Kerusuhan Suporter dalam Pertandingan Persijap Jepara vs Persis Solo
Pertandingan antara Persijap Jepara dan Persis Solo di Stadion Gelora Bumi Kartini, Kamis (5/3/2026), berakhir dengan skor imbang 0-0. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah kericuhan yang terjadi antar suporter di dalam maupun luar stadion. Insiden ini menimbulkan kerusakan pada fasilitas umum serta kendaraan milik para pendukung.
Pemicu Kericuhan
Kericuhan dimulai dari ejekan dan lemparan benda di tribun, yang kemudian memicu bentrokan antarpendukung di luar stadion selama sekitar 30 menit. Di dalam stadion, suasana tegang terasa sejak babak pertama. Suporter di tribun barat terdengar melontarkan nyanyian dan kalimat provokatif selama pertandingan berlangsung. Situasi semakin memanas ketika pagar pembatas antara tribun suporter Solo dan VIP nyaris roboh.
Meski petugas keamanan berhasil meredam situasi sebelum akhir babak pertama, ketegangan kembali muncul pada menit ke-70. Di sudut tribun barat sisi selatan, suporter mulai saling melempar benda seperti botol minuman dan petasan. Kericuhan sempat reda setelah pertandingan usai, tetapi kembali memanas saat suporter tuan rumah ingin menyanyikan lagu kebanggaan Laskar Kalinyamat.
Dampak Kericuhan
Bentrokan antarpendukung berlangsung hingga pintu keluar stadion sisi barat. Aksi saling lempar batu, kayu, dan botol minuman terjadi selama sekitar 30 menit. Akibatnya, beberapa fasilitas stadion mengalami kerusakan. Selain itu, pemain dan official Persis Solo tertahan di dalam stadion selama lima jam karena kondisi di luar belum aman.
Direktur PT Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, mengatakan bahwa tim harus tetap berada di dalam stadion sampai situasi kondusif. Ia menjelaskan bahwa kondisi baru benar-benar aman sekitar pukul 03.30 dini hari. Para pemain dan official akhirnya bisa kembali ke hotel setelah itu.
Penjelasan dari Exco PSSI
Menanggapi insiden tersebut, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyampaikan rasa kecewa atas masih terjadinya aksi kekerasan antarpendukung. Menurutnya, para suporter seharusnya belajar dari tragedi yang pernah terjadi di sepak bola Indonesia, termasuk tragedi Kanjuruhan.
“Kadang para suporter seakan lupa dengan tragedi seperti Kanjuruhan dan kejadian-kejadian lainnya. Padahal kami sudah menetapkan larangan suporter tandang, tetapi masih saja dilanggar,” ujar Arya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan larangan suporter tandang dibuat demi keselamatan semua pihak. “Ini menyangkut nyawa. Kita ingin para suporter ingat bahwa ketika masuk stadion dengan aman, harus keluar juga dengan aman. Tidak perlu ada korban lagi.”
Pembahasan Serius tentang Pengamanan Kompetisi
Arya juga menjelaskan bahwa PSSI sedang melakukan pembahasan serius terkait peningkatan pengamanan kompetisi. Fase akhir musim ini dinilai sangat rawan karena persaingan menuju gelar juara maupun posisi aman dari zona degradasi semakin ketat.
“Kami melihat kompetisi sudah memasuki fase akhir musim yang rawan. Persaingan juara sangat ketat, begitu juga persaingan di zona degradasi. Karena itu perlu perhatian khusus,” tambahnya.
Tindakan Manajemen Persis Solo
Setelah situasi dinyatakan aman, rombongan Persis Solo akhirnya meninggalkan stadion dan kembali ke hotel. Manajemen Persis Solo juga berencana menggelar pertemuan untuk membahas insiden yang terjadi. Mereka akan menunggu keputusan dari operator Liga terkait tindakan yang akan diambil.
“Kita nunggu operator ya hari ini kita juga ngumpul di kantor terkait pertandingan semalam baik secara tim maupun secara penonton yang cukup banyak insiden yang terjadi di situ ya mungkin kita akan bertanya juga dan juga menunggu keputusan dari I league seperti apa,” ujar Ginda.












