunung Slamet.
Kayu Gelondongan yang Terbawa Arus
Banyak warga sekitar datang ke pantai untuk mengangkut kayu menggunakan gerobak. Mereka mengambil kayu tersebut untuk dijual atau digunakan sebagai bahan bakar. Ali Sodikin, salah satu warga setempat, menjelaskan bahwa kayu-kayu ini berasal dari kawasan Guci dan terbawa arus Sungai Gung. Ia mengatakan:
“Infonya dari Guci terbawa arus. Rencana diambil buat kayu bakar. Kayunya ada meranti, cemara, ada mahoni, sengon, dan lainnya.”
Ali meyakini bahwa kayu-kayu ini berasal dari kawasan Guci karena keluar dari muara Sungai Gung di Pantai Larangan. Selain kayu, beberapa warga juga berhasil mendapatkan pipa PVC yang bisa dijual dengan harga hingga Rp 1 juta.
Peristiwa Banjir Bandang di Kawasan Wisata Guci
Sehari sebelumnya, yaitu Sabtu (24/1/2025), terjadi banjir bandang di kawasan Objek Wisata Guci. Banjir ini menyebabkan kerusakan parah pada tiga taman wisata (TWA) yaitu TWA Pancuran 13, Pancuran 5, dan Kolam Air Panas Barokah. Selain itu, tiga jembatan vital seperti Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5 juga putus total.
Air bah berwarna coklat pekat mengalir deras dari hulu Gunung Slamet membawa material lumpur, pasir, hingga ranting-ranting kayu. Aliran banjir memutus tiga jembatan vital di kawasan wisata Guci: Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5. Ketiganya merupakan akses utama penghubung antarobyek wisata dan menuju ke Desa Guci.
Debit Air yang Meningkat Drastis
Menurut Taufik, warga RT 04, RW 02 Desa Guci, debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat (23/1/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang kawasan wisata.
“Awalnya hanya hujan deras. Namun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” kata Taufik kepada wartawan, Sabtu.
Taufik menyebut, puncaknya terjadi pada Sabtu, pukul 02.00 WIB dini hari. Tinggi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus bercampur lumpur dan pasir.
“Air naik sangat cepat. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” lanjut Taufik.
Dampak Banjir Bandang
Banjir bandang juga menyebabkan kerusakan parah fasilitas wisata. Pancuran 13 Guci hancur dan tertimbun lumpur, satu unit alat berat beko rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai porak-poranda. Bencana juga disertai longsor di bukit atas Desa Guci.
Pengunjung dan Warga Terdampak
Selain kayu, banyak warga juga berhasil mendapatkan berbagai jenis ikan air tawar yang terdampar di kawasan pantai. Warim, warga setempat, menjelaskan bahwa sejak malam Sabtu (25/1/2025), gelondongan kayu mulai datang dari Guci dan daerah lain yang kena banjir bandang.
“Kemarin banyak ikan nila, mati tapi masih segar. Kemudian potongan pipa dari saluran air di Guci,” kata Warim.
Kejadian ini menunjukkan betapa dampak banjir bandang bisa membawa berkah bagi warga setempat, meskipun secara bersamaan menyebabkan kerusakan yang sangat besar.












