Jalan Matraman Raya yang Penuh Lubang dan Risiko
Aspal hitam yang terlihat seperti sajadah yang tergelar acak tampak di Jalan Raya Matraman, Jakarta Timur. Warna yang lebih gelap dari aspal baru tersebut kontras dengan bentangan jalan lama yang menjadi penghubung antara Salemba, Matraman, dan Kampung Melayu. Tambalan aspal ini merupakan upaya perbaikan untuk menutupi lubang-lubang yang sudah menganga cukup lama, sebagaimana dikeluhkan oleh warga setempat.
Sebelumnya, keberadaan lubang di Jalan Matraman Raya telah menyebabkan korban jiwa. Seorang pelajar berinisial ASP (16) tewas usai terjatuh dari motornya karena menghantam lubang pada Senin (9/2/2026), saat berangkat sekolah sekitar pukul 06.00 WIB. Kejadian tersebut menjadi peringatan keras bagi masyarakat sekitar.
Menghitung Tambalan
Tribunnews.com melakukan kunjungan ke jalan raya tersebut pada Jumat (20/2/2026) siang, setelah hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada pagi hari. Terlihat beberapa ruas jalan tidak rata, khususnya di area yang telah ditambal. Contohnya, di jalan menuju Pasar Jatinegara, jalan di dekat halte Transjakarta tampak berlubang di beberapa bagian. Lubang tersebut juga tergenang air, memperparah kondisi jalan yang sudah rusak.
Beberapa pengendara sepeda motor melintas dengan kecepatan lambat, sementara beberapa lainnya mencoba menghindari lubang dengan membelokkan stang motor. Tercatat sekitar tiga lubang di jalan dekat halte Transjakarta tersebut. “Lumayan juga lubangnya. Kemarin-kemarin sih sudah (ditambal). Tapi ya begini lagi,” ujar salah satu pengendara, Ikhsan (35), yang berada tak jauh dari lokasi.
Sementara itu, di arah Jalan Salemba Raya, terlihat banyak tambalan aspal. Di dekat Toko Buku Gramedia, terdapat sekitar 5 hingga 6 tambalan. Warna hitam dari tambalan tersebut cenderung lebih gelap dibandingkan jalan yang belum ditambal. Menurut seorang juru parkir liar, penambalan dilakukan sekitar seminggu lalu. “Bulan lalu mah lubangnya banyak di sini, apalagi di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk ke arah lampu merah Matraman.
Di salah satu jembatan penyeberangan orang (JPO), terpampang spanduk bertuliskan: Hati-Hati, Musim Hujan Rawan Jalan Berlubang, Kurangi Kecepatan. Saat ditanya tentang kapan spanduk tersebut dipasang, juru parkir tersebut tidak tahu pasti. “Kayaknya sudah dua minggu ini. Kurang paham,” jawabnya.
Sering Makan Korban
Menurut warga sekitar, sebelum kecelakaan yang menewaskan ASP, banyak pengendara motor menjadi korban akibat lubang di jalan. Banyak dari mereka terjatuh dari kendaraannya atau kehilangan kendali karena jalan yang bergelombang. “Waktu pas musim hujan kan lubangnya lebih parah, nah itu sehari bisa ada dua orang bawa motor yang jatuh karena lubang,” kata Roni, warga setempat di Jakarta Timur, Senin (9/2/2026).
Titik-titik lubang yang membahayakan tidak hanya berada di satu lokasi, melainkan tersebar sepanjang Jalan Matraman Raya dari arah Kampung Melayu menuju Senen. Menurut Sudin Bina Marga Jakarta Timur, jalan tersebut telah beberapa kali diperbaiki dengan menambal lubang dan jalan yang bergelombang. Namun, karena tingginya curah hujan, jalan kembali rusak.
“Itu yang tempat tadi pagi anak sekolah jatuh juga sebelumnya pernah ditambal, tapi ya rusak, terus ditambal, dan rusak lagi. Pokoknya berulang saja waktu hujan deras beberapa waktu lalu,” ujar Sudin Bina Marga.
Setelah kecelakaan yang menewaskan ASP, jajaran Sudin Bina Marga Jakarta Timur kembali menambal titik jalan yang rusak dan bergelombang. Selain itu, mereka juga memberikan tanda pylox putih di sekitar area jalan rusak sebagai tanda agar lokasi tersebut dapat diperbaiki secara utuh.
Kini, warga hanya bisa berharap perbaikan jalan dilakukan secara maksimal dengan menggunakan material yang lebih kuat, agar tidak ada lagi kasus kecelakaan serupa. “Ya mudah-mudahan sih enggak ada korban. Mungkin ditambal pakai aspal yang bagus, jadi bisa lebih awet dan enggak gampang rusak kalau pas musim hujan,” harap Roni.












