Temu Berdaya: Komunitas Relawan Perempuan yang Menyentuh Hati dan Memberdayakan Masyarakat
Temu Berdaya adalah komunitas relawan perempuan yang didirikan oleh Natasha Sharla Kirana. Komunitas ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai relawan di Banda Neira. Dengan tagline “Berdampak, Bergerak, dan Berdaya”, Temu Berdaya aktif menggelar berbagai kegiatan sosial, pemberdayaan perempuan, UMKM, serta edukasi kesehatan reproduksi.
Komunitas ini menjadi wadah positif bagi generasi muda perempuan untuk tumbuh, berkolaborasi, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. Sebagai ruang aman bagi perempuan, Temu Berdaya memberi kesempatan untuk belajar, berbagi, bersosialisasi, dan berdaya di tengah masyarakat. Komunitas ini juga menjadi tempat bagi generasi muda perempuan yang ingin terlibat dalam kegiatan sosial secara positif, inklusif, dan bermakna.
Temu Berdaya sering kali menggelar aksi sosial di berbagai daerah seperti Blitar, Tulungagung, hingga Solo. Kegiatan ini melibatkan panti asuhan, yayasan disabilitas, dan panti jompo. Dengan tagline “Berdampak, Bergerak, dan Berdaya”, komunitas ini tidak hanya fokus pada aktivitas kerelawanan, tetapi juga pada proses pemberdayaan perempuan secara berkelanjutan.
Temu Berdaya didirikan oleh Natasha Sharla Kirana (21), seorang mahasiswi internasional Universitas Ciputra jurusan Business Management yang juga dikenal sebagai seorang pengusaha. Sharla memiliki latar prestasi sebagai Diajeng Favorite Kota Blitar 2021, Duta Pendidikan Jawa Timur 2022, serta Runner Up Srikandi Indonesia 2023.
Sharla mengungkapkan bahwa lahirnya Temu Berdaya berawal dari pengalamannya saat mengikuti kegiatan volunteer. “Di tahun 2025, bulan Februari lalu, aku mencoba ikut one day volunteer diajak teman aku, dari sana aku ngerasa, ternyata nge-recharge energy banget, karena itu pertama kalinya aku ikut volunteer,” ujar Sharla saat diwawancarai.
Pengalaman tersebut berlanjut pada Juni 2025, saat ia kembali terjun sebagai relawan dalam aksi sosial di Banda Neira. “Di Banda Neira aku masuk di divisi pendidikan, dan yang bikin aku tertarik banget waktu itu aku mengajar edukasi seksual (sex education) ke anak-anak SD dan SMP. Dari situ aku ngerasa interaksi dengan warga, anak-anak, dan lingkungannya itu benar-benar nge-recharge energy aku,” ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, muncul keinginan Sharla untuk membangun wadah relawan sendiri, khususnya bagi perempuan. “Daripada aku ikut di tempat lain, aku kepikiran buat wadah relawan sendiri. Di Kota Blitar dan kota-kota sekitar seperti Tulungagung, Kediri, Solo, belum banyak kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Nama Temu Berdaya dipilih bukan tanpa makna. Sharla percaya bahwa setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan. “Kata ‘Temu’ berarti ruang untuk saling bertemu, berbagi cerita, dan belajar. Sedangkan ‘Berdaya’ berarti setelah pulang dari ruang itu, kita membawa kekuatan baru, lebih sadar, lebih percaya diri, dan lebih berani melangkah,” ungkapnya.
Menurut Sharla, Temu Berdaya merupakan refleksi dari perjalanan dirinya dalam bertumbuh secara pribadi dan sosial. Ia ingin generasi muda, khususnya perempuan, memiliki ruang positif untuk berkegiatan. “Kita sebagai generasi muda jadi lebih positif, enggak cuma spend waktu buat nongkrong, tapi juga bisa spend waktu untuk menebar kebaikan,” katanya.
Meski fokus pada pemberdayaan perempuan, Temu Berdaya juga mengangkat isu kesetaraan gender, pemberdayaan UMKM, hingga edukasi kesehatan reproduksi. Salah satu programnya adalah Sunday Market, yang digelar dalam rangkaian acara Ruang Aman Perempuan. Dalam kegiatan ini, pelaku UMKM, khususnya karya perempuan Indonesia, difasilitasi untuk berjualan secara gratis.
Kegiatan Ruang Aman Perempuan juga biasanya diisi dengan aktivitas seperti pilates, yoga, journaling, hingga sesi berbagi aspirasi dengan tema yang berbeda-beda. “Misalnya tema Mother Day, pertanyaan jurnalnya tentang perjuangan ibu, bagaimana rasanya menjadi ibu, atau menjadi anak perempuan pertama,” papar Sharla.
Temu Berdaya sendiri tidak berbentuk organisasi formal. Komunitas ini bersifat terbuka untuk umum atau semua kalangan. “Kita bentuk komunitas terbuka untuk umum, siapa pun boleh ikut, mau ikut sekali, berhenti lama, lalu ikut lagi itu enggak masalah, enggak ada konsep anggota tetap,” jelasnya.
Selain pemberdayaan perempuan dan UMKM, Temu Berdaya juga aktif mengangkat isu kekerasan seksual, anti-pelecehan seksual, serta kesehatan reproduksi perempuan. “Di Panti Asuhan Muhammadiyah khusus wanita bulan Oktober 2025 lalu, kita enggak cuma berbagi kebahagiaan, tapi juga memberi edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita,” ungkap Sharla.
Dalam membangun komunitas Temu Berdaya ini, tantangan tetap ada. “Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi dan rasa kekeluargaan, karena bagi saya, Temu Berdaya bukan sekadar komunitas, tapi rumah untuk bertumbuh bersama,” ujarnya.
Sharla pun berharap generasi muda, khususnya perempuan, berani memulai dan menyuarakan pendapat. “Saya pengin Temu Berdaya menjadi ruang aman untuk tumbuh, saling menguatkan, dan melahirkan lebih banyak individu yang berdampak bagi sekitarnya,” katanya.
Sementara itu, salah satu tim Temu Berdaya, Adimas (25), menyebut bahwa komunitas ini memang dirancang sebagai wadah aman bagi perempuan yang ingin berkegiatan sosial. “Temu Berdaya itu wadah khusus perempuan yang ingin berkegiatan positif, karena kadang perempuan masih malu kalau ikut aksi sosial bareng cowok-cowok,” ungkapnya saat ditemui, di Solo pada Minggu (18/1/2026).
Relawan Temu Berdaya berasal dari berbagai latar belakang dengan rentang usia berbeda-beda biasanya mulai dari 15 hingga 40 tahun. Kegiatan sosial dilakukan secara rutin, biasanya tiga minggu sekali, menyasar panti jompo, panti asuhan, hingga lingkungan masyarakat. Setiap kegiatan diawali dengan briefing dan koordinasi online melalui Zoom agar relawan memahami alur acara.
Adimas menambahkan, seluruh biaya pendaftaran relawan akan didonasikan untuk kegiatan sosial. “Fokusnya bergerak bersama, berdampak nyata, dan menghadirkan kebahagiaan yang bermakna,” tuturnya.
Bagi perempuan yang ingin bergabung sebagai relawan, pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan di bio Instagram @temuberdaya.id, dengan kuota relawan yang biasanya dibuka sebanyak 15 orang di setiap kegiatan.












