Kekacauan di Kota Jambi: Aksi Begal yang Membuat Warga Khawatir
Di tengah keheningan malam, warga Kota Jambi kembali dikejutkan oleh aksi begal yang menimbulkan rasa takut dan cemas. Kejadian tersebut terjadi di Kebun Handil pada pukul 00.15 WIB, saat seorang warga sedang berada di luar rumahnya untuk membeli kerupuk sahur. Dalam perjalanan pulang dari Simpang Kawat, ia tiba-tiba menyaksikan aksi sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah 15 orang dengan senjata tajam.
Detik-Detik Menegangkan
Dalam rekaman video yang beredar, saksi mata menceritakan bagaimana kelompok begal tersebut mengepung empat orang warga lainnya. Mereka menggunakan sekitar 6 hingga 7 unit sepeda motor untuk melakukan aksinya. Saksi mengungkapkan bahwa korban-korban itu akhirnya mendekati dirinya karena ketakutan.
“Jam 12 malam saya baru pulang dari Simpang Kawat, ada begal sekitar 15 orang. Mereka menyerang empat orang. Alhamdulillah, keempat orang itu mendekati saya karena ketakutan,” ujar saksi dalam video tersebut.
Aksi ini membuat warga semakin waspada, terutama bagi mereka yang sering bepergian di malam hari. Saksi juga menekankan bahwa kelompok begal tersebut tidak segan-segan membawa senjata tajam untuk mengintimidasi korban.
Desakan untuk Peningkatan Patroli
Melihat situasi yang kian memprihatinkan, saksi meminta kepada pihak kepolisian untuk meningkatkan patroli di titik-titik rawan di Kota Jambi. Ia menegaskan bahwa kehadiran aparat di lapangan dapat memberikan rasa aman bagi warga.
“Saya mohon kalau jam 11 malam atau jam 12 tolong keliling untuk Kota Jambi. Hati-hati, mereka membawa senjata tajam. Sekitar 10 atau 15 orang mengendarai 6 atau 7 motor,” ujarnya dengan nada cemas.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap adanya langkah preventif cepat dari aparat keamanan guna mencegah jatuhnya korban jiwa akibat aksi kriminalitas jalanan yang kian nekat.
Guru SD di Batang Hari Jadi Korban Begal
Tidak hanya kejadian di Kota Jambi, kasus pembegalan juga terjadi di Kabupaten Batang Hari. Seorang guru SD di Desa Lubuk Ruso menjadi korban pembegalan saat sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Peristiwa ini terjadi saat korban menaiki mobil travel gelap dari Desa Lubuk Ruso menuju Muara Bulian.
Korban diketahui mengajar di SD Negeri 42/1 Lubuk Ruso, Kecamatan Pemayung. Akibat insiden tersebut, korban mengalami trauma psikologis yang cukup berat. Rekaman video yang memperlihatkan korban mengenakan seragam pegawai negeri sipil (PNS) sambil menangis histeris sempat viral di media sosial.
Kasi Humas Polres Batang Hari, Iptu Simbang Tetap, membenarkan adanya kejadian pembegalan tersebut. Ia menyebut korban merupakan seorang guru perempuan yang mengajar di Desa Lubuk Ruso, Kecamatan Pemayung.
“Memang telah terjadi kejadian pembegalan terhadap seorang ibu guru dari Desa Lubuk Ruso, Kecamatan Pemayung, yang ingin pulang ke rumahnya menuju Kecamatan Muara Bulian,” katanya.
Penyelidikan Terus Dilakukan
Kepolisian telah melakukan sejumlah upaya untuk mengungkap kasus ini, mulai dari mendatangi lokasi kejadian, memeriksa saksi-saksi, hingga menemui korban guna menggali keterangan. “Langkah kita dari pihak kepolisian adalah mendatangi TKP, memanggil saksi-saksi untuk dimintai keterangan, dan jemput bola menemui korban,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada ketika menggunakan jasa travel, khususnya kendaraan yang tidak dikenal atau dinilai mencurigakan. “Himbauan kami kepada masyarakat, apabila ingin naik travel agar lebih berhati-hati. Jika tidak mengenali dan mencurigakan, maka sebaiknya jangan naik travel tersebut,” tegasnya.
Kritik atas Pengawasan yang Lemah
Dosen Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Muhammad Aiman, menilai peristiwa ini mencerminkan kegagalan negara akibat lemahnya pengawasan yang berlangsung dalam waktu lama. Menurutnya, maraknya travel gelap di Provinsi Jambi bukan sekadar persoalan perizinan transportasi, melainkan sudah berkembang menjadi ancaman serius terhadap keselamatan dan keamanan masyarakat.
Ia menilai Dinas Perhubungan (Dishub) gagal melakukan penertiban terhadap pangkalan travel ilegal yang beroperasi di luar terminal resmi dan justru menjadi tempat aman bagi travel gelap. “Dishub gagal membersihkan pool-pool ilegal. Ini bukan kejadian baru, tapi dibiarkan terus-menerus,” kata Aiman.
Lebih lanjut, Aiman menilai kegagalan paling mendasar adalah belum adanya sistem integrasi data digital untuk memantau kendaraan berpelat hitam yang secara rutin beroperasi secara komersial. “Tanpa sistem monitoring terpadu, negara tidak punya taji. Kendaraan ilegal ini bebas keluar-masuk, sementara negara seolah tidak hadir,” ujarnya.
Aiman mendesak Pemerintah Provinsi Jambi dan Polda Jambi untuk mengubah sudut pandang dalam menangani persoalan travel gelap. “Travel gelap harus dilihat sebagai ancaman keamanan wilayah (security threat). Perlu instruksi khusus gubernur dan operasi keamanan gabungan. Penanganannya harus total, bukan setengah-setengah,” pungkasnya.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”










