Penjelasan Bupati Ngada tentang Kasus Siswa yang Mengakhiri Hidup
Bupati Kabupaten Ngada, Raymundus Bena, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait kasus seorang siswa SD berinisial YBS (10 tahun) yang nekat mengakhiri hidup. Ia menegaskan bahwa informasi yang beredar di masyarakat tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
Kasus tragis ini terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), dan sempat ramai diperbincangkan setelah muncul anggapan bahwa korban nekat karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku dan pulpen. Namun, Raymundus menilai kesimpulan tersebut terlalu menyederhanakan masalah.
Menurut Bena, motif di balik peristiwa tersebut jauh lebih kompleks dan tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga aspek psikologi sosial. Ia menekankan pentingnya melihat kasus ini secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat serta mendorong penanganan yang lebih tepat terhadap persoalan sosial dan pendidikan di daerahnya.
Peran PIP dalam Kasus Ini
Raymundus juga menjelaskan bahwa YBS sebenarnya adalah siswa yang berprestasi dan aktif di sekolah. Berdasarkan data sekolah, YBS selalu masuk dalam peringkat 10 besar, bahkan menduduki peringkat kelima pada semester ganjil kelas 4 lalu. “Di sekolah periang anaknya, aktif, baik, dan taat. Secara keseluruhan itu positif,” jelas Bena.
Namun, terdapat kendala administratif yang cukup pelik terkait kondisi ekonomi keluarga YBS. Meskipun keluarga tersebut termasuk keluarga tidak mampu, mereka sempat tinggal di luar Kabupaten Ngada, sehingga data penerima bantuan mereka masih tercatat di kabupaten sebelumnya.
Meski demikian, Pemkab Ngada tetap mengalokasikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk YBS. Masalah muncul saat ibu korban hendak mencairkan bantuan tersebut di Bank BRI, namun tertunda karena sinkronisasi data antarwilayah yang belum tuntas.
“Ketika gurunya menyampaikan ke ibunya ‘nanti ke kabupaten untuk ngurus PIP’, anak ini sampaikan ke ibunya. Naiklah ke kabupaten, ke BRI. Sampai di atas, dilihat datanya tapi karena masih terdaftar di kabupaten sebelah, akhirnya di-pending (pencairan PIP),” kata Bena.
Penundaan pencairan karena urusan birokrasi ini diduga menjadi akumulasi beban mental bagi korban. “Benturan inilah, psikologi sosial yang akhirnya mengambil keputusan semacam itu,” tambahnya.
Kronologi Kejadian
Jenazah YBS ditemukan pertama kali pada Kamis (29/1/2026) di sebuah pohon cengkeh yang berlokasi di kebun milik neneknya. Selama ini, YBS tinggal bersama sang nenek di sebuah pondok, sementara orang tuanya tinggal di desa tetangga.
Peristiwa bermula pada Rabu (28/1/2026) malam saat YBS menginap di rumah orang tuanya. Kamis pagi, ia kembali ke pondok neneknya namun diketahui tidak pergi ke sekolah. Jasadnya kemudian ditemukan oleh seorang warga yang hendak mengikat hewan ternak di lokasi yang hanya berjarak tiga meter dari pondok tempat tinggal korban.
Di sisi lain, Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko memberikan keterangan awal bahwa berdasarkan hasil penyelidikan sementara, motif utama dipicu oleh kekecewaan korban. “Informasi pertama dari petugas lapangan yang saya terima, motifnya karena korban meminta dibelikan alat tulis kepada ibunya, namun karena kondisi ekonomi yang tidak baik, anak sekecil itu memilih mengakhiri hidupnya,” ungkap Irjen Rudi Darmoko sebagaimana dikutip dari Pos Kupang.
Pihak kepolisian saat ini masih terus mendalami hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memastikan penyebab pasti dari tragedi ini.
Layanan Bantuan untuk Masyarakat
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."










