Atlet Bali Ni Nengah Widiasih: Kenang Ibu dalam Aroma Babi Guling Balah Men Bingin

Kehidupan Baru Ni Nengah Widiasih: Dari Atlet ke Pengusaha Kuliner

Di tengah kota Denpasar, Bali, ada sebuah warung makan yang baru saja dibuka. Warung tersebut bernama Babi Guling Balah Men Bingin. Di balik nama itu terdapat cerita yang sangat penuh makna dan perjuangan. Ni Nengah Widiasih, sosok yang dikenal sebagai Wonder Woman dari Bali, kini memulai langkah baru dalam hidupnya dengan menjadi pengusaha kuliner.

Widiasih dikenal sebagai atlet powerlifting berprestasi sejak kecil. Ia telah meraih banyak medali baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, ia tidak hanya ingin dikenang sebagai atlet. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa sukses dalam bidang lain, yaitu bisnis.

Prestasi yang Menggemparkan Dunia Olahraga

Ni Nengah Widiasih adalah sosok yang tak asing bagi dunia olahraga disabilitas Indonesia. Ia bukan sekadar atlet biasa, melainkan pionir yang telah mencatatkan prestasi luar biasa. Dalam sejarahnya, ia telah meraih dua medali di dua edisi Paralimpiade. Puncaknya adalah saat ia berhasil menyabet medali perak di Paralimpiade Tokyo 2020 kelas 41 kg dan medali perunggu di Paralimpiade Rio de Janeiro 2016.

Di level Asia, Widiasih selalu menjadi langganan podium. Ia meraih medali perak di Asian Para Games Incheon 2014, Jakarta 2018, hingga Hangzhou 2022. Sementara di Asia Tenggara, ia menjadi “ratu” yang tak tergoyahkan dengan rentetan medali emas ASEAN Para Games sejak edisi 2011 hingga 2023.

Perjalanan Menuju Bisnis Kuliner

Kini, Widiasih sedang merajut narasi baru dalam hidupnya. Bukan lagi soal rekor angkatan, tetapi tentang aroma rempah, memori tentang ibu, dan keberanian melangkah keluar dari zona nyaman. Ia baru saja membuka warung Babi Guling Balah Men Bingin. Langkah ini ia sebut sebagai dunia lain di luar rutinitas latihan dan tanding yang telah ia geluti sejak kelas 6 SD.

Warung ini memiliki makna emosional bagi Widiasih. Nama “Men Bingin” adalah panggilan almarhumah ibundanya yang telah berpulang satu setengah tahun lalu. Ia ingin nama ibunya tetap hidup dan dikenang. “Saya ingin nama Ibu tetap hidup. I want her name to live forever,” ujarnya.

Keunikan dan Cita Rasa Babi Guling

Babi Guling Balah Men Bingin memiliki ciri khas Karangasem yang kuat. Menu andalannya adalah Babi Guling Suna Cekuh dan Lawar Merah, hidangan autentik yang dibuat langsung oleh ayahnya. Ayah Widiasih dikenal sebagai ahli memasak hidangan tradisional Bali untuk upacara. “Bapak saya itu chef. Di kampung, kalau ada orang hajatan nikah, konsultasinya pasti ke Bapak,” kenang Widi.

Meski persaingan babi guling di Denpasar sangat ketat, Widiasih percaya diri dengan ciri khas yang dimilikinya. Ia mengaku tidak tahu resepnya karena tidak pernah masuk urusan dapur. “Saya di balik layar saja,” selorohnya sambil tertawa.

Keseimbangan antara Olahraga dan Bisnis

Bagi Widiasih, bisnis ini adalah cara “istirahat” sejenak dari beban besi, meski jiwanya tetap berada di pelatnas. Ia masih terus berlatih meskipun sedang menghadapi cedera serius pada bagian scapula (tulang belikat) yang sempat dislokasi dan otot yang sobek.

Cedera ini membuatnya harus berstrategi, termasuk menaikkan kelas ke 45 kg demi asupan nutrisi pemulihan yang lebih maksimal. “Cedera itu sudah jadi bagian hidup atlet. Terakhir di Mesir, saya sudah mati rasa karena kram parah,” ungkap dia.

Namun, targetnya sudah jelas yakni Asian Para Games Nagoya 2026 di Jepang dan kualifikasi menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Harapan untuk Generasi Muda

Sebagai sosok yang sering dijuluki “Maria Londa-nya Bali” di dunia disabilitas, Widiasih juga menyimpan kegelisahan soal regenerasi. Ia berharap keberhasilannya, baik di arena olahraga maupun bisnis, bisa memotivasi generasi muda Bali untuk tidak takut bermimpi besar.

“Besar harapan saya, bisnis ini bisa menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Kita bersaing sehat, sama-sama ingin maju,” tutupnya.

Dari panggung dunia hingga ke meja makan, Ni Nengah Widiasih membuktikan bahwa kekuatan seorang juara tidak hanya terletak pada beban yang mampu ia angkat, tetapi pada seberapa besar ia mampu menghidupkan cinta bagi keluarganya dan kebermanfaatan bagi sesama.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?