Penanganan Longsoran di KM 28 Batuah
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur telah resmi memulai penanganan serius terhadap titik longsor di KM 28 Desa Batuah, Kabupaten Kutai Kartanegara. Titik ini berada di ruas jalan poros negara yang menghubungkan Samarinda–Kukar–Balikpapan dan sempat menjadi sorotan publik akibat beberapa kali pergerakan tanah.
BBPJN Kaltim mempercepat pekerjaan setelah kontrak ditandatangani pada 13 Januari 2026. Fokus utama saat ini adalah penguatan struktur tanah untuk mengembalikan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.10 BBPJN Kaltim, R. Bagus S, mengatakan tim lapangan tengah mengerjakan penguatan lereng menggunakan metode bore pile. “Saat ini tim di lapangan fokus pada penguatan struktur tanah. Teknik bore pile dipilih untuk memastikan kestabilan lereng di titik tersebut,” ujarnya kepada Tribun Kaltim, Rabu (18/2).
Dari total target 118 titik bore pile, sebanyak 38 titik telah diselesaikan. Sementara itu, progres pengecoran pile cap sebagai struktur penyambung beban telah mencapai sekitar 30 persen. “Percepatan penyelesaian penanganan longsor sudah masuk tahap pengeboran dan pengecoran bore pile. Kami dorong agar progres tetap on track,” katanya.
Penanganan longsor KM 28 Batuah ini merupakan bagian dari Paket Preservasi Jalan dan Jembatan Balikpapan–Samboja–Loa Janan Tahun Anggaran 2026. Proyek tersebut diprioritaskan karena jalur ini menjadi nadi utama logistik dan mobilitas warga antarwilayah di Kalimantan Timur.
BBPJN Kaltim menargetkan konstruksi permanen di titik longsor tersebut rampung pada pertengahan Juni 2026. Selama proses pekerjaan berlangsung, pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan karena adanya aktivitas alat berat dan penyempitan lajur.
“Kami mengimbau pengguna jalan berhati-hati saat melintas karena masih dalam tahap konstruksi. Mohon bersabar demi keamanan dan kenyamanan jangka panjang,” tutup Bagus.
Perbaikan Jalan ke Kubar
Di sisi lain, BBPJN Kaltim juga mempercepat perbaikan ruas jalan Muara Muntai–Nayan–Blusuh di Kabupaten Kutai Barat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keselamatan pengendara menjelang Ramadan dan arus mudik Lebaran 2026.
PPK 1.7 BBPJN Kaltim, Novi Ari Nugroho, menyebut percepatan dilakukan sebagai respons atas laporan dan keluhan masyarakat. Perbaikan awal dilakukan dengan penutupan lubang menggunakan material agregat di sepanjang badan jalan.
Selain itu, rekonstruksi jalan sesuai Detailed Engineering Design (DED) sepanjang 4,20 kilometer di awal ruas Muara Muntai akan ditangani dengan rigid beton. Muara Muntai menjadi salah satu fokus perbaikan karena jalur ini berperan penting dalam distribusi logistik kawasan pedalaman.
“Melalui pekerjaan swakelola, kami tidak hanya memperbaiki badan jalan, tetapi juga melakukan pemotongan rumput di bahu jalan dan pembersihan drainase agar jarak pandang lebih luas serta mencegah genangan,” jelas Novi.
Ia juga menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap pembatasan muatan kendaraan, khususnya angkutan Over Dimension Over Load (ODOL), agar usia layanan jalan tetap terjaga. Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara merupakan wilayah yang terdampak langsung kelancaran konektivitas jalur ini.
BBPJN Kaltim memastikan monitoring akan dilakukan berkala hingga seluruh pekerjaan selesai, dengan harapan arus logistik dan mudik Lebaran 2026 di wilayah Kutai Barat berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Jangan Boros Anggaran
Respons positif disampaikan DPRD Provinsi Kalimantan Timur terhadap langkah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Kaltim yang mulai melakukan penanganan permanen di sejumlah titik kerusakan jalan kawasan Km 28 Desa Batuah, Kabupaten Kutai Kartanegara. Jalur utama penghubung Samarinda–Kukar–Balikpapan itu sebelumnya kerap dikeluhkan pengguna jalan karena kerusakan dan pergerakan tanah di beberapa segmen.
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh, menilai keputusan melakukan penanganan permanen sudah tepat karena diharapkan memberi dampak jangka panjang. Selain memperkuat struktur dasar jalan yang sempat mengalami longsoran, perbaikan ini juga diharapkan mampu menahan beban kendaraan logistik yang melintas setiap hari.
“Kami mengapresiasi respons cepat BBPJN. Kawasan Batuah memiliki kontur tanah yang cukup labil. Penanganan permanen dengan struktur lebih kuat memang sudah seharusnya dilakukan agar tidak terjadi kerusakan berulang yang memboroskan anggaran,” ujar Abdulloh, Rabu (18/2).
Berdasarkan hasil koordinasi dan pengawasan, DPRD Kaltim menitipkan sejumlah catatan kepada pelaksana proyek. Salah satunya memastikan saluran drainase di sisi jalan berfungsi optimal agar tidak terjadi genangan yang dapat merusak struktur badan jalan.
Selama proses pengerjaan, BBPJN juga diminta berkoordinasi ketat dengan kepolisian untuk pengaturan arus lalu lintas guna meminimalkan kemacetan di jalur padat tersebut. “Terlebih tanah di lokasi itu sebelumnya bergerak. Kami ingin drainase benar-benar dibenahi supaya tidak terjadi genangan di jalur yang diperbaiki. Pengaturan arus lalu lintas juga harus diperhatikan,” tegasnya.
DPRD berharap pengerjaan berjalan sesuai jadwal sehingga mobilitas warga dan arus logistik Kaltim kembali normal sebelum memasuki masa puncak arus mudik dan hari besar. Pihak legislatif menyatakan akan terus mengawal proyek melalui fungsi pengawasan.
Penanganan permanen di Batuah dinilai strategis karena jalur tersebut merupakan urat nadi ekonomi daerah sekaligus penopang konektivitas menuju kawasan Ibu Kota Nusantara. “Kualitas material dan teknis pengerjaan harus diawasi secara ketat,” tandas Abdulloh.












