Daerah  

Curhat Meylani, Pekerja Migran Indonesia dari Manado di Libya yang Kelelahan Bekerja Seperti Robot

Kehidupan Meylani, Pekerja Migran Indonesia yang Terjebak di Libya

Meylani Madalombang, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Manado, kini terjebak di negara Libya dalam keadaan sakit. Jarak antara Indonesia dan Libya mencapai 10.722 kilometer. Ia diduga mengalami penganiayaan oleh majikan di sana. Sebuah chat dalam bahasa Melayu Manado yang diterima oleh keluarganya memberikan gambaran pahit tentang penderitaan yang dialaminya.

Chat tersebut berisi kalimat-kalimat seperti:
– “Qt dbking rupa robot ksyg Krja nd brnti” (saya dibikin seperti robot kasihan, kerja tidak berhenti).
– “Kong krja bkg cma 1 rumh” (kerja bukan hanya di satu rumah).
– “Dy pigi pdpe mm mntu dy bwa pqt suru krja leh” (dia pergi di rumah mama mantunya, saya dibawa dan disuruh kerja di sana).
– “Pigi pdpe mm perumh krja leh ksyg” (pergi ke rumah ibunya, kerja lagi kasihan).
– “Qt nd kuat Tpe bdn” smua ini so saki Saki” (saya tidak kuat, badanku sudah sakit-sakit).
– “Smpe dirumh jmm 12 mlm msih mo kse bersih dpe dapur” (sampai di rumah jam 12 malam, masih harus bersihkan dapur).
– “Bru mo nae k kmr msih di pangge” leh ksyg,” (baru mau naik di kamar, masih dipanggil lagi kasihan).

Olivia, adik Meylani, menyatakan bahwa sang kakak sering berhubungan dengannya via ponsel. Namun, untuk menghubunginya, Meylani harus susah payah mencari sinyal karena jaringan wifi dikunci. Olivia mengatakan bahwa Kakaknya selalu bercerita tentang penderitaan yang dialami dan berharap bisa segera keluar dari sana.

Kelompok keluarga sudah habis akal dalam mengupayakan kepulangan Meylani. Berbagai upaya telah dilakukan, namun selalu ketemu jalan buntu. Olivia menyampaikan harapan pada Pak Presiden Prabowo Subianto, Menteri serta Pak Gub YSK.

Kronologi Keberangkatan Meylani

Meylani awalnya ingin bekerja di luar negeri untuk menambah penghasilan. Awalnya ia melalui sebuah perusahaan, namun kemudian datang seorang penyalur yang menawarkan agar berangkat lebih cepat. Saat pengurusan, sang kakak ditawarkan paspor wisata. Ia heran dan bertanya, namun orang tersebut berkata bahwa itu hanya sementara.

Setiba di bandara, orang tersebut berkata bahwa Meylani akan diberangkatkan di Dubai. Sang kakak protes karena ia ditawarkan kerja di Turki, tetapi orang tersebut berkata bahwa ia harus ganti rugi. Akhirnya, Meylani setuju.

Dari Manado, Meylani menuju Makassar, lalu ke Jakarta. Ada agen yang menjemput di Jakarta. Kemudian, ia naik Oman Air. Dua minggu lamanya, gadis berusia 28 tahun ini berada di Dubai. Tapi ternyata pekerjaan yang dibutuhkan di sana adalah masak memasak. Meylani hendak dibawa ke Libya.

“Sedang kakak saya melamar di pembantu rumah tangga,” kata Olivia. Meylani mengeluh, tapi malah ditampar agen. Ponselnya pun sempat diambil.

Jadilah Meylani ke Libya. Di sana, sang kakak dipekerjakan di Benghazi. Majikan pertamanya ternyata cek cok. Hanya dua minggu Meylani bekerja di sana. Kemudian, ia pindah majikan, disinilah ia kerap dianiaya majikan perempuan. Ia kerap dilempari barang tajam, suatu kali kena di tangannya, ia minta diobati, tapi tak digubris.

Karena tak tahan, Meylani kabur. Nekat. Ia hanya bawa baju di badan, ponsel serta charger. Meylani lari ke cafe untuk mencari sinyal. Tiba-tiba, ia teringat di pesawat ada seorang pramugara, ia berkata jika terjadi apa-apa hubungi nomor saya, ia berikan nomornya pada kakak.

Meylani pun menghubungi si pramugara. Tak lama kemudian Mohammad datang. Sang kakak lantas dibawa ke saudara temannya. Yang menampung mereka sangat baik, mereka baik sekali, kakak saya dipekerjakan dan diperlakukan dengan baik, tapi kakak tak mungkin berada terus di sana, ia harus segera ke Tripoli, disana ada KBRI Indonesia.

Masalahnya bukan hal mudah ke Tripoli. Dari Benghazi ke sana butuh surat. Keluarga yang baik itu membawa kakak saya lewat bus dengan menyamar. Tiba di KBRI, persoalan tak selesai. Seorang staf di sana menyatakan Meylani harus membayar sejumlah uang ke agen. Persoalannya, kakak saya tak punya uang, semua sudah ia tinggalkan.

Sang kakak pun dicarikan majikan baru di Tripoli. Sayang, majikan baru ini sebelas dua belas dengan yang lama. Waktu kerja kakak sudah melebihi, jam tidurnya hanya sedikit, ia kerja dari pagi hingga malam sampai majikan pulang, ia dipaksa bekerja. Meylani benar-benar tersiksa. Punggung dan kakinya sakit akibat kerja berlebih. Untuk bangun saja, dia kesulitan.

“Saya minta pulang saja ke majikan tapi tak diizinkan,” kata dia.




Wahyudi -

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?