Cintai Rupiah, Cinta Indonesia

Kedaulatan Ekonomi dan Peran Rupiah dalam Kehidupuan Masyarakat

Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menekankan bahwa keberadaan mata uang nasional, yaitu rupiah, merupakan simbol dari kedaulatan negara. Rifki Ismal, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, menyatakan bahwa mencintai rupiah dan produk dalam negeri adalah bagian dari memperkuat kedaulatan ekonomi. Dengan meningkatkan preferensi terhadap produk domestik, kebutuhan impor akan berkurang, sehingga permintaan valuta asing juga menurun dan rupiah menjadi lebih stabil.

Loyalitas masyarakat terhadap produk lokal menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi yang kuat. Menurut Rifki, kecintaan terhadap mata uang dan produk dalam negeri adalah salah satu hal krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ia menjelaskan bahwa tingginya konsumsi barang impor memberi tekanan pada rupiah. Ketika masyarakat membeli produk luar negeri seperti gawai dan barang elektronik, transaksi dilakukan dengan mata uang asing, sehingga meningkatkan kebutuhan valuta asing.

Sebaliknya, ia mencontohkan negara-negara yang memiliki loyalitas tinggi terhadap produk dalam negeri. Di negara tersebut, masyarakat enggan membeli barang asing jika ada produk lokal yang tersedia. Akibatnya, kebutuhan impor rendah dan mata uangnya lebih stabil. Jika masyarakat Indonesia memperkuat konsumsi produk lokal, ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan, sehingga mengurangi permintaan terhadap valuta asing dan membantu menjaga kestabilan rupiah.

Tantangan Eksternal dalam Perekonomian

Selain faktor konsumsi, Rifki juga menyebut tantangan eksternal seperti kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat di era kepemimpinan Donald Trump. Kebijakan tarif tinggi terhadap barang impor dinilai dapat menghambat ekspor Indonesia. Jika barang kita dihambat masuk ke Amerika, tentu penerimaan devisa berkurang. Pasokan dolar terbatas, ini juga bisa memberi tekanan tambahan pada rupiah.

Karena itu, Rifki kembali menegaskan bahwa salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan masyarakat adalah meningkatkan rasa bangga dan preferensi terhadap produk dalam negeri. Jika masyarakat cinta Indonesia, tidak banyak mengonsumsi barang impor, ekonomi akan semakin solid. Ketergantungan terhadap luar negeri berkurang dan rupiah akan lebih kuat.

Fenomena Nilai Tukar Rupiah dalam Satu Dekade

Paparan Rifki seperti menjawab fenomena nilai tukar rupiah dalam satu dekade terakhir yang menunjukkan tren pelemahan yang signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Jika pada 2015 kurs rupiah masih berada di kisaran Rp10.000 per dolar Amerika, maka pada 2025 nilainya telah merosot ke kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per dolar Amerika. Kondisi ini membuat daya beli masyarakat terhadap barang impor semakin tertekan.

Tidak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tercatat melemah terhadap mata uang negara tetangga. Pada November 2025, nilai tukar rupiah menyentuh level terendah sejak 2007 terhadap ringgit Malaysia. Satu ringgit Malaysia setara sekitar Rp4.011 hingga Rp4.048, jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran Rp3.400 hingga Rp3.590 per MYR. Depresiasi ini mencerminkan pelemahan rupiah lebih dari 11 hingga 15 persen terhadap mata uang Negeri Jiran.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pelaku ekonomi, mengingat Malaysia merupakan salah satu mitra dagang penting Indonesia di kawasan Asia Tenggara.


Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?