Warga Banyuwangi Mulai Ajukan Sanggah Pasca Pengumuman Digitalisasi Bansos
Warga Banyuwangi kini mulai mengajukan proses sanggah setelah diumumkan hasil seleksi program Digitalisasi Bansos atau Perlindungan Sosial (perlinsos). Proses ini dilakukan oleh warga yang merasa tidak layak dinyatakan sebagai penerima bansos. Alasan yang diajukan beragam, mulai dari desil tinggi karena kepemilikan kendaraan roda empat, daya listrik PLN yang di atas 900 watt, hingga kepemilikan sertifikat tanah lebih dari satu.
Salah satu contoh kasus yang terjadi adalah Endang Kartika, warga Desa Olehsari, Kecamatan Licin Banyuwangi. Dia mengaku kaget saat dirinya dinyatakan “Tidak Layak” sebagai penerima bansos. Dari data yang dimiliki pemerintah, Endang tercatat memiliki kendaraan roda empat dan perahu, padahal suami dia hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Endang langsung melakukan proses sanggah untuk menyampaikan kondisi sebenarnya.
Digitalisasi Bansos telah memasuki tahapan Masa Sanggah usai diumumkan hasilnya. Warga yang dinyatakan Tidak Layak sebagai penerima bansos diberikan kesempatan untuk melakukan sanggah. Endang menerima hasil pengumuman bansos dari petugas desa yang juga bertindak sebagai agen perlinsos. Menurut informasi tersebut, Endang dinyatakan Tidak Layak karena memiliki kendaraan roda empat, perahu, dan kapal motor.
“Tidak mungkin saya memiliki kendaraan itu. Suami saya kerjanya serabutan, kuli bangunan. Saya sendiri hanya di rumah, ngurus dua anak. Rumah yang saya tempati juga statusnya masih rumah keluarga, punyanya hanya satu sepeda motor,” ujar Endang.
Agen tersebut membantu Endang dalam proses sanggah dengan mengisi form data-data seperti kondisi rumah, pekerjaan suami, dan kendaraan yang sebenarnya dimiliki. Endang mengaku beberapa waktu lalu sempat dipinjam KTP oleh kerabatnya untuk keperluan kredit kendaraan bermotor.
Rahmat Danu Andika, Ketua Gugus Tugas Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah (KPTPD) menjelaskan bahwa digitalisasi bansos memberi ruang kepada seluruh warga untuk melakukan proses sanggah jika alasan yang tertera di pengumuman tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
“Kasus Bu Endang yang kalau dilihat memang seharusnya layak sebagai penerima bansos, juga daya PLN 450 watt. Jadi negara memberikan kesempatan untuk menyanggah dan memberikan feedback ke pemerintah kondisi sebenarnya warga tersebut,” kata Andika.
Data dari proses sanggah tersebut selanjutnya akan diverifikasi lintas kementerian dan instansi, termasuk BPS untuk kemudian dicek validasinya. Warga yang benar-benar kondisinya sesuai dengan laporan sanggah akan diproses menjadi Layak Penerima bansos.
Menurut Andika, mekanisme sanggah ini secara tidak langsung mengajarkan warga untuk lebih berhati-hati terhadap penggunaan data adminduk oleh pihak lain. Seperti KTP yang dipinjamkan ke orang lain untuk kebutuhan tertentu.
“Hal ini membuat mereka yang seharusnya berhak mendapat bansos, akhirnya dinilai tidak layak mendapatkan bansos. Yang rugi kan ya warga sendiri,” jelas Andika.
Cerita lain datang dari Ibu Adiyah, yang mengaku sudah lama tidak mendapatkan bansos. Namun dengan program baru ini, dia dinyatakan sebagai Layak penerima bansos.
“Saya tinggal sendirian di rumah ini, pekerjaannya tukang mengikat sayur. Kalau mau lebaran bikin pesanan kue tetangga. Alhamdulillah, sekarang dinyatakan layak, semoga layak dapat bansos,” kata Adiyah yang tinggal seorang diri di rumahnya.
Warga Banyuwangi yang telah melakukan pendaftaran bansos telah menerima hasil seleksinya sejak 2 Maret 2026 lalu. Pengumuman tersebut berisi Layak atau Tidak Layak sebagai penerima bansos, beserta alasannya.
Pengumuman bansos dapat dilihat di portal perlinsos
https://perlinsos.kemensos.go.id/
melalui IKD. Bisa juga langsung datang ke kantor desa/kelurahan atau agen perlinsos yang telah melakukan pendaftaran ke warga.
Bagi warga yang tidak puas dengan hasil pengumuman karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan, bisa memanfaatkan fasilitas Sanggah.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












