Bank Indonesia Optimalkan Insentif untuk Mendorong Penurunan Suku Bunga Kredit
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan mengoptimalkan insentif bagi bank-bank yang konsisten dalam menurunkan suku bunga kredit. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memperkuat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa transmisi dari kebijakan suku bunga kredit baru-baru ini mulai dioptimalkan dengan menggunakan KLM (kebijakan insentif likuiditas makroprudensial).
“Kami mencoba mengoptimalkan bagaimana kami menggunakan KLM untuk memengaruhi interest rate channel-nya,” ujarnya.
Destry menjelaskan bahwa insentif KLM terdiri dari dua saluran utama, yaitu lending channel dan interest rate channel. Pada minggu pertama Februari 2026, implementasi KLM mencapai Rp 427,5 triliun, dengan alokasi sebesar Rp 357,9 triliun untuk lending channel dan Rp 69,6 triliun untuk interest rate channel.
Distribusi Insentif Berdasarkan Kelompok Bank
Insentif KLM telah disalurkan kepada berbagai kelompok bank, termasuk:
- Bank BUMN: Rp 207,1 triliun
- Bank Umum Swasta Nasional (BUSN): Rp 184,8 triliun
- Bank Pemerintah Daerah (BPD): Rp 28,5 triliun
- Koperasi Simpan Pinjam (KCBA): Rp 7,1 triliun
Secara sektoral, KLM telah diberikan kepada sektor-sektor prioritas seperti:
- Sektor pertanian, industri, dan hilirisasi
- Sektor jasa, termasuk ekonomi kreatif
- Sektor konstruksi, real estate, dan perumahan
- Sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan
Perkembangan Suku Bunga Kredit
Destry menambahkan bahwa insentif sebesar Rp 69,6 triliun di interest rate channel memberikan dampak nyata, terlihat dari penurunan suku bunga kredit. BI mencatat bahwa transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut. Suku bunga kredit eksisting turun sebesar 40 basis poin (bps), dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.
Namun, transmisi tersebut masih terbatas. “Suku bunga kredit yang eksisting memang turun sekitar 40 bps, tapi kalau kita lihat yang baru, turunnya sudah mencapai 75 bps dibandingkan dengan BI Rate yang sejak 2025 turun 125 bps,” jelasnya.
Potensi Ruang untuk Insentif Lebih Lanjut
Saat ini, KLM yang sudah digunakan mencapai 4,83 persen dari dana pihak ketiga (DPK). Dengan batas maksimal insentif dari skema giro wajib minimum (GWM) sebesar 5,5 persen, masih tersisa ruang sekitar 0,7 persen untuk dimanfaatkan.
BI juga mendorong perbankan untuk terus menyalurkan kredit kepada sektor-sektor prioritas seperti sektor padat karya, hilirisasi, dan perumahan, serta mempercepat penurunan lending rate.
Prospek Ekonomi yang Positif
Destry menuturkan bahwa prospek ekonomi ke depan diperkirakan positif. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan lebih tinggi dibandingkan 2025. Hal ini didorong oleh meningkatnya harga komoditas, termasuk mineral, serta kinerja perusahaan yang tumbuh positif.
“Ini akan mendorong sisi demand kredit. Sementara dari sisi supply, likuiditas perbankan masih ample, dengan undisbursed loan sekitar Rp 2.500 triliun yang menunggu untuk disalurkan saat permintaan muncul,” tutupnya.
Penerapan KLM yang Lebih Kuat
Mulai 1 Desember 2025, BI memperkuat KLM berbasis kinerja dan berorientasi ke depan melalui insentif kepada bank atas komitmennya dalam menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada sektor tertentu (lending channel) dan menetapkan suku bunga kredit atau pembiayaan yang sejalan dengan arah kebijakan suku bunga BI (interest rate channel).
Penyaluran kredit atau pembiayaan kepada sektor tertentu mencakup:
- Pertanian, industri, dan hilirisasi
- Jasa, termasuk sektor kreatif
- Konstruksi, real estate, dan perumahan
- UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan
Insentif KLM yang dapat diterima bank terdiri atas:
- Insentif lending channel hingga 5 persen dari DPK
- Insentif interest rate channel hingga 0,5 persen dari DPK
Total insentif maksimum yang diterima adalah 5,5 persen dari DPK. Besaran insentif pada lending channel juga memperhitungkan faktor penyesuaian atas realisasi pertumbuhan kredit atau pembiayaan dibandingkan dengan komitmen pertumbuhan periode sebelumnya.
Pengukuran insentif suku bunga kredit atau pembiayaan (interest rate channel) didasarkan pada tingkat kecepatan perbankan dalam menyesuaikan suku bunga kredit atau pembiayaan baru terhadap suku bunga kebijakan BI.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












