Nasabah Bank Harus Waspada, Penipuan Phishing dan Social Engineering Mengancam

Tantangan Keamanan Digital dalam Perbankan

Perkembangan pesat teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan layanan perbankan. Kini, transaksi keuangan bisa dilakukan dengan cepat dan mudah melalui berbagai platform digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, ancaman siber seperti phishing semakin marak dan kompleks. Hal ini memicu bank untuk terus meningkatkan edukasi kepada nasabah agar lebih waspada terhadap modus penipuan yang semakin canggih.

Phishing adalah salah satu bentuk penipuan yang paling umum terjadi. Pelaku kejahatan siber menyamar sebagai lembaga resmi, seperti bank, e-commerce, atau kurir, untuk menipu nasabah. Mereka biasanya menggunakan media sosial atau tautan palsu untuk mengelabui korban. Nasabah yang terjebak akan diarahkan untuk mengakses aplikasi mobile banking palsu, sehingga kredensial mereka bisa dicuri dan saldo rekening dikuras.

Kasus serupa pernah terjadi di Singapura, di mana kerugian mencapai Rp 148,7 miliar akibat aksi phishing. Di Indonesia, situasi tidak jauh berbeda. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti Scam Center (IASC) menunjukkan bahwa selama periode 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026, terdapat 432.637 laporan pengaduan yang melibatkan 721.101 rekening terkait penipuan, termasuk social engineering. Total kerugiannya mencapai Rp 9,1 triliun.

Peran Aktif Nasabah dalam Mengurangi Risiko Penipuan

Bank Tabungan Negara (BTN) mengatakan bahwa tren penipuan digital, termasuk phishing dan social engineering, terus meningkat seiring pertumbuhan layanan perbankan digital. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan bahwa pembukaan rekening melalui Bale by BTN mencapai sekitar 120.000 per bulan atau 1,2 juta per tahun. Total pengguna baru Bale by BTN telah melebihi 3,5 juta.

Menurut Setiyo, risiko phishing biasanya tidak menyerang sistem internal bank, tetapi lebih banyak menargetkan nasabah melalui berbagai modus, seperti pesan palsu, tautan mencurigakan, dan rekayasa sosial. Untuk mengurangi risiko tersebut, BTN memperkuat manajemen risiko melalui edukasi nasabah dan penguatan sistem deteksi fraud. Bank ini secara rutin memberikan peringatan bahaya phishing melalui WhatsApp, email, dan notifikasi di aplikasi Bale by BTN.

Dari sisi pengawasan, BTN mengandalkan fraud call system yang terintegrasi dengan fraud detection system. Jika terdeteksi transaksi tidak wajar, tim BTN akan menghubungi nasabah selama 24 jam untuk konfirmasi. Apabila transaksi dinyatakan tidak sah, pemblokiran langsung dilakukan.

Setiyo menegaskan bahwa penguatan keamanan siber tidak hanya bergantung pada sistem bank, tetapi juga memerlukan peran aktif nasabah dalam menjaga data dan kredensial perbankan. Hal ini sangat penting karena phishing sering kali menyasar pengguna secara langsung.

Cara Menghindari Phishing dan Social Engineering

Bank Mega juga mengimbau nasabah untuk mewaspadai berbagai modus penipuan, termasuk phishing melalui situs palsu yang mengatasnamakan bank. Corporate Secretary Bank Mega Christiana M. Damanik menjelaskan bahwa kasus tersebut merupakan penipuan phishing melalui website palsu, bukan akibat kesalahan sistem bank. “Sistem Bank Mega dipastikan dalam kondisi aman,” ujarnya.

Untuk mencegah phishing dan social engineering, transaksi online sebaiknya dilakukan hanya melalui situs e-commerce resmi dan terpercaya. Pastikan alamat situs menggunakan protokol https. Situs tanpa https patut dicurigai karena banyak penipuan terjadi akibat akses ke situs palsu.

Pengguna juga perlu waspada terhadap promo atau pesan yang terlalu menggiurkan, ancaman pemblokiran akun, serta tautan mencurigakan yang dikirim melalui SMS, email, atau media sosial. Sebelum membayar, pastikan kembali detail transaksi seperti nama penerima, nominal, dan tujuan transaksi, serta hindari keputusan tergesa-gesa dalam kondisi panik.

Seluruh transaksi digital harus dilakukan melalui kanal resmi perbankan atau metode pembayaran yang ditunjuk e-commerce. Hindari mengunduh tautan atau file tidak jelas, termasuk APK dari luar app store resmi, karena berisiko mengandung malware. Selain itu, lakukan pengecekan mutasi rekening secara rutin untuk mendeteksi transaksi mencurigakan.

Yang terpenting, jangan pernah membagikan data rahasia perbankan seperti PIN, OTP, CVV, kata sandi, dan SMS registrasi kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai pegawai bank. Sikap tegas menolak permintaan mencurigakan menjadi kunci meminimalkan risiko kejahatan siber.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?