Konsumsi Pertalite Naik 8 Persen, Pertamina Minta SPBU Tambah Stok Saat Mudik dan Arus Balik

Prediksi Peningkatan Konsumsi BBM di Sulawesi Saat Ramadan dan Idul Fitri

Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Sulawesi diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7,5–8 persen menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Hal ini menjadi perhatian serius bagi PT Pertamina Patra Niaga yang meminta seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menambah cadangan stok selama masa mudik dan arus balik.

Puncak permintaan diprediksi terjadi pada H-7 hingga Hari H Lebaran, dengan lonjakan tertinggi pada produk gasoline seperti Pertalite dan Pertamax. Sementara itu, konsumsi gasoil seperti Biosolar diperkirakan turun 10–11 persen akibat berkurangnya aktivitas logistik.

Kenaikan Konsumsi BBM dan Strategi Persiapan

Sales Branch Manager Sulselbar, I Fuel Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Muh Yoga Prabowo menyatakan bahwa estimasi peningkatan konsumsi BBM adalah antara 7,5 sampai 8 persen. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, baik di awal Ramadan maupun menjelang Idul Fitri.

Ia menambahkan bahwa permintaan tertinggi diperkirakan terjadi pada H-7 hingga Hari H Lebaran. Dalam pemantauan bersama Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Manusia (Kadis ESDM) Sulsel Andi Eka Prasetia di SPBU Jl Urip Sumoharjo, Makassar, tim melakukan pemeriksaan kesesuaian jenis BBM dengan spesifikasi kendaraan serta uji sampel, khususnya untuk Pertalite dan Pertamax.

Menurut Yoga, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 19-20 Maret, sedangkan arus balik pada 26-30 Maret. Sementara itu, konsumsi BBM jenis gasoil seperti Biosolar, Dexlite, dan Pertamina Dex diproyeksikan turun 10-11 persen. Penurunan ini terjadi karena berkurangnya aktivitas logistik dan industri selama Ramadan. Berbeda dengan solar, konsumsi avtur justru diprediksi naik hingga 4 persen karena Makassar sebagai salah satu tujuan mudik jalur udara.

Untuk memastikan pasokan aman, distribusi BBM ditopang oleh tiga terminal utama di Makassar, Parepare, dan Palopo. “Di lembaga penyalur seperti SPBE, SPBU, pangkalan hingga pertashop, kami minta build up stok selama masa mudik dan arus balik,” jelas Yoga.

Ketahanan stok rata-rata Pertalite mencapai 9 hari dan Pertamax 9,4 hari dalam kondisi normal, meski pergerakan stok bersifat fluktuatif tergantung suplai dan permintaan.

Kuota BBM di Sulawesi Selatan Masih Cukup

Plt Kepala Dinas ESDM Sulsel Andi Eka Prasetia memastikan kuota BBM di Sulawesi Selatan masih cukup. Kuota Biosolar tercatat 741.391 kiloliter dan Pertalite 1.136.082 kiloliter. “Stok yang tersedia masih aman untuk proyeksi Ramadan hingga Idul Fitri,” ujarnya.

Pemantauan distribusi akan difokuskan pada daerah tujuan mudik dan kawasan wisata. Perhatian khusus juga diberikan pada wilayah yang sebelumnya pernah mengalami kendala distribusi akibat faktor cuaca.

Stop Impor Solar: Langkah Menuju Swasembada Energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berkelakar bahwa para importir bahan bakar minyak (BBM) akan “sakit kepala” karena Indonesia tahun ini tidak lagi mengimpor solar. Hal ini disampaikan saat menyampaikan arahan dalam Sidang Dewan Pleno Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Makassar, Minggu (15/2/2026).

Menurut Bahlil, penghentian impor solar didukung oleh peningkatan produksi dari proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan (RDMP) di Kalimantan Timur, serta penerapan program biodiesel B40. “Ini sejarah pertama dalam sejarah peradaban bangsa kita. Pasti importir sakit kepala ini,” ujarnya.

Konsumsi solar nasional mencapai 39 juta kiloliter per tahun. Sementara produksi dalam negeri sebelumnya hanya sekitar 16 juta kiloliter. Melalui RDMP Balikpapan, kapasitas produksi bertambah 5 juta kiloliter bensin dan 3,9 juta kiloliter solar per tahun. Tambahan tersebut, ditopang kebijakan B40, dinilai mampu menutup kebutuhan dalam negeri tanpa impor.

B40 sendiri berarti setiap 100 persen solar yang dijual terdiri atas 60 persen solar dan 40 persen biodiesel. “Maka tahun ini dengan B40, tidak lagi kita melakukan impor solar,” tegasnya.

Ketahanan Energi dan Tantangan di Sektor Energi

Bahlil Lahadalia menyinggung masa keemasan produksi minyak nasional pada periode 1996-1997. Saat itu, produksi Indonesia sempat menembus 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari (bph). Pada periode yang sama, kebutuhan dalam negeri masih berada di kisaran 500.000 bph.

Dengan selisih produksi yang besar, Indonesia mampu mengekspor sekitar 1 juta barel per hari. “Kondisi tersebut membuat Indonesia sempat menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), dengan kontribusi sektor minyak mencapai 43 persen terhadap APBN,” ujar Bahlil.

Namun, pascareformasi, produksi minyak nasional terus mengalami tren penurunan. Dalam satu dekade terakhir, lifting minyak bahkan tak pernah mampu memenuhi target yang ditetapkan dalam asumsi APBN.

“Alhamdulillah, kemarin untuk pertama kali dalam 10 tahun terakhir, target APBN 605 ribu barel per hari bisa tercapai. Realisasi lifting kita sekitar 605.300 barel per hari,” ujarnya.

Meski mulai menunjukkan tren positif, tantangan sektor energi dinilai masih besar. Saat ini, volume impor minyak mentah dan produk turunannya mencapai kurang lebih 1 juta barel per hari. Secara keseluruhan, nilai impor energi—meliputi BBM, crude oil, hingga LPG—mencapai sekitar Rp520 triliun per tahun.

Bahlil menegaskan, tanpa langkah terobosan yang konkret dan terukur, upaya mewujudkan kemandirian energi akan sulit tercapai.

Langkah Strategis untuk Mendorong Ketahanan Energi

Sebagai langkah strategis, pemerintah menyiapkan sekitar 110 wilayah kerja migas yang akan ditawarkan melalui mekanisme lelang. “110 blok baru ini untuk mendorong ketahanan energi dan swasembada energi. Saya sudah minta,” katanya.

Selain itu, sepanjang tahun ini nilai proyek di bawah koordinasi SKK Migas bersama para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mencapai sekitar 42 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp600 triliun. Menurut Bahlil, seluruh peluang tersebut dibuka secara profesional, akuntabel, dan transparan.

Ia juga menerapkan kebijakan afirmatif. Proyek bernilai di bawah Rp100 miliar tidak lagi boleh sepenuhnya digarap kontraktor berbasis di Jakarta, melainkan harus melibatkan pelaku usaha daerah. “Kasih pekerjaan itu kepada anak-anak daerah di mana lokasi itu ada,” ujarnya.

Meski demikian, Bahlil mengingatkan pelaku usaha daerah agar memiliki kesiapan teknis dan manajerial yang memadai. Partisipasi tidak cukup hanya sebatas pengajuan proposal. “Di dunia migas itu bicara profesional. Ini peluang, silakan dimanfaatkan,” katanya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?