Daerah  

ASN Muba Bagikan Kebaikan Lewat Potongan Gaji untuk Bantu Warga Kurang Mampu

Masalah Gaji ASN dan PPPK di Kabupaten Muba

Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kini menghadapi perubahan dalam penerimaan gaji mereka. Gaji bulanan yang sebelumnya diterima secara utuh kini dipotong untuk zakat, infak, dan iuran Korpri. Hal ini menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan pegawai pemerintah setempat.

Banyak dari ASN Muba mengaku ikhlas menyisihkan sebagian gaji untuk zakat dan infak sebagai bentuk sedekah. Namun tidak semua memiliki pandangan serupa. Sebagian kecil mengeluh karena potongan tersebut terasa memberatkan, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup pada penghasilan terbatas. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, serta keperluan rumah tangga membuat setiap rupiah sangat berarti bagi para pegawai pemerintah.

Meski demikian, secara umum para pegawai sepakat bahwa zakat dan infak yang dipotong dari gaji mereka memiliki manfaat besar bagi masyarakat luas. YS, seorang ASN di Pemkab Muba, menjelaskan bahwa gajinya dipotong untuk zakat dan infak sebesar Rp 151.148 ditambah iuran Korpri Rp 50.000, sehingga total mencapai Rp 201.148. Meskipun begitu, ia mengaku tidak keberatan dengan potongan tersebut.

“Kalau niatnya untuk sedekah dan membantu warga yang membutuhkan, saya ikhlas. Hitung-hitung beramal,” ujarnya.

Ia juga melihat langsung program yang ada pada BAZNAS dan KORPRI yang secara langsung menyentuh masyarakat. “Keluarga saya ada yang pedagang dan dia ini keterbatasan modal usaha, jadi mengajukan bantuan ke BAZNAS. Alhamdulillah bantuan modal tersebut diterima dan usaha kecil-kecilan berjualan saudara saya tetap berjalan, begitu juga KORPRI jika pegawai ada musibah dapat santunan,” tambahnya.

AT, ASN lainnya di Pemkab Muba, juga mengatakan bahwa gajinya dipotong sekitar Rp 112.000 per bulan ditambah Korpri Rp 20.000. Menurutnya, potongan tersebut masih dalam batas wajar dan tidak terlalu membebani.

“Tidak terlalu berat karena kebanyakan untuk keperluan infaq dan sedekah pada warga yang membutuhkan. Selagi itu untuk kebaikan saya ikhlas saja,” ujarnya.

Namun, suara berbeda datang dari HN, tenaga pendidik berstatus PPPK. Ia menyebut gajinya dipotong untuk iuran PGRI sebesar Rp 14.000 serta zakat BAZNAS sebesar 2,5 persen dari gaji pokok, dengan total sekitar Rp 77.220 per bulan. Menurutnya, potongan tersebut cukup terasa apalagi saat ini ekonomi sedang sulit dan barang kebutuhan pokok serba mahal.

“Keberatan karena kami PPPK masih mengandalkan gaji yang notabene sekitar Rp 3 jutaan, belum suami yang kerja serabutan, jadi secara garis besar cukup berat. Walaupun hanya Rp 77 ribu,” ungkapnya.

Aturan Pengumpulan Zakat dan Infak

Kepala BAZNAS Kabupaten Muba, Drs H Muhammad Jaya, menjelaskan bahwa pengumpulan zakat ASN mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2019 dan Perbup Nomor 37 Tahun 2019 mengenai pengaturan dan pengelolaan zakat, infaq, dan sedekah. Dalam aturan itu, zakat ditetapkan sebesar 2,5 persen dari gaji bruto bagi ASN yang telah memenuhi nisab, sementara infaq bersifat sukarela sesuai kemampuan masing-masing pegawai, termasuk PPPK.

Pengumpulan zakat dilakukan melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masing-masing OPD untuk mempermudah ASN menunaikan kewajiban agama secara terorganisir. Menurutnya, kebijakan ini bukan keputusan sepihak BAZNAS, melainkan telah diatur dalam perda yang disahkan bersama DPRD dan pemerintah daerah.

“Zakat itu wajib sesuai Perda Nomor 1 Tahun 2019 dan rukun Islam ketiga, sementara infaq tidak wajib dan sesuai kemampuan. Ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat,” ujarnya.

Muhammad Jaya juga menyebutkan bahwa BAZNAS Muba menjadi salah satu yang terbaik di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal penghimpunan dana, bahkan melampaui rata-rata kabupaten/kota lain dan BAZNAS Provinsi Sumsel.

“Setiap bulan, dana zakat yang terkumpul rata-rata mencapai sekitar Rp 1,1 miliar, sementara infak sekitar Rp 300 juta, dan seluruhnya dilaporkan kepada Bupati melalui sistem pelaporan resmi setiap bulan. Semuanya transparan dan terbuka,” rincinya.

Penyaluran Zakat dan Infaq Melalui Program Tematik

PENYALURAN dana zakat dan infaq di Kabupaten Musi Banyuasin dilakukan melalui sejumlah program tematik yang menyasar sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan kemanusiaan.

Kepala BAZNAS Kabupaten Muba, Muhammad Jaya, mengatakan pola ini dirancang agar bantuan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat.

“Zakat dan infak yang dihimpun dari ASN kami salurkan secara terarah agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Di sektor ekonomi, dana disalurkan melalui Program Muba Makmur dalam bentuk bantuan modal usaha individu, santripreneur, penguatan Z-Mart, serta pelatihan keterampilan kerja. Program ini menyasar masyarakat miskin dan rentan miskin agar mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

“Kami ingin mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga naik kelas menjadi pelaku usaha yang mandiri,” tambahnya.

Sementara itu, sektor kesehatan disentuh melalui Program Muba Sehat dengan penyaluran bantuan transportasi dan akomodasi pasien, pembangunan sanitasi dan jamban, penyediaan sumur air bersih, serta bantuan biaya pengobatan.

“Program ini penting untuk memastikan masyarakat miskin tetap mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Kesehatan adalah kebutuhan dasar, sehingga zakat dan infaq harus hadir di situ,” tambahnya.

Di bidang keagamaan dan kemanusiaan, dana disalurkan melalui Program Muba Taqwa dan Program Muba Peduli, mulai dari bantuan syiar dakwah, muallaf, kafalah dai, sarana prasarana dakwah, hingga bedah rumah RTLH, bantuan sembako fakir miskin dan santri, ibnu sabil, gharimin, korban bencana alam, alat kesehatan, pemulasaran jenazah, khitanan massal, serta donasi kemanusiaan bencana Sumatera beberapa waktu lalu.

“BAZNAS Muba berupaya agar zakat dan infaq benar-benar hadir di tengah persoalan umat, baik dalam kondisi normal maupun darurat,” tutupnya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?