Kejadian Serangan Harimau Sumatera di Kabupaten Pelalawan
Dalam satu tahun terakhir, tercatat empat kejadian serangan harimau sumatera terhadap manusia di wilayah Kabupaten Pelalawan, Riau. Dari keempat peristiwa tersebut, dua orang korban meninggal dunia dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sementara itu, dua orang lainnya selamat, namun mengalami luka parah.
Korban pertama adalah seorang pekerja HTI di Kecamatan Teluk Meranti dan Kecamatan Pelalawan. Sedangkan korban keempat adalah seorang warga yang berprofesi sebagai pencari kayu crocok. Berikut penjelasan detail dari setiap kejadian:
Kasus Pertama: Pekerja HTI Tewas Diterkam Harimau
Pada Kamis 13 Maret 2025 malam, seorang pekerja HTI bernama Yafao Zebua (50) tewas setelah diterkam harimau sumatera. Ia diserang oleh satwa liar tersebut di areal hutan dekat konsesi perusahaan HTI di TPK 16 Estate Pelalawan, Kecamatan Pelalawan. Korban mengalami luka di kepala, badan, dan kaki akibat serangan binatang buas tersebut.
Pada sore hari, korban bersama tiga temannya telah selesai bekerja di areal HTI TPK 16 Estate Pelalawan. Mereka dijemput menggunakan ketinting atau speedboat khusus yang beroperasi di daerah kanal perusahaan. Sekitar pukul 7 malam lewat, mereka naik ke atas ketinting untuk kembali ke camp tempat tinggal pekerja. Sebelum ketinting berjalan, korban meminta izin untuk buang air kecil dan kembali ke darat. Di sekitar lokasi ketinting ditambatkan, ia disantap oleh Si Belang hingga jenazahnya cukup mengenaskan.
Kasus Kedua: Pekerja HTI Tewas Akibat Serangan Harimau
Pada Selasa 24 Juni 2025 malam, seorang pekerja HTI di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, meninggal dunia setelah diterkam harimau sumatera. Korban bernama Hadito (23), yang lahir di Dungun Condong, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Hadito merupakan karyawan subkontraktor di areal konsesi HTI perusahaan bergerak di bidang kayu akasia di Desa Pulau Muda, Teluk Meranti.
Sebelum kejadian, korban pergi buang air ke belakang camp. Di situlah terjadi serangan harimau sekitar jam 19.30 WIB di areal tanaman akasia petak MRWA088601 Distrik Merawang, Teluk Meranti. Kondisi korban cukup mengenaskan saat ditemukan oleh pekerja lainnya. Luka bekas cakaran dan gigit si belang di bagian punggung, bahu, dan leher.
Kasus Ketiga: Pekerja Mengalami Luka Parah
Pada Jumat 1 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB, seorang pekerja bernama Abdul Susanto (40) mengalami luka parah akibat serangan harimau sumatera di Distrik Merawang PT Arara Abadi, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan. Korban adalah pekerja dari PT Theo Charles Ertilizer yang bertugas merawat tanaman akasia.
Saat itu, Abdul Susanto sedang menyemprot gulma di area Petak 178 Kanal 9, tiba-tiba ia diserang oleh binatang bernama latin Panthera tigris sumatrae. Nyawa korban masih bisa diselamatkan meskipun menderita luka cukup serius di bagian kepalanya.
Setelah itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau berhasil menangkap seekor harimau sumatera di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan pada Senin 11 Agustus 2025 sore. Si Belang masuk ke dalam boxtrap atau kandang jebak yang dipasang tim BBKSDA Riau, tidak jauh dari lokasi serangan yang dialami seorang pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) akasia pada 1 Agustus lalu. Binatang buas itu tertangkap dengan umpan seekor kambing yang ditempatkan di dalam kandang jebak.
Kasus Keempat: Warga Kuala Kampar Diserang Harimau
Pada Rabu (24/2/2026) malam lalu, seorang warga Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau diserang harimau sumatera di dermaga PT Satria Perkasa Agung (SPA) Desa Serapung pada Rabu (25/2/2026) malam lalu. Korban bernama Kohai yang tinggal di Desa Teluk, Kuala Kampar. Pria berusia 32 tahun itu diterkam harimau sumatera sekitar jam 23.30 WIB. Ia menderita luka yang cukup parah di kepala dan leher, bagian belakang. Namun nyawanya masih bisa diselamatkan.
Korban Kohai menderita cukup banyak luka di bagian kepala belakang, leher, dan telinga. Bahkan daun telinga sebelah kiri nyaris habis atau putus. Diduga akibat gigitan dan cakaran harimau sumatera yang menerkamnya di dermaga PT SPA distrik Serapung.
Tim medis memberikan pertolongan dengan membersihkan luka yang diderita pencari kayu crocok itu. Perawatan menjahit setiap luka yang menganga, untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Kapolsek Kuala Kampar, AKP Rian Onel SH MH membenarkan warga yang diserang harimau sumatera. Peristiwa itu berlangsung di Dermaga PT SPA Distrik Serapung. Beruntung nyawa korban masih selamat, namun menderita luka parah di kepala.
Korban Kohai diterkam harimau ketika ia bersama 5 orang temannya bernama Wiwik, Rudi, Sugianto, Nazar, dan Tirta menaiki kapal kayu bermotor atau pompong di wilayah perairan Desa Serapung, Kuala Kampar. Mereka hendak mencairkan kayu crocok ke hutan Desa Serapung. Namun mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kondisi air laut dalam keadaan surut. Alhasil mereka memutuskan untuk menyandarkan kapal pompong di Dermaga PT SPA Distrik Serapung sekitar pukul 20.00 WIB sambil menunggu air kembali pasang dan bisa melanjutkan perjalanan.
Secara tiba-tiba seekor harimau sumatera datang dari arah daratan dan langsung menerkam korban. Satwa Liar yang ganas itu berusaha memangsa korban dengan menggigit di bagian kepala belakang. Binatang bernama latin Panthera tigris sumatrae itu keluar dari semak-semak yang ada di sekitar dermaga PT SPA.
Rekan kerja korban bernama Wiwik melihat jelas serangan Si Belang kepada korban di atas pompong. Saksi berteriak minta tolong dan harimau ganas itu pergi ke area semak-semak dan meninggalkan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pihak sekuriti di Pos Dermaga PT SPA datang ke TKP untuk mengevakuasi korban serta mengamankan situasi di lapangan.
Setelah korban mendapatkan penanganan medis awal, tim medis perusahaan merujuk korban ke Puskesmas Kuala Kampar untuk penanganan lebih lanjut. Pada Kamis (26/2/2026) subuh, korban tiba di Puskesmas Kuala Kampar dan diberikan pengobatan tim medis. Setelah pagi hari, korban dirujuk kembali ke rumah sakit di Kota Batam. Agar penanganan lebih intensif. Ia dibawa menggunakan kapal pagi.
Polsek Kuala Kampar dan PT SPA telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau terkait serangan harimau tersebut.










