Pengalaman Horor Warga Jambi di Kamboja
Andri Budi Sanjaya, seorang warga Kota Jambi, menjadi korban penipuan lowongan kerja (loker) yang ditawarkan melalui media sosial Facebook. Kini, ia kesulitan pulang ke Jambi karena kehabisan uang. Kronologi pengalaman buruknya dimulai saat ia mendapatkan tawaran pekerjaan dari medsos Facebook.
Awal Tawaran Pekerjaan
Saat itu, Andri sedang tidak bekerja. Ia menerima telepon dari penyedia lowongan kerja. Penelepon menawarkan pekerjaan di restoran negara Kamboja dengan gaji 800 Dolar Amerika Serikat per bulan. “Kerjanya, kerja restoran, dengan gaji 800 USD, sekitar Rp12 juta lebih,” katanya, saat dihubungi via telepon seluler, Kamis (12/2/2026).
Mengetahui jumlah gaji tersebut, Andri tertarik. Tiga hari setelah mendapat telepon itu, pada 16 Desember 2025, Andri berangkat. Dari Jambi, dia meluncur ke Pekanbaru, Provinsi Riau, untuk mengurus administrasi di sana. “Saya berangkat dari Jambi ke Pekanbaru (Riau). (Pembuatan) paspornya singkat, ditunggu langsung jadi. Pagi foto, sore sudah jadi,” imbuhnya.
Keesokan harinya, 17 Desember 2025, Andri melakukan penerbangan ke Kamboja.
Kekecewaan dan Penipuan
Setiba di bandara Kamboja, dia dijemput orang menggunakan mobil. “Saya dibawa keliling. Nggak tahunya dibawa ke suatu perumahan. Kompleks gitu, dengan penjaga 70 hingga 80 orang,” lanjutnya. Di situ, Andri baru mengetahui bahwa pekerjaan yang dilakukannya bukan pekerjaan scam (penipuan), bukan ke restoran sebagaimana sebelumnya ditawarkan via telepon.
Pekerjaan scam tersebut dengan cara menipu orang, kata Andri, seraya mencontohkan teknis pekerjaan tersebut. “Jika pekerjanya laki-laki, maka korbannya perempuan. Jika pekerjanya perempuan, maka korbannya laki-laki,” lanjutnya. Di sana, pekerja telah diberikan atau disiapkan karakter (gambar visual artificial intelligence atau kecerdasan buatan) sosok laki-laki (etnis tertentu). Pekerja mendapat tugas memanipulasi korban dengan berpura-pura mencintai korban. Pekerja membuat korban tertarik, lalu berinvestasi di platform trading, sebab korban telah percaya karena memiliki hubungan dengan pekerja.
Perlakuan Kejam dan Ancaman
Selama bekerja, kata Andri, perlakuan para penjaga di dalam ruangan sangat kejam. Apabila ada pekerja yang melawan, maka akan dihukum. “Kami kan gak bisa menipu. Kalau kami gak menipu, kami disetrum,” lanjutnya. Penyiksaan juga akan diberikan jika pekerja tidak bisa memenuhi omzet scam tersebut.
Dalam sepengetahuan Andri, di antara para pekerja itu ada yang meninggal akibat disetrum dan ditembak. Andri juga mengungkapkan, ada pekerja asal Indonesia yang meninggal, namun tidak diketahui keberadaan jenazahnya. “Yang mati pun banyak orang Indonesia, enggak terhitung lagi. Ditembak, dipukuli. Siksaannya gak main-main, sebulan itu serasa 10 tahun,” lanjutnya.
Penggerebekan dan Pemulangan
Andri menuturkan, dirinya telah sebulan bekerja di Kamboja. Beberapa waktu lalu terjadi penggerebekan di perusahaannya. Saat itu, dia ditanya bos perusahaan perihal keinginannya untuk bekerja lagi. “Saya jawab, saya mau pulang, bos. Tapi gak dikasih paspornya. Lalu, saat razia terjadi, bos-bos pada ketakutan, paspor kami akhirnya dikasih,” lanjutnya.
Menurut Andri, setelah razia, ada sebagian pekerja yang masih melajutkan kerja di sana. Namun, ada juga yang tidak mau melanjutkan bekerja, dan balik ke Indonesia. “Saya dikasih paspor, saya lari dulu, penjaganya ada 70 orang,” tuturnya.
Di Penampungan Imigrasi
Saat dihubungi via telepon WhatsApp oleh Tribun Jambi, Andri sudah berada di penampungan imigrasi. Posisinya tidak memiliki uang untuk pulang ke Indonesia. Sementara pemerintah tidak menyediakan visa overstay. Di tempat penampungan itu, kata Andri ada sekira 1.200 orang yang mengalami nasib serupa.
“Makanya saya minta tolong sama Pemerintah Kota Jambi. Kayak Bengkulu (warga) buat video, minta bantuan dengan anggota dewannya, Alhamdullilah anggota dewannya menyetujui semua,” ujarnya. Menurut Andri, ada batas waktu bagi mereka bisa tinggal di penampungan imigrasi. Jika sudah tinggal di sana lebih dari satu tahun, maka akan dijadikan tersangka.
Peringatan dan Harapan
Belajar dari peristiwa tersebut, Andri berharap agar warga Indonesia tidak berangkat ke Kamboja sepertinya. “Jangan lagi tergiur dengan gaji besar, semua itu penuh risiko. Gaji besar tidak menjamin kita nyaman. Contohnya, saya,” kata Andri Putra Snjaya.
Lantas apakah ada warga Jambi lain yang juga menjadi korban? Saat ini, Andri sedang mencoba mengonfirmasi ke pemerintah Indonesia, karena sejauh ini dia mendapat kabar ada warga Jambi lainnya yang menjadi korban.
Andri menutup wawancara dengan memohon kepada pemerintah di Jambi untuk membantu memulangkannya. “Saya memohon kepada pemerintah, khususnya Bapak Gubernur Jambi Alharis dan seluruh jajaran pemerintah, untuk membantu memulangkan saya ke Indonesia,” katanya.










