Langkah Preventif Otoritas Penerbangan Sipil Prancis
Otoritas penerbangan sipil Prancis mengambil langkah preventif dengan memerintahkan seluruh maskapai untuk melakukan pembatasan jadwal penerbangan secara signifikan di bandara-bandara utama Paris. Tindakan ini dilakukan setelah adanya peringatan dini dari biro meteorologi terkait ancaman hujan salju lebat dan kondisi pembekuan permukaan yang diprediksi akan melanda wilayah ibu kota dan sekitarnya.
Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGAC) merilis pengumuman darurat tersebut pada hari Sabtu, memberikan waktu bagi operator bandara dan perusahaan penerbangan dalam menyusun ulang jadwal operasional demi menjamin keselamatan publik. Meskipun instruksi ini menyebabkan gangguan perjalanan bagi ribuan calon penumpang, kebijakan tersebut dianggap sangat penting untuk mencegah kemacetan total di landasan pacu.
Cuaca Ekstrem Sebabkan Kapasitas Penerbangan di Bandara Dikurangi
DGAC resmi mewajibkan pengurangan kapasitas operasional sebesar 30 persen di Bandara Charles de Gaulle (CDG) dan 20 persen di Bandara Orly (ORY), mulai pagi hari. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengantisipasi prakiraan akumulasi salju setinggi 1 hingga 5 sentimeter yang berpotensi melumpuhkan aktivitas bandara. Dengan penerbitan instruksi darurat, pemerintah berupaya menyeimbangkan jumlah pergerakan pesawat dengan kapasitas tim layanan darat dalam membersihkan salju dan es agar tidak terjadi antrean yang membahayakan keselamatan lalu lintas udara.
Dalam pelaksanaannya, maskapai diinstruksikan untuk tetap memprioritaskan penerbangan jarak jauh, sedangkan rute domestik dan jarak pendek diminta untuk dibatalkan atau digabungkan. Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, menegaskan bahwa langkah ini sangat diperlukan demi menjaga keamanan publik di tengah kondisi cuaca buruk.
“Saya berharap situasi akan kembali normal sore ini setelah puncak cuaca dingin terlewati, namun untuk saat ini keselamatan operasional tetap menjadi prioritas utama pemerintah,” ujar Tabarot.
Saat ini, pengelola bandara juga telah memastikan ketersediaan cairan pembersih es dan personel tambahan agar operasional penerbangan yang tersisa tetap berjalan sesuai jadwal yang telah direvisi.
Badai Salju Picu Ribuan Penundaan Penerbangan di Eropa
Cuaca ekstrem yang melanda Paris menciptakan tantangan logistik yang berat bagi tim operasional bandara. Setiap pesawat yang akan berangkat wajib menjalani prosedur pembersihan es atau de-icing selama 20 hingga 40 menit guna menjamin keamanan teknis pesawat. Proses ini memicu keterlambatan jadwal secara beruntun, sehingga pengurangan jumlah penerbangan di landasan pacu menjadi langkah utama untuk menghindari kepadatan total di terminal keberangkatan. Masalah ini diperparah oleh suhu sangat rendah yang menghambat kinerja staf serta memaksa pemeriksaan paspor dialihkan ke jalur manual yang lebih lambat.
Situasi darurat tersebut semakin sulit akibat terjangan angin kencang dari Atlantik yang mengakibatkan lebih dari 1.300 penundaan penerbangan di seluruh Eropa, dengan Paris dan Amsterdam sebagai titik terdampak paling parah. Juru bicara otoritas bandara, Stefan Donker, menyampaikan bahwa tumpukan salju yang sangat cepat membuat armada pembersih bekerja ekstra keras melampaui kapasitas normalnya.
“Ini adalah situasi luar biasa yang menuntut kesabaran dari semua pihak, dan kami telah mengimbau seluruh penumpang untuk tetap berada di rumah atau mencari akomodasi alternatif karena terminal saat ini telah mencapai batas kapasitas maksimalnya,” ujar Stefan Donker.
Saat ini, beberapa jalur taksi bandara terpaksa ditutup sementara demi menjamin keselamatan navigasi pilot di tengah jarak pandang yang sangat terbatas.
Hak Penumpang dan Kebijakan Maskapai Akibat Cuaca Buruk
Berdasarkan Regulasi Uni Eropa 261/2004, ribuan penumpang yang terdampak pembatalan jadwal berhak memilih antara pengembalian dana penuh atau penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan. Meskipun maskapai tidak wajib memberikan kompensasi tunai karena cuaca ekstrem dianggap sebagai keadaan luar biasa, mereka tetap harus menyediakan bantuan dasar seperti makanan, minuman, dan akomodasi. Maskapai besar seperti Air France dan KLM telah memberikan fleksibilitas penuh bagi penumpang untuk mengubah jadwal perjalanan mereka paling lambat hingga Rabu (18/2/2026) agar tetap masuk dalam skema bebas biaya.
Sebagai solusi alternatif, otoritas menyarankan penggunaan kereta cepat seperti TGV dan Eurostar, meskipun moda transportasi ini juga berpotensi mengalami pembatasan kecepatan akibat tumpukan salju. Juru bicara maskapai KLM, Anoesjka Aspeslagh, menjelaskan bahwa pihaknya tengah bekerja keras untuk memulihkan jadwal operasional yang terganggu akibat fenomena alam ini.
“Kami belum pernah mengalami kondisi cuaca ekstrem seperti ini selama bertahun-tahun, dan saat ini kami sedang berupaya sekuat tenaga untuk membantu setiap penumpang kembali ke tujuan mereka secepat mungkin melalui koordinasi lintas armada,” ujar Aspeslagh.
Penumpang sangat disarankan untuk selalu memantau status perjalanan melalui aplikasi resmi guna menghindari penumpukan massa di terminal bandara.


Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












